Domba,kenapa domba? Dari sekian banyak binatang yang disebutkan di alkitab; kambing, ular, unta, kuda, domba, dll. Domba memiliki tempat yang special; Yesus disebut Anak Domba Allah. Hal ini bukan tanpa alasan, ada satu cerita menarik kenapa domba menjadi begitu special.
Pada waktu lampau jauh sebelum Abraham, di suatu daerah berdiri sebuah kerajaan. Raja memerintah dengan sangat baik. Rakyatnya makmur dan bahagia. Setiap hari raja dan rakyat berkumpul dan pesta bersama. Sungguh suatu kerajaan indah tanpa dukacita.
Raja mempunyai putra, pangeran ini penuh dengan rasa ingin tahu. Dia berpikir adakah yg lebih baik dari yang selama ini dia rasakan? Adakah sesuatu yang lebih indah dari kerajaannya? Pangeran ini makin hari rasa ingin tahunya semakin besar, hingga suatu hari dia memutuskan untuk mencari jawaban atas ingin tahunya itu. Dia mengutarakan keinginannya kepada ayahnya, dia tetap tidak percaya ketika ayahnya berkata Kerajaan inilah yang terbaik. Karena sang Raja sangat sayang kepada putranya ini, maka diijinkanlah dia untuk pergi mencari jawaban atas pertanyaannya. Dibekalinya sang anak dengan uang yang berlimpah, dan apapun yang ingin dibawa oleh anaknya. Kepergian sang pangeran ini membuat sedih sang Raja dan seluruh rakyat, tetapi apa boleh buat sang pangeran tetap pada keyakinannya untuk pergi mencari hal yang lebih baik.
Sang Pangeran akhirnya pergi meninggalkan kerajaannya, dia pergi ke kota sebelah. Di sana dia melihat keadaan yang hampir sama dengan kerajaannya. Rakyat di sana juga bahagia dan makmur, tetapi dia merasa ada yang kurang. Rakyat di sana tidak tahu siapa raja mereka, dan bagaimana rupanya. Mereka tidak mengenal raja mereka sendiri. Pangeran merasa kerajaannya masih lebih baik dan diapun kembali meneruskan perjalanannya.
Semakin jauh dia meninggalkan kerajaannya, hal yang dilihat adalah semakin buruk. Orang-orang semakin murung, malas, dan tidak ada gairah hidup. Dalam hatinya dia mulai merasa bahwa perkataan ayahnya adalah benar. Akhirnya sampailah dia di sebuah kota yang sepi. Penduduknya semua bermuka muram dan penuh rasa curiga. Dia mulai merasa putus asa dan ingin segera kembali ke kerajaannya. Dia merasa perjalanannya sebulan ini sia-sia saja. Dalam keletihannya dia menemukan sebuah penginapan dan memutuskan untuk tinggal di sana sehari dan kembali ke kerajaannya esok hari.
Di dalam penginapan itu, dia bertemu dengan seseorang yang terlihat sangat gembira. Sangat mencolok sekali dibandingkan kebanyakan orang yang ada di kota itu. Pangeran merasa keheranan, bagaimana dia terlihat begitu gembira dalam semua kemurungan yang ada di kota ini? Dia mulai mendekati pemuda itu dan berbincang-bincang dengannya. Mereka mulai saling menceritakan diri mereka masing-masing dan mengapa ada di kota ini. Pangeran juga menceritakan tujuan dari perjalanannya selama ini untuk mencari sesuatu yang lebih dari yang ada di kerajaannya, tetapi sampai saat ini belum juga menemukannya dan akan kembali ke kerajaannya esok hari. Pemuda itu ternyata berasal dari arah yang berlawanan dari kerajaan sang Pangeran. Dia menceritakan bahwa di tempatnya semua orang merasa gembira dan tidak ada kesedihan, itulah mengapa dia terlihat selalu tampak gembira. Dan kepergian pemuda itu untuk mencari teman baru dan mengajak orang untuk tinggal di kotanya.
Pangeran tertarik dengan cerita pemuda itu tentang kotanya, dia merasa tempat itulah yang selama ini ia cari. Dia merasa sangat beruntung di saat dia sudah mulai putus asa dan ingin kembali, ada pemuda itu yang memberikan secercah harapan atas pencariannya selama ini. Pangeran itu menyatakan keinginnannya untuk melihat kota pemuda itu. Dan tentu saja pemuda itu menyanggupinya. Keesokan harinya mereka mulai perjalanannya menuju kota pemuda itu.
Perjalanan ke kota pemuda itu tidaklah dekat, dan semakin mereka mendekati kota pemuda itu, keadaan sekitar mereka bukan membaik, tetapi bertambah buruk. Tanah semakin tandus, bahkan rumput dan ilalang pun tidak terlihat. Pangeran semakin heran dengan keadaan sekitarnya, berulangkali dia bertanya kepada pemuda itu apakah mereka tidak salah jalan dan tersesat? Tetapi pemuda itu menyakinkan pangeran bahwa jalan yang mereka tempuh adalah jalan terdekat menuju ke kotanya. Setelah 1 minggu perjalanan sampailah mereka ke kota pemuda itu. Ternyata benar apa yang dikatakan pemuda itu, penduduk di sana semua berwajah riang, semua terlihat gembira dan menikmati hidup mereka, seakan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Pangeran merasa tempat inilah yang selama ini dicari. Karena sudah lama tidak melihat kerajaannya dan hanya melihat pemandangan yang menyedihkan, pangeran merasa kota ini jauh lebih baik dari yang ada di kerajaannya, semua orang terlihat lebih gembira dari kerajaannya.
Pangeran memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi di kota ini, dan meminta pemuda itu untuk membantunya. Pemuda itu dengan senang hati membantu pangeran itu, mencarikan rumah yang terbaik, dan semua barang kebutuhan yang terbaik untuk pangeran itu. Semua orang di kota itu dengan senang hati membantu pangeran itu dari mengenal apa yang ada di kota itu sampai kebutuhan sehari-harinya. Tiap hari di kota itu diadakan pesta dari pesta menyambut pagi, pesta untuk mandi, pesta untuk duduk, bahkan semua kegiatan sekecil apapun diadakan pesta untuk itu. Pangeran merasa tempat ini benar-benar tempat yang paling membahagiakan. Tiap dia merasa kesulitan atau dalam masalah sekecil apapun semua orang di kota ini dengan senang hati membantunya. Segala yang ada di kota itu sangatlah murah, dan penduduk di kota itu sangat murah hati, semua itu membuat pangeran merasa betah di tempat itu dan ingin memutuskan untuk tinggal selamanya di kota itu. Dia mencari pemuda yang membawanya ke kota ini untuk membicarakan cara supaya ia dapat tinggal selamanya di tempat ini.
