Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 14 Agustus 2011

Sang Janda Yang Tegar

Hari ini aku jadi sadar dan tahu siapa sebenarnya orang yang paling aku cintai, dan demi siapakah aku rela mati karena cinta. Sebenarnya sejak lama aku tahu tentang hal ini, hanya hari ini aku diyakinkan tentang hal ini.

Saat itu aku melihat sebuah gunung terbelah dan batu-batu serta tanah dan lumpur mengalir di tengah gemuruh hujan yang lebat. Bagai guntur yang menggelegar, demikian saya mendengar bunyi saat gunung terbelah dan pohon-pohon bergerak diseret longsor. Jalanan tertimbun batuan yang bergerak cepat. Kulihat beberapa manusia terkubur hidup di balik lumpur yang mengalir ganas. Yah...sebuah longsor yang tak terkatakan sedang terjadi di depan mataku.

Dan di sana, di tepi longsor ini kulihat bayangan seorang wanita. Bayangannya begitu akrab di hatiku. Walau aku hanya melihatnya dari belakang, namun aku tahu siapa yang sedang berdiri di sana, di tepi aliran batu dan lumpur hitam itu. Ia berdiri dan dan seakan sedang berpikir. Dan aneh! Aku bahkan mampu mendengar apa yang sedang ia pikirkan; "Longsor ini amat berbahaya. Namun anak-anakku kini sedang kelaparan. Aku harus pergi mencari makan untuk anak-anakku." Ia nampak tegar. Tak ada sesuatupun yang bisa menghalanginya untuk berbuat sesuatu demi anak-anaknya. Tidak juga keganasan longsor ini.

Dari jauh saya melihat ketegaran seorang janda yang telah kehilangan suaminya. Kematian suaminya memberikan kepadanya peranan ganda; yakni berperan sebagai seorang ibu yang mencintai anak-anaknya, serta berperan sebagai seorang bapak yang bertanggung jawab demi masa depan anak-anaknya. Dan rasa tanggung jawab inilah yang telah memberikan kekuatan kepadanya agar secara berani menceburkan diri dalam aliran lumpur dan batu dahsyat itu. Ia berenang di tengah longsor untuk pergi mencari makanan bagi anak-anaknya. Tak ada jalan lain yang harus ia lalui kecuali satu-satunya jalur jalan yang kini ditimbun lumpur.

Saya tahu resiko apa yang bakal terjadi atas dirinya. Anak-anaknya kini meratap melihat sang ibu berada di tengah longsor. Saya berteriak keras. Namun suaraku tak mampu mengimbangi suara gelegar batu-batu besar yang sedang berguling dan saling bertabrakan. Dan...ajaib! Saya berlari sekian cepat seakan seekor burung yang bersayap lebar. Dalam sekejap saya menemukan diriku berjalan di tengah tanah longsor, berusaha menghindari himpitan batu besar yang sedang berguling cepat. Suaraku tiba-tiba melengking kuat merajai segala bunyi; "Kak..., berbahaya...kembalilah!¡¨ Namun kakakku tetap tak mau mendengarkan suaraku.

Air mataku sudah mengalir deras di kedua pipiku. Aku tahu bahwa kakakku akan segera mati terlindas batu atau diseret lumpur ganas. Akupun tahu bahwa nasibku akan seperti dirinya. Sekali lagi dengan sekuat tenaga saya berteriak; "Kak...! Kalau engkau tak mau kembali, maka akupun ingin mati bersamamu. Aku rela mati dan dikuburkan hidup-hidup bersamamu di dalam lumpur ini, kalau memang itulah pilihanmu." Aku berteriak sambil terus menangis dan bergerak mendekatinya di tengah longsor ini.

Ketika mendengar bahwa akupun ingin mati bersamanya kalau ia tak mau kembali, kakakku membalikan muka. Nampak jelas bahwa ia tak mau kalau aku mati ditelan longsor dahsyat ini. Akhirnya ia berenang ke arahku dan sambil memegang tangannya kami ke luar dari amukan batu yang sedang berguling. Dan ketika kami telah berada di tempat yang aman jauh dari amukan longsor itu, saya tersadar dari mimpiku dan terbangun dari tidurku. Kudapati kedua tanganku memeluk erat bantal di sampingku seakan sedang memeluk kakakku tercinta. Pipiku ternyata sedang basah. Ternyata saya sungguh menangis.

Ketika saya berumur dua tahun ayahku meninggal dunia dan aku harus hidup dan bekerja keras bersama kakak perempuanku. Setelah tamat SD kakakku menolak untuk melanjutkan sekolah hanya karena tanggung jawabnya pada diriku. Ia tak ingin aku, adiknya kehilangan kesempatan untuk belajar. Ia rela melepaskan kesempatan belajar agar bisa membantu ibuku membiayai sekolahku. Dan aku tahu betapa besarnya derita yang harus dipikulnya di saat-saat saya belajar sejak SMP hinga selesai kuliah. Aku mengira bahwa penderitaannya dulu telah selesai. Namun, di tahun 2000 kakakku kehilangan suaminya. Ia diberi tanggung jawab untuk membesarkan ketiga anaknya yang semuanya masih kecil-kecil. Yang terkecil saat itu berumur setahun lebih. Dan malam tadi dalam mimpiku aku melihat betapa tegarnya dia, betapa besarnya tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya. Ia berani berperang melawan kekerasan alam demi anak-anaknya. Secara jujur aku katakan, aku tak memiliki keberanian sebagaimana ia miliki.