Saat bertemu, sebelum pangeran menyatakan maksudnya untuk tinggal selamanya, pemuda itu mengatakan bahwa ijin pangeran untuk tinggal di kota ini sudah habis dan harus segera pergi dari kota. Setelah pangeran memberitahu bahwa dia ingin sekali untuk tinggal selamanya di kota, pemuda itu mengatakan bahwa untuk tinggal selamanya di tempat itu sangatlah mudah, yaitu dengan membuat surat bahwa dia tidak mengakui tempat dimana dia dulu tinggal dan seluruh orang yang ditemuinya sebelum sampai di kota ini. Dalam kasus pangeran ini berarti dia harus tidak mengakui kerajaannya, menyangkal ayahnya yang sangat menyayanginya dan melupakan semua rakyat di kerajaannya yang sangat mencintainya. Sebelum pangeran sempat bertanya lagi, pemuda itu mengatakan bahwa dia sudah membantu pangeran untuk masalah ini. Sejak pangeran tiba di kota ini, dia sudah membuat surat kepada ayahnya bahwa pangeran sangat senang tinggal di kota ini dan berencana untuk tinggal selamanya dan supaya Raja melupakan anaknya ini. Pemuda itu juga mengatakan bahwa setelah surat itu dikirim tidak ada sama sekali surat balasan dari Raja yang menyuruh pangeran segera pulang ataupun utusan untuk menjemput sang pangeran.
Perkataan pemuda itu membuat pangeran merasa sedih, dia merasa ayahnya sudah melupakan dia dan merelakan kepergiannya. Dalam hatinya dia merasa rindu untuk kembali ke pelukan ayahnya. Pemuda itu mendesak pangeran untuk segera memberikan jawaban apakah dia benar-benar ingin tinggal di kota ini atau tidak. Dan bila tidak ingin tinggal di kota ini, maka esok hari dia harus segera pergi meninggalkan kota ini. Pemuda itu berharap agar pangeran tetap tinggal di kota ini, karena syarat untuk tinggal di kota ini sangatlah mudah dan dapat dilakukan sekejab saja. Hati pangeran merasa sangat bingung apa yang harus diambil, dia merasa sudah menemukan jawaban atas perjalanannya selama ini, tetapi di pihak lain dia merasa rindu kepada ayahnya. Dia meminta waktu kepada pemuda itu untuk memberikan jawaban keesokan harinya.
Semalaman pangeran memikirkan apa yang harus dia lakukan, di satu sisi dia merasa ingin tinggal selamanya di sini, tetapi dia tidak ingin menyangkal ayahnya. Malam itu dia tidak dapat tidur, terus memikirkan apa yang harus dilakukan esok harinya. Orang–orang di sini begitu baik hati dan sangat mengasihinya, dia merasa tidak enak untuk meninggalkan mereka. Tak terasa pagi hari menjelang, pangeran harus segera memberikan jawaban ke pemuda itu. Sebelum pemuda itu datang, pangeran berjalan – jalan dalam kota untuk melihat terakhir kali sebelum memutuskan apa yang harus diambil. Dalam kota itu dia melihat seorang yang dulu pernah membantunya dalam mencarikan dia tempat tinggal di kota ini. Pangeran menyapa orang itu dengan ramah, tetapi pemuda itu mulai mencaci pangeran itu, “Dasar tidak tahu berterima kasih, cepat kamu keluar dari kota ini!!!” disertai dengan banyak sekali umpatan. Pangeran kaget dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu, dengan segera ditinggalkannya orang itu. Makin lama, jalanan semakin penuh dengan orang–orang dan semua orang mulai mencaci makinya dan mengusirnya dari kota itu. Seluruh kata-kata umpatan ditujukan kepadanya. Orang–orang mulai mendorongnya untuk keluar dari gerbang kota, tidak ada lagi orang yang membantunya.
Pangeran diusir dari kota itu tanpa bekal sama sekali, mereka hanya memberi pangeran sebuah surat untuk ditandatangani supaya dapat kembali ke kota itu. Di luar tembok kota pangeran membuka surat itu dan membacanya. Isinya adalah surat penyangkalan kepada ayahnya dan surat persetujuan tunduk atas semua hukum yang berlaku di kota itu tanpa kecuali, dengan balasan dia mendapat semua kesenangan yang ada di kota itu. Pangeran mulai merasa tidak enak dan merasa ada sesuatu yang tidak betul dalam kota itu, pangeran memutuskan untuk kembali ke kerajaannya, tetapi dia takut Raja tidak mau menerimanya. Bukankah pemuda itu sudah mengirimkan surat kepada ayahnya bahwa dia tidak ingin kembali ke sana, dan ayahnya sama sekali tidak peduli dengannya.
Pangeran mulai berjalan tanpa tujuan, dan akhirnya dia menemukan sebuah kandang yang berisi seekor domba. Pangeran merasa bahwa dirinya lebih berharga dan memalukan jika terlihat tidur bersama domba. Maka dia mengusir domba itu keluar dari kandang yang hangat itu, padahal suhu di luar sangatlah dingin. Rasa ego pangeran ditambah perasaan kecewa karena diusir oleh teman-temannya membuat pangeran tidak mempedulikan sekelilingnya. Domba itu diusir keluar dari kandang itu, biarpun demikian domba itu sama sekali tidak mengembik ataupun melawan.
Suhu di luar mulai semakin dingin, biarpun pangeran membuat api unggun di dalam kandang itu, tetap saja tidak dapat mengusir dingin yang semakin menusuk. Dan akhirnya pangeran itu pingsan kedinginan. Saat itu domba dari luar mengawasi terus sang pangeran, dan saat pangeran pingsan, domba itu masuk dan menggugurkan bulu-bulu yang tebal untuk menyelimuti pangeran; setelah itu duduk di sampingnya. Suhu badan yang mulai menghangat membuat pangeran tersadar, dan melihat domba itu duduk di sampingnya.
Rasa ego masih menyelimuti pangeran, walaupun dia tahu bahwa domba itu telah menolongnya. Tetap saja dia mengusir domba itu keluar kembali, dia merasa domba itu tidak pantas untuk tinggal bersamanya. Dan domba itu kembali menunggu di tengah dinginnya malam.
Pangeran yang sudah mulai hangat dengan selimut dari bulu domba, mulai merasakan lapar. Dia baru menyadari bahwa sudah 1 hari ini dia sama sekali belum makan apapun. Perutnya mulai melilit dan mengeluarkan suara yang nyaring. Pangeran merasa hari ini adalah hari terakhirnya dan menyesal kenapa dulu dia meninggalkan kerajaannya dan tidak mendengarkan perkataan ayahnya. Pangeran mulai berteriak dan mulai menyatakan penyesalannya kepada ayahnya. Tiba-tiba domba yang saat itu berada di luar berlari ke dalam dan segera meloncat ke dalam api unggun. Dalam sekejap domba itupun mati tanpa mengembik sedikitpun, menyediakan makanan bagi sang pangeran.
Pangeran yang melihat hal ini merasa menyesal dan malu atas semua perbuatannya selama ini, terlebih kepada domba itu yang telah dia usir, dia jauhkan, tetapi tetap saja memberikan yang terbaik kepadanya. Dalam penyesalannya dia melihat domba itu yang sudah terbakar, dan pandangannya tertuju pada kalung leher yang ada pada domba itu.
Kalung itu bertuliskan: “Kembalilah anak-Ku, Bapa selalu menantikanmu.”
Akhir cerita pangeran segera kembali secepatnya ke kerajaannya, dan mendapatkan ayahnya sedang menunggunya tepat di pintu gerbang kota menantikan kedatangannya dengan pelukan penuh rasa sayang.
Cerita di atas menggambarkan apa yang terjadi kepada kita, kita dahulu tinggal bersama Bapa di surga dengan penuh keindahan. Tetapi kita menolak semuanya itu dan berusaha mencari yang lain yang menurut kita lebih baik. Dan tanpa sadar kita makin lama makin meninggalkan Bapa kita. Kesenangan di dunia ini membuat kita mabuk. Memang teman–teman kita ada yang mengasihi kita, tetapi kasih dari mereka adalah sementara dan seringkali ada maksud di balik semuanya itu. Dan pada akhirnya banyak yang meninggalkan kita di saat pemikiran dan tujuan kita tidak sesuai dengan mereka.
Tetapi walaupun di tengah kesendirian, tidak ada yang peduli terhadap kita. Bapa selalu melihat kita dan menyertai kita. Tetapi walaupun begitu seringkali kita menolak dan mengusir Dia seperti pangeran berulangkali mengusir domba yang telah membantunya. Dan akhirnya Dia pun mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan kita manusia, seperti domba itu mengorbankan nyawanya untuk makanan pangeran. Dan pada akhirnya nanti Bapa akan dengan senang hati menanti kita dalam pintu gerbang kerajaanNya.
Kasih dari Bapa sangatlah besar dan tidak terselami oleh kita manusia. Dia merelakan putraNya yang tunggal Yesus Kristus untuk mati di salib demi menyelamatkan kita manusia. Manusia yang lemah dan selalu penuh dengan dosa ini tetap selalu mendapat perhatian yang utama dariNya.
Semoga kisah pendek ini membuat kita sadar akan kehidupan kita, dan akan bagaimana Yesus sangat menyayangi kita dan merindukan kita untuk dapat berkumpul kembali dalam KerajaanNya.
Amin.
Damai Tuhan beserta kita semua.
1 Yohanes 4:10 "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita"
Jumat, 08 Oktober 2010
Dari Mana Datangnya Kebijaksanaan?
Seorang pencari kebijaksanaan datang menemui sang guru. "Anda hanya memiliki kesempatan untuk mengajukan tiga pertanyaan." Demikian kata sang guru. Orang tersebut mulai berpikir dalam agar tidak mengajukan pertanyaan yang tak berarti. Setiap pertanyaan yang akan diajukan haruslah dipertimbangkan secara masak, dan bisa menjawabi kehausannya akan kebijaksanaan.
Setelah beberapa menit berada dalam keheningan, ia membuka mulut: "Guru terhormat. Dari manakah datangnya kebijaksanaan itu?" Demikian ia mengajukan pertanyaan yang pertama.
"Kebijaksanaan datang dari pengalaman yang baik." Jawab sang guru tanpa berpikir panjang.
Sang pencari kebijaksanaan itu mulai lagi berpikir tentang "pengalaman yang baik" itu. Ia merenungkan semua pengalaman hidupnya di masa silam, namun ia tak tahu pengalaman mana yang bisa dikategorikan sebagai pengalaman yang baik.
Setelah berpikir cukup lama ia memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kedua: "Guru yang bijaksana! Dari mana datangnya pengalaman yang baik ini?"
"Pengalaman yang baik datangnya dari suatu pertimbangan dan keputusan yang baik." Sang Guru menjawab cepat.
Pertimbangan dan keputusan yang baik. Orang tersebut merenungkan ucapan sang Guru. Ia tahu bahwa setiap keputusan harus diawali oleh suatu pertimbangan yang matang. Namun...apa yang harus dipertimbangkan? Ia bertanya diri. "Guru yang baik. Dari mana datangnya pertimbangan dan keputusan yang baik ini?" Demikian ia mengajukan pertanyaan yang terakhir.
"Pertimbangan dan keputusan yang baik datangnya dari setiap pengalaman yang buruk." Demikian jawab sang Guru.
--------------------
Temanku, setiap hari kita berhadapan dengan sejuta pengalaman yang tak ingin kita terima. Kehidupan berkeluarga mungkin berada di sebuah tepi jurang. Masyalah pekerjaan yang mungkin tak pernah teratasi. Kesehatan yang terganggu. Kehilangan orang yang kita cintai. Dan masih banyak lagi, anda bisa membuat sejuta litani pengalaman kepedihan yang datang menghadang setiap hari. Semua pengalaman ini seumpama sekeping batu, suatu bahan mentah yang menunggu proses pengolahan lebih lanjut agar menjadi barang berharga.
Setelah beberapa menit berada dalam keheningan, ia membuka mulut: "Guru terhormat. Dari manakah datangnya kebijaksanaan itu?" Demikian ia mengajukan pertanyaan yang pertama.
"Kebijaksanaan datang dari pengalaman yang baik." Jawab sang guru tanpa berpikir panjang.
Sang pencari kebijaksanaan itu mulai lagi berpikir tentang "pengalaman yang baik" itu. Ia merenungkan semua pengalaman hidupnya di masa silam, namun ia tak tahu pengalaman mana yang bisa dikategorikan sebagai pengalaman yang baik.
Setelah berpikir cukup lama ia memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kedua: "Guru yang bijaksana! Dari mana datangnya pengalaman yang baik ini?"
"Pengalaman yang baik datangnya dari suatu pertimbangan dan keputusan yang baik." Sang Guru menjawab cepat.
Pertimbangan dan keputusan yang baik. Orang tersebut merenungkan ucapan sang Guru. Ia tahu bahwa setiap keputusan harus diawali oleh suatu pertimbangan yang matang. Namun...apa yang harus dipertimbangkan? Ia bertanya diri. "Guru yang baik. Dari mana datangnya pertimbangan dan keputusan yang baik ini?" Demikian ia mengajukan pertanyaan yang terakhir.
"Pertimbangan dan keputusan yang baik datangnya dari setiap pengalaman yang buruk." Demikian jawab sang Guru.
--------------------
Temanku, setiap hari kita berhadapan dengan sejuta pengalaman yang tak ingin kita terima. Kehidupan berkeluarga mungkin berada di sebuah tepi jurang. Masyalah pekerjaan yang mungkin tak pernah teratasi. Kesehatan yang terganggu. Kehilangan orang yang kita cintai. Dan masih banyak lagi, anda bisa membuat sejuta litani pengalaman kepedihan yang datang menghadang setiap hari. Semua pengalaman ini seumpama sekeping batu, suatu bahan mentah yang menunggu proses pengolahan lebih lanjut agar menjadi barang berharga.