Terima Tuhan karena engkau telah memberikan aku seorang kakak yang tegar. Dampingi dia, berikan dia kesehatan dan kekuatan agar bisa tekun mendampingi ketiga anaknya. Terima kasih kakakku!! Tanpa engkau, aku tak akan pernah menjadi diriku saat ini. Tanpa engkau aku tak akan pernah menjadi seorang imam.


Tarsis Sigho - Chicago

Salibku

Dalam perjalanan hidupku suatu kali aku mengeluh kepada Tuhan Yesus. "Yesus..kok berat banget sih salib yang harus aku panggul selama mengikuti Engkau.."
Lalu Tuhan pun menjawabku dengan lembut. "Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan. Aku akan mengajakmu untuk memilih salib mana yang ingin kau pikul.
" Lalu Tuhanpun mengajakku ke suatu ruangan yang penuh dengan salib-salib kayu dengan berbagai ukuran. Tuhan berkata "Letakkan salibmu di pojok ruangan itu dan pilihlah salib yang kauinginkan."

Akupun berjalan mengitari ruangan itu dan melihat semua salib yang ada. Pandanganku kemudian terpaku pada salib yang paling besar di ruangan itu. "Itu salib siapa, Tuhan ?" tanyaku. "gItu adalah salibKu yang menjadikan penebusan bagi segala dosa manusia. Apa itu yang akan kaupilih?" Wah, tentu saja tidak Tuhan. mana kuat aku membawanya.

|Aku pilih yang dipojok ruangan itu saja Tuhan. Itu salib yang terkecil yang ada di ruangan ini "jawabku.Tuhan Yesus pun tersenyum dan berkata "Bukankah itu salibmu yang tadi kau letakkan di pojok ruangan ini?"

Ketahuilah anakku,salib yang kau pikul tidak akan memberikan pencobaan lebih dari kemampuanmu karena Aku sangat mencintaimu. Syukurilah salibmu dan ikutlah Aku.

Maka aku pun pulang, dengan sukacita dan imanku telah diselamatkan..........

Ukiran Yang Tercoreng

Pada waktu api yang besar menelan kota London, maka setelah selesai kebakaran besar itu, Raja Inggris menugaskan seorang arsitek yang besar bernama Christofer Ramm membangun kembali gereja St. Paul yang megah, lalu dipakai oleh Pangeran Charles melakukan pernikahan. Ukiran yang besar dan bagus dipasang kira2x 8 m tingginya dr tanah. Ada seorg yang mengukir salah satu hiasan disitu dan berdiri pada tempat tertinggi dari gereja itu. Ia sedang memandang hasil ukirannya yang baru selesai.

Tetapi secara tak sadar, ia memandangi sambil berjalan mundur setapak demi setapak sampai sudah berada diujung papan pembatas; jika ia mundur setapak lagi, ia pasti jatuh dan mati. Seorang rekan di pinggirnya melihatnya krn posisi berdiri rekannya itu amat berbahaya bahkan mungkin jika ia berteriak memperingatkan malah akan membuat rekannya terjatuh. Akhirnya tidak ada cara lain mk ia mengambil.kuas seorang yg sedang mengapur dinding dan merusak hasil ukiran rekannya itu. Wkt ukiran itu dicat tidak karuan, si pengukir amat marah dan lgs menghampiri ingin memukulnya. Ttp orang itu lalu memperingatkannya dan menunjuk tempat si pengukir itu berdiri, akhirnya si pengukir sadar bahwa rekannya itu sedang berusaha menyelamatkannya.

Demikian Tuhan kita, kadang DIA 'merusak' gambaran yang kita idam2xkan, mengambil orang yang kita cintai dan memberikan hal-hal yang sulit dlm hidup kita. Cara Tuhan seringkali melawan logika dan cara pikir manusia, ttp justru cara Tuhan adalah cara terbaik. Mungkin sudah lama saudara marah dengan tangisan, saudara berdebat dgn Tuhan, ttp biarlah saudara mendengar suara Tuhan yang penuh kasih hari ini yang mengatakan bahwa hal itu perlu dikerjakan dlm diri saudara utk kebaikan saudara... krn rencana Tuhan indah pada waktunya.

"KITA TAHU SEKARANG, BAHWA ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU UTK MENDATANGKAN KEBAIKAN BAGI MRK YANG MENGASIHI DIA, YAITU BAGI MRKYANG TERPANGGIL SESUAI DENGAN RENCANA ALLAH" (Roma 8:28)

Tukang Rombeng

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yohanes 10:11).

Untuk orang seperti siapakah Dia datang? Untuk bilangan waktu manakah Dia menjelang? Berikut adalah kisah yang menunjukkan kepada siapa dan kapan Dia akan datang. Semuanya, hanya satu saja dasarnya: Cinta!

Menjelang fajar, pada suatu hari Jumat, saya melihat seorang pria muda, tampan, dan kuat, berjalan di lorong-lorong kota kami. Dia menarik gerobak yang penuh dengan pakaian baru sambil berseru dengan suara nyaring, "Rombeng!" Ah, udara berbau busuk dan cahaya yang muram itu dilintasi oleh suara musik yang indah.

"Rombeng! Baju lama ditukar baju baru! Saya menerima baju rombeng! Rombeng!"

"Sekarang inilah keajaiban," pikir saya dalam hati, karena pria ini tinggi besar, dan lengannya kukuh seperti dahan pohon, keras dan berotot. Matanya menyorotkan kecerdasan. Apakah dia tidak dapat mencari pekerjaan yang lebih baik sehingga memilih menjadi tukang rombeng di kota yang kumuh? Saya mengikutinya karena keingintahuan saya yang besar. Dan, saya tidak kecewa. Tukang rombeng itu melihat seorang wanita duduk di beranda belakang