Berdoalah Sampai Sesuatu Terjadi
[P.U.S.H. = Pray Until Something Happens!!]
Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juruselamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukannya. Lalu Tuhan menunjukkan padanya sebua batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa ia harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya. Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari. Bertahun- tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya sering menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia. Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblispun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya "Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannnya." Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki itu bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat. "Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?" pikirnya. "Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik."
Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan. "Tuhan," katanya "Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatannku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?' Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian,"Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata bahwa tugasmu adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu seperti yang telah kau lakukan. Tapi tidak sekalipun Aku berkata bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar?
Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus- menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatku, sekarang akan memindahkan batu itu." Terkadang, ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya....
Dengan kata lain, berlatih menggeser gunung-gunung, tetapi kita tahu bahwa Tuhan selalu ada dan Dialah yang dapat memindahkannya. Ketika segalah sesuatu kelihatan keliru.... lakukan P.U.S.H. (PUSH = dorong)
Ketika pekerjaanmu mulai menurun.... lakukan P.U.S.H.
Ketika orang-orang tidak berlaku seperti yang semestinya mereka lakukan.... lakukan P.U.S.H.
Ketika uangmu seperti "lenyap" dan tagihan-tagihan mulai harus dibayar.... lakukan P.U.S.H.
P. Pray
U. Until
S. Something
H. Happens
PUSH = Pray Until Something HAPPENS!! (Berdoalah sampai sesuatu terjadi)
Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juruselamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukannya. Lalu Tuhan menunjukkan padanya sebua batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa ia harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya. Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari. Bertahun- tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya sering menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia. Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblispun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya "Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannnya." Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki itu bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat. "Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?" pikirnya. "Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik."
Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan. "Tuhan," katanya "Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatannku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?' Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian,"Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata bahwa tugasmu adalah mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu seperti yang telah kau lakukan. Tapi tidak sekalipun Aku berkata bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar?
Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus- menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatku, sekarang akan memindahkan batu itu." Terkadang, ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya....
Dengan kata lain, berlatih menggeser gunung-gunung, tetapi kita tahu bahwa Tuhan selalu ada dan Dialah yang dapat memindahkannya. Ketika segalah sesuatu kelihatan keliru.... lakukan P.U.S.H. (PUSH = dorong)
Ketika pekerjaanmu mulai menurun.... lakukan P.U.S.H.
Ketika orang-orang tidak berlaku seperti yang semestinya mereka lakukan.... lakukan P.U.S.H.
Ketika uangmu seperti "lenyap" dan tagihan-tagihan mulai harus dibayar.... lakukan P.U.S.H.
P. Pray
U. Until
S. Something
H. Happens
PUSH = Pray Until Something HAPPENS!! (Berdoalah sampai sesuatu terjadi)
Ayah yang Luar Biasa
Ada sebuah kisah yang mengharukan tentang hubungan seorang ayah dengan anaknya yang cacat sejak dari lahirnya. Sang ayah bernama Dick dan si anak bernama Rick. Dick dan Rick Hoyt adalah ayah dan anak, sekaligus salah satu tim yang ikut serta dalam sebuah pertandingan triathlon yaitu semacam marathon dengan rupa-rupa olah raga seperti lari yang berjarak 26,2 mil, ditambah bersepeda sejauh 112 mil, serta berenang 2,4 mil. Belum lagi mereka harus mendaki gunung dan lain sebagainya. Total keseluruhannya sekitar 3,735 mil.
Dick Hoyt, sang ayah yang berusia 65 tahun saat itu, mendorong dan menarik Rick yang hanya dapat duduk dibangku roda karena kondisi tubuhnya yang cacat. Sebenarnya, sejak Rick lahir Dick dan istrinya sudah mengetahui bahwa mereka akan memiliki anak yang cacat. Namun, mereka tetap menerima keadaan Rick.
Pada saat pertandingan triathlon ini akan diselenggarakan, Rick berkata kepada ayahnya apakah ia dapat mengikuti pertandingan itu. Dan tanpa ragu, sang ayahpun bersedia untuk mengikutinya. Jadilah mereka mengikuti pertandingan yang menghabiskan waktu sangat lama itu. Sepanjang pertandingan, Dick terus mendorong dan menarik Rick. Dick berjuang dengan sekuat tenaga berenang menarik Rick yang terbaring di dalam perahu.Dick berlari mendorong kursi roda Rick tanpa lelah, Dick menggendong Rick memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka berdua melewati lika-liku perjalanan yang sulit ditempuh dengan waktu yang sangat lama. Ketika pertandingan usai, dan Rick ditanya mengenai perasaannya saat menjalani pertandingan bersama ayahnya, Rickpun menjawab,”aku merasa seperti aku tidak cacat, dan aku ingin sekali membiarkan ayah yang duduk di kursi roda ini dan aku yang berlari mendorong dan menariknya.” Ternyata, apa yang Dick lakukan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi Rick. Memang, Dick adalah ayah yang luar biasa. Ia rela berlari, berenang, mendorong, menarik dan menggendong sang anak sepanjang medan pertandingan. Sekalipun anaknya memiliki keterbatasan, Dick terus ada dengan setia melewati keseluruhan pertandingan itu.
Kisah ini membuktikan kepada kita bahwa ada sebuah pengorbanan yang rela diberikan seorang ayah terhadap anaknya yang sangat terbatas. Ada seorang ayah yang punya cinta kasih yang begitu besar menerima sang anak dengan ketidaksempurnaan tubuh. Ada seorang ayah yang selalu mau berlari, berenang, mendaki, mendorong dan menarik tubuh sang anak untuk bersama melewati sebuah pertandingan dengan medan yang sangat berat dengan jarak dan waktu yang sangat lama. Ada seorang ayah yang menyatakan ia bersedia untuk bertanding bersama sang anak sekalipun ia tahu anaknya tidak dapat berbuat banyak. Ada seorang ayah yang tahu bahwa sang anakpun dapat bertahan dalam pertandingan itu, bahwa sang anak kuat untuk bertanding karena ada ayah disisinya yang dengan setia selalu bersamanya.
Sungguh, kisah inipun juga mengingatkan kepada kita betapa setiap dari kitapun juga memiliki Bapa yang rela berkorban untuk kita. Bapa yang kasihnya sangat besar sehingga kita dicintainya apa adanya. Bapa yang mau berjalan, berlari, mendaki, mendorong, menarik kita agar kita aman dan kuat. Bapa yang setia bersama kita saat kita senang, susah dan sakit. Ya, Bapa yang patut kita banggakan dan syukuri. Cintanya yang luar biasa selalu tersedia untuk kita.
"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya" 1 Yohanes 4:9
Dick Hoyt, sang ayah yang berusia 65 tahun saat itu, mendorong dan menarik Rick yang hanya dapat duduk dibangku roda karena kondisi tubuhnya yang cacat. Sebenarnya, sejak Rick lahir Dick dan istrinya sudah mengetahui bahwa mereka akan memiliki anak yang cacat. Namun, mereka tetap menerima keadaan Rick.
Pada saat pertandingan triathlon ini akan diselenggarakan, Rick berkata kepada ayahnya apakah ia dapat mengikuti pertandingan itu. Dan tanpa ragu, sang ayahpun bersedia untuk mengikutinya. Jadilah mereka mengikuti pertandingan yang menghabiskan waktu sangat lama itu. Sepanjang pertandingan, Dick terus mendorong dan menarik Rick. Dick berjuang dengan sekuat tenaga berenang menarik Rick yang terbaring di dalam perahu.Dick berlari mendorong kursi roda Rick tanpa lelah, Dick menggendong Rick memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya, mereka berdua melewati lika-liku perjalanan yang sulit ditempuh dengan waktu yang sangat lama. Ketika pertandingan usai, dan Rick ditanya mengenai perasaannya saat menjalani pertandingan bersama ayahnya, Rickpun menjawab,”aku merasa seperti aku tidak cacat, dan aku ingin sekali membiarkan ayah yang duduk di kursi roda ini dan aku yang berlari mendorong dan menariknya.” Ternyata, apa yang Dick lakukan menimbulkan dampak yang luar biasa bagi Rick. Memang, Dick adalah ayah yang luar biasa. Ia rela berlari, berenang, mendorong, menarik dan menggendong sang anak sepanjang medan pertandingan. Sekalipun anaknya memiliki keterbatasan, Dick terus ada dengan setia melewati keseluruhan pertandingan itu.
Kisah ini membuktikan kepada kita bahwa ada sebuah pengorbanan yang rela diberikan seorang ayah terhadap anaknya yang sangat terbatas. Ada seorang ayah yang punya cinta kasih yang begitu besar menerima sang anak dengan ketidaksempurnaan tubuh. Ada seorang ayah yang selalu mau berlari, berenang, mendaki, mendorong dan menarik tubuh sang anak untuk bersama melewati sebuah pertandingan dengan medan yang sangat berat dengan jarak dan waktu yang sangat lama. Ada seorang ayah yang menyatakan ia bersedia untuk bertanding bersama sang anak sekalipun ia tahu anaknya tidak dapat berbuat banyak. Ada seorang ayah yang tahu bahwa sang anakpun dapat bertahan dalam pertandingan itu, bahwa sang anak kuat untuk bertanding karena ada ayah disisinya yang dengan setia selalu bersamanya.
Sungguh, kisah inipun juga mengingatkan kepada kita betapa setiap dari kitapun juga memiliki Bapa yang rela berkorban untuk kita. Bapa yang kasihnya sangat besar sehingga kita dicintainya apa adanya. Bapa yang mau berjalan, berlari, mendaki, mendorong, menarik kita agar kita aman dan kuat. Bapa yang setia bersama kita saat kita senang, susah dan sakit. Ya, Bapa yang patut kita banggakan dan syukuri. Cintanya yang luar biasa selalu tersedia untuk kita.
"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya" 1 Yohanes 4:9
Allah Bapa Seperti Pemulung
"Ada satu hal di mana TUHAN tidak berkuasa untuk melakukannya" TUHAN tidak berkuasa untuk tidak menepati janjiNYA. Ia begitu setia akan janjiNYA.(Mazmur 12:7)
Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb.
Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar seorang anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!" "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.
Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.
Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"
Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."
Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.
Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu sendiri melainkan pemberian Allah.
Our God is able! "Not by power, not by might, but by My Spirits, says the LORD" (Zach 4:6)
Suatu hari Guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya: Seperti apa Allah Bapa itu? "Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang Bapa.. seorang papi," ujar guru tsb.
Minggu berikutnya, guru tsb menagih PR dari setiap murid yang ada. "Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" "Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar seorang anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." "Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga,"Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." "Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. "Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!" "Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat.
Guru tsb tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak2 lain. "Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak2 yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup.
Eddy hampir2 tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab,"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. Eddy mulai ketakutan. "Eddy,"ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?"
Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab,"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya."
Memang bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah.
Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Efesus 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil usahamu sendiri melainkan pemberian Allah.
Our God is able! "Not by power, not by might, but by My Spirits, says the LORD" (Zach 4:6)
Aku Punya Allah yang Hidup
Haleluya! Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi,
Kemurahan Bapa di Sorga telah membuat saya lepas dari belenggu depresi yang tiada henti menimpa saya dalam tiga tahun terakhir. Masa lalu saya memang kelam, namun Allah Bapa yang maha kasih melalui RohNya menanamkan kepada saya bahwa dalam namaNya semua kenangan buruk itu mengantarkan saya kepada pengenalan yang dalam akan Yesus Kristus. Kiranya kesaksian saya ini memberikan harapan kepada mereka yang sedang dalam pencarian akan hidup yang berarti.
Tiga Tahun yang Sukar
Pikiran bunuh diri itu mulai menganggu saya di pertengahan tahun 2005. Saat itu segala kekuatiran saya mencapai puncaknya. Saya merasa hidup ini tidak berarti lagi karena hubungan saya dengan orang tua dan saudara-saudara yang sedang memburuk, juga saya tidak suka berhadapan dengan teori-teori mengajar yang menurut saya tidak ada gunanya. Selain itu saya merasa sangat kesepian, kehidupan bergerejapun terasa seperti rutinitas belaka. Perkuliahan yang menurut saya semakin lama semakin berat dan perasaan akan tidak berguna yang menyelimuti saya karena saya tidak seperti teman-teman kuliah saya yang sebagian besar telah memperoleh uang dari hasil mengajar membuat saya tenggelama dalam perasaan yang tak menentu. Awalnya saya merasa suara-suara yang menyuruh saya untuk bunuh diri itu merupakan bagian dari pencobaan yang harus saya kalahkan karena sebelumnya saya sering sekali memperoleh penglihatan-penglihatan di mana dalam penglihatan-penglihatan itu saya melihat bagaimana Tuhan Yesus mengalahkan iblis yang sedang memburu jiwa saya.
Saya harus masuk rumah sakit untuk memperoleh perawatan di akhir tahun 2005. Pada saat itu saya sungguh tidak mengerti mengapa tidak seperti biasanya Tuhan Yesus melepaskan saya dari kuasa kegelapan. Kali ini Tuhan seolah tinggal diam dan membiarkan jiwa saya kosong, berada dalam jerat iblis. Dengan berat hati saya terpaksa minum obat yang diberikan oleh psikiater. Dalam hati saya merasa benci sekali dengan keharusan saya untuk mengkonsumsi obat, tetapi saya sungguh tidak tahu bagaimana mengisi kekosongan dalam hidup saya. Lagipula, orang tua saya sepertinya sangat mempercayai setiap perkataan dari psikiater. Bagaimanapun juga, karena keharusan untuk minum obat secara teratur, saya merasa bagai orang yang sakit; saya takut sekali orang lain tahu bahwa saya pernah dirawat di rumah sakit akibat kehilangan pengendalian diri dan bahwa hidup saya kini tergantung pada obat.
Sejak saya keluar dari rumah sakit, saya sangat aktif dalam berbagai pelayanan di gereja. Namun demikian, hal tersebut tidak dapat memuaskan hati saya; saya tetap hidup dalam ketidakpastian, seolah hidup ini tidak bertujuan bagi saya. Dengan sangat terpaksa saya terus melanjutkan kuliah; perasaan ingin bunuh diri itu semakin menguat dari hari ke hari, ditambah lagi di saat saya mulai putus asa ada banyak sekali suara-suara yang meyakinkan saya bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik bagi saya. Saya selalu ingin menghindar bertemu teman-teman kuliah saya; sayapun juga merasa rendah dibandingkan dengan saudara-saudara saya. Ketakutan akan uang terus mendera saya, apalagi ayah saya terus-menerus memaksa saya untuk menjadi seorang yang pandai berbisnis. Saya tahu pasti bahwa saya tidak suka bisnis tetapi di sisi lain saya juga tidak tahu saya ingin menjadi apa. Saya hanya bisa diam dan merasa sedih dalam hati ketika ayah saya terus membanggakan dirinya yang sangat pandai berbisnis. Di awal tahun 2007 atas perintah suara-suara, saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Saya merasa meledak, semakin lama semuanya makin suram bagi saya. Bagi saya gelar S1 tidak lagi penting; saya merasa saya pasti akan menangis di hari wisuda saya karena saya merasa semua teman kuliah saya jahat, dan tentunya tidak ada yang dapat saya banggakan dari apa yang telah saya pelajari selama kuliah.
Ketika semuanya serba tak menentu, tiba-tiba suara-suara yang saya anggap sebagai suara Tuhan itu menyuruh saya untuk kembali kuliah. Suara-suara tersebut juga mengatakan kepada saya bahwa saya sangat membutuhkan pertolongan psikiater juga psikolog, bahkan suara-suara tersebut menjamin bahwa saya boleh terbuka pada mereka karena mereka pasti dapat menolong saya. Perkuliahan itu membuat saya semakin depresi, dan tak henti-hentinya saya meminta Tuhan untuk lebih baik membunuh saya daripada saya harus menyelesaikan kuliah saya. Psikiater menyarankan saya untuk minum obat teratur untuk membuat pikiran saya jernih sehingga saya dapat berpikir jernih. Saya sangat mempercayai perkataan psikiater pada mulanya, namun seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa obat yang diberikan psikiater itu tidak cocok bagi saya karena bukan hanya saya tetap kehilangan semangat hidup, yang pasti pikiran bunuh diri itu makin lama makin menguasai diri saya. Terhadap psikolog saya juga menaruh harapan untuk bisa beraktivitas dengan normal setelah melalui beberapa sesi. Namun, dari sesi ke sesi saya merasa psikolog itu semakin menuduh saya sebagai orang yang ragu-ragu, selalu menyesali keputusan yang telah saya ambil, dan yang terutama takut menghadapi tantangan. Saya sadar bahwa saya memang butuh teman bicara, tetapi sepertinya psikolog itu cenderung untuk memarahi saya karena saya selalu datang dengan keluhan yang hampir sama. Sementara itu, saya juga tidak berani berterus-terang kepada psikiater mengenai pergumulan yang sedang saya alami karena takut ia akan memberi saya obat tambahan, padahal saya tahu pasti bahwa obat anti depresi itu akan membuat saya sakit maag dan tatapan mata saya kosong.
Pada akhirnya saya memang dapat menyelesaikan kuliah, tetapi ketakutan memasuki dunia kerja tidak dapat lepas dari pikiran saya. Setelah dinyatakan lulus pada pertengahan tahun 2008, sesungguhnya saya berada dalam kebingungan yang amat sangat. Hati saya ingin meninggalkan Indonesia secepatnya karena saya merasa tidak ada pekerjaan yang cocok bagi saya di sini tetapi bukan hanya karena orang tua tidak akan mengizinkan saya pergi jauh, namun juga peluang saya untuk pergi akan sangat kecil jika saya tidak menggunakan uang saya sendiri. Hal itu berarti saya harus bekerja, tetapi saya ingin hasil yang instan, saya ingin memperoleh banyak uang segera agar saya dapat segera keluar negeri. Karenanya, saya merasa terjebak; saya tahu saya membutuhkan pekerjaan tetapi saya pikir saya akan merasa sangat tersiksa dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat saya. Setelah melalui berbagai proses, sayapun diterima sebagai guru bahasa inggris di suatu lembaga kursus. Saya sering merasa saya salah masuk ke sana karena sejak training saya tidak pernah nyambung dengan berbagai teknik mengajar yang disampaikan. Lagipula, saya teringat pengalaman buruk saya saat praktek ngajar di suatu SMU pada waktu kuliah. Waktu itu murid-murid sama sekali tidak mendengarkan saya, suasana kelas sangat tidak terkendali. Saya ingin sekali mundur tetapi saya sudah terlanjur menandatangani kontrak selama 1 tahun. Berulang kali saya minta kepada Tuhan agar saya bisa keluar dari sana, saya katakan kepadaNya lebih baik saya mati daripada saya harus mengajar.
Mujizat Allah Nyata
Berkat pertolongan Tuhan dan jamahan kuasa Roh Kudus, segala macam suara dan penglihatan itu pada akhirnya hilang. Saya katakan pada Tuhan bahwa sesungguhnya saya sangat memerlukan psikiater dan psikolog dalam diriNya karena terbukti psikiater dan psikolog yang menangani saya tidak dapat menolong saya lagi. Hari-hari saya sangat kosong, saya sungguh tidak mengerti mengapa segala sesuatu yang saya lakukan sepertinya serba salah, seolah membuktikan bahwa diagnosa psikolog terhadap saya itu benar dan bahwa perkataan psikiater adalah benar bahwa saya harus mencari banyak kegiatan dan tidak boleh terlalu banyak sendirian. Seringkali saya takut sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi gila karena masih hidup di Jakarta. Setiap bangun pagi saya selalu merasa letih dan tidak semangat. Saya tidak tahu untuk apa saya hidup pada hari itu. Selain itu hati saya senantiasa dipenuhi dengan duka, dan saya tidak tahu sebabnya.
Di saat saya sedang putus asa dan tidak tahu apa yang harus saya perbuat, saya teringat bahwa Tuhan Yesus itu jauh lebih berharga dari teman-teman yang saya miliki bahkan dari seluruh hidup saya. Suatu lagu hymn juga mengingatkan saya bahwa hanya Tuhan Yesus seorang yang dapat menolong saya. Sebenarnya saya sudah bosan sekali dengan keinginan saya untuk bunuh diri tetapi saya tidak punya kekuatan untuk lepas darinya. Saya sering bertanya-tanya dalam diri saya, apa Tuhan tidak kasihan terhadap saya karena sudah tiga tahun saya terus hidup dalam kekelaman, seolah pikiran mau bunuh diri itu telah menjadi bagian dari hidup saya. Orang-orang yang mendengar keluhan saya ini pasti juga telah bosan, maka saya penuh keraguan apa Tuhan masih mengasihi jiwa saya. Saya merasa bagai penjahat yang pantas mati karena saya tak dapat mengasihi orang-orang di sekeliling saya. Saya juga telah merepotkan Tuhan karena kemauan saya yang kuat untuk mengakhiri hidup saya. Ketika jalan yang saya tempuh makin lama makin terjal, saya dapat merasakan bahwa Tuhan Yesus mempunyai kasih yang sangat besar terhadap saya; Ia mencari saya yang sedang berada dalam dosa. Di saat saya tak lagi bersemangat untuk berdoa, memuji Tuhan ataupun membaca Alkitab, saya dapat merasakan pengampunanNya yang sempurna, namaNya yang indah menghapus segala ketidaknyamanan dalam hati saya, dan mengantarkan jiwa saya yang telah hancur kepada kebenaran sejati.
Tuhan Yesus telah memberikan saya pengharapan di dunia dan sukacita dari Sorga sehingga saya tidak lagi ingin mati. Ia telah membuktikan kepada saya bahwa karya Roh Kudus masih nyata sampai saat ini, dan Ia masih peduli terhadap saya di saat saya berseru memanggil namaNya. Kasih karuniaNya dapat saya rasakan sepanjang waktu, ada perubahan yang nyata sejak saya sungguh-sungguh bertekun dalamNya. Saat ini dengan berani saya mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, dan perbuatanNya yang ajaib nyata bagi mereka yang mendekat kepadaNya.
Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan. Amin.
Kumala
Email: kumalawaty.sundari@yahoo.com
Kemurahan Bapa di Sorga telah membuat saya lepas dari belenggu depresi yang tiada henti menimpa saya dalam tiga tahun terakhir. Masa lalu saya memang kelam, namun Allah Bapa yang maha kasih melalui RohNya menanamkan kepada saya bahwa dalam namaNya semua kenangan buruk itu mengantarkan saya kepada pengenalan yang dalam akan Yesus Kristus. Kiranya kesaksian saya ini memberikan harapan kepada mereka yang sedang dalam pencarian akan hidup yang berarti.
Tiga Tahun yang Sukar
Pikiran bunuh diri itu mulai menganggu saya di pertengahan tahun 2005. Saat itu segala kekuatiran saya mencapai puncaknya. Saya merasa hidup ini tidak berarti lagi karena hubungan saya dengan orang tua dan saudara-saudara yang sedang memburuk, juga saya tidak suka berhadapan dengan teori-teori mengajar yang menurut saya tidak ada gunanya. Selain itu saya merasa sangat kesepian, kehidupan bergerejapun terasa seperti rutinitas belaka. Perkuliahan yang menurut saya semakin lama semakin berat dan perasaan akan tidak berguna yang menyelimuti saya karena saya tidak seperti teman-teman kuliah saya yang sebagian besar telah memperoleh uang dari hasil mengajar membuat saya tenggelama dalam perasaan yang tak menentu. Awalnya saya merasa suara-suara yang menyuruh saya untuk bunuh diri itu merupakan bagian dari pencobaan yang harus saya kalahkan karena sebelumnya saya sering sekali memperoleh penglihatan-penglihatan di mana dalam penglihatan-penglihatan itu saya melihat bagaimana Tuhan Yesus mengalahkan iblis yang sedang memburu jiwa saya.
Saya harus masuk rumah sakit untuk memperoleh perawatan di akhir tahun 2005. Pada saat itu saya sungguh tidak mengerti mengapa tidak seperti biasanya Tuhan Yesus melepaskan saya dari kuasa kegelapan. Kali ini Tuhan seolah tinggal diam dan membiarkan jiwa saya kosong, berada dalam jerat iblis. Dengan berat hati saya terpaksa minum obat yang diberikan oleh psikiater. Dalam hati saya merasa benci sekali dengan keharusan saya untuk mengkonsumsi obat, tetapi saya sungguh tidak tahu bagaimana mengisi kekosongan dalam hidup saya. Lagipula, orang tua saya sepertinya sangat mempercayai setiap perkataan dari psikiater. Bagaimanapun juga, karena keharusan untuk minum obat secara teratur, saya merasa bagai orang yang sakit; saya takut sekali orang lain tahu bahwa saya pernah dirawat di rumah sakit akibat kehilangan pengendalian diri dan bahwa hidup saya kini tergantung pada obat.
Sejak saya keluar dari rumah sakit, saya sangat aktif dalam berbagai pelayanan di gereja. Namun demikian, hal tersebut tidak dapat memuaskan hati saya; saya tetap hidup dalam ketidakpastian, seolah hidup ini tidak bertujuan bagi saya. Dengan sangat terpaksa saya terus melanjutkan kuliah; perasaan ingin bunuh diri itu semakin menguat dari hari ke hari, ditambah lagi di saat saya mulai putus asa ada banyak sekali suara-suara yang meyakinkan saya bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik bagi saya. Saya selalu ingin menghindar bertemu teman-teman kuliah saya; sayapun juga merasa rendah dibandingkan dengan saudara-saudara saya. Ketakutan akan uang terus mendera saya, apalagi ayah saya terus-menerus memaksa saya untuk menjadi seorang yang pandai berbisnis. Saya tahu pasti bahwa saya tidak suka bisnis tetapi di sisi lain saya juga tidak tahu saya ingin menjadi apa. Saya hanya bisa diam dan merasa sedih dalam hati ketika ayah saya terus membanggakan dirinya yang sangat pandai berbisnis. Di awal tahun 2007 atas perintah suara-suara, saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Saya merasa meledak, semakin lama semuanya makin suram bagi saya. Bagi saya gelar S1 tidak lagi penting; saya merasa saya pasti akan menangis di hari wisuda saya karena saya merasa semua teman kuliah saya jahat, dan tentunya tidak ada yang dapat saya banggakan dari apa yang telah saya pelajari selama kuliah.
Ketika semuanya serba tak menentu, tiba-tiba suara-suara yang saya anggap sebagai suara Tuhan itu menyuruh saya untuk kembali kuliah. Suara-suara tersebut juga mengatakan kepada saya bahwa saya sangat membutuhkan pertolongan psikiater juga psikolog, bahkan suara-suara tersebut menjamin bahwa saya boleh terbuka pada mereka karena mereka pasti dapat menolong saya. Perkuliahan itu membuat saya semakin depresi, dan tak henti-hentinya saya meminta Tuhan untuk lebih baik membunuh saya daripada saya harus menyelesaikan kuliah saya. Psikiater menyarankan saya untuk minum obat teratur untuk membuat pikiran saya jernih sehingga saya dapat berpikir jernih. Saya sangat mempercayai perkataan psikiater pada mulanya, namun seiring dengan berjalannya waktu, saya merasa obat yang diberikan psikiater itu tidak cocok bagi saya karena bukan hanya saya tetap kehilangan semangat hidup, yang pasti pikiran bunuh diri itu makin lama makin menguasai diri saya. Terhadap psikolog saya juga menaruh harapan untuk bisa beraktivitas dengan normal setelah melalui beberapa sesi. Namun, dari sesi ke sesi saya merasa psikolog itu semakin menuduh saya sebagai orang yang ragu-ragu, selalu menyesali keputusan yang telah saya ambil, dan yang terutama takut menghadapi tantangan. Saya sadar bahwa saya memang butuh teman bicara, tetapi sepertinya psikolog itu cenderung untuk memarahi saya karena saya selalu datang dengan keluhan yang hampir sama. Sementara itu, saya juga tidak berani berterus-terang kepada psikiater mengenai pergumulan yang sedang saya alami karena takut ia akan memberi saya obat tambahan, padahal saya tahu pasti bahwa obat anti depresi itu akan membuat saya sakit maag dan tatapan mata saya kosong.
Pada akhirnya saya memang dapat menyelesaikan kuliah, tetapi ketakutan memasuki dunia kerja tidak dapat lepas dari pikiran saya. Setelah dinyatakan lulus pada pertengahan tahun 2008, sesungguhnya saya berada dalam kebingungan yang amat sangat. Hati saya ingin meninggalkan Indonesia secepatnya karena saya merasa tidak ada pekerjaan yang cocok bagi saya di sini tetapi bukan hanya karena orang tua tidak akan mengizinkan saya pergi jauh, namun juga peluang saya untuk pergi akan sangat kecil jika saya tidak menggunakan uang saya sendiri. Hal itu berarti saya harus bekerja, tetapi saya ingin hasil yang instan, saya ingin memperoleh banyak uang segera agar saya dapat segera keluar negeri. Karenanya, saya merasa terjebak; saya tahu saya membutuhkan pekerjaan tetapi saya pikir saya akan merasa sangat tersiksa dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat saya. Setelah melalui berbagai proses, sayapun diterima sebagai guru bahasa inggris di suatu lembaga kursus. Saya sering merasa saya salah masuk ke sana karena sejak training saya tidak pernah nyambung dengan berbagai teknik mengajar yang disampaikan. Lagipula, saya teringat pengalaman buruk saya saat praktek ngajar di suatu SMU pada waktu kuliah. Waktu itu murid-murid sama sekali tidak mendengarkan saya, suasana kelas sangat tidak terkendali. Saya ingin sekali mundur tetapi saya sudah terlanjur menandatangani kontrak selama 1 tahun. Berulang kali saya minta kepada Tuhan agar saya bisa keluar dari sana, saya katakan kepadaNya lebih baik saya mati daripada saya harus mengajar.
Mujizat Allah Nyata
Berkat pertolongan Tuhan dan jamahan kuasa Roh Kudus, segala macam suara dan penglihatan itu pada akhirnya hilang. Saya katakan pada Tuhan bahwa sesungguhnya saya sangat memerlukan psikiater dan psikolog dalam diriNya karena terbukti psikiater dan psikolog yang menangani saya tidak dapat menolong saya lagi. Hari-hari saya sangat kosong, saya sungguh tidak mengerti mengapa segala sesuatu yang saya lakukan sepertinya serba salah, seolah membuktikan bahwa diagnosa psikolog terhadap saya itu benar dan bahwa perkataan psikiater adalah benar bahwa saya harus mencari banyak kegiatan dan tidak boleh terlalu banyak sendirian. Seringkali saya takut sendiri bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi gila karena masih hidup di Jakarta. Setiap bangun pagi saya selalu merasa letih dan tidak semangat. Saya tidak tahu untuk apa saya hidup pada hari itu. Selain itu hati saya senantiasa dipenuhi dengan duka, dan saya tidak tahu sebabnya.
Di saat saya sedang putus asa dan tidak tahu apa yang harus saya perbuat, saya teringat bahwa Tuhan Yesus itu jauh lebih berharga dari teman-teman yang saya miliki bahkan dari seluruh hidup saya. Suatu lagu hymn juga mengingatkan saya bahwa hanya Tuhan Yesus seorang yang dapat menolong saya. Sebenarnya saya sudah bosan sekali dengan keinginan saya untuk bunuh diri tetapi saya tidak punya kekuatan untuk lepas darinya. Saya sering bertanya-tanya dalam diri saya, apa Tuhan tidak kasihan terhadap saya karena sudah tiga tahun saya terus hidup dalam kekelaman, seolah pikiran mau bunuh diri itu telah menjadi bagian dari hidup saya. Orang-orang yang mendengar keluhan saya ini pasti juga telah bosan, maka saya penuh keraguan apa Tuhan masih mengasihi jiwa saya. Saya merasa bagai penjahat yang pantas mati karena saya tak dapat mengasihi orang-orang di sekeliling saya. Saya juga telah merepotkan Tuhan karena kemauan saya yang kuat untuk mengakhiri hidup saya. Ketika jalan yang saya tempuh makin lama makin terjal, saya dapat merasakan bahwa Tuhan Yesus mempunyai kasih yang sangat besar terhadap saya; Ia mencari saya yang sedang berada dalam dosa. Di saat saya tak lagi bersemangat untuk berdoa, memuji Tuhan ataupun membaca Alkitab, saya dapat merasakan pengampunanNya yang sempurna, namaNya yang indah menghapus segala ketidaknyamanan dalam hati saya, dan mengantarkan jiwa saya yang telah hancur kepada kebenaran sejati.
Tuhan Yesus telah memberikan saya pengharapan di dunia dan sukacita dari Sorga sehingga saya tidak lagi ingin mati. Ia telah membuktikan kepada saya bahwa karya Roh Kudus masih nyata sampai saat ini, dan Ia masih peduli terhadap saya di saat saya berseru memanggil namaNya. Kasih karuniaNya dapat saya rasakan sepanjang waktu, ada perubahan yang nyata sejak saya sungguh-sungguh bertekun dalamNya. Saat ini dengan berani saya mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup, dan perbuatanNya yang ajaib nyata bagi mereka yang mendekat kepadaNya.
Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan. Amin.
Kumala
Email: kumalawaty.sundari@yahoo.com
Tempayan Retak
KITA SEMUA ADALAH TEMPAYAN RETAK
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar; masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya.
Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.
Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,
"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"
"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu.
Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."
Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan Yesus akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias meja Bapa-Nya.
Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar; masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya.
Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.
Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air,
"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."
"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"
"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu.
Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."
Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan Yesus akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias meja Bapa-Nya.
Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita
Langganan:
Postingan (Atom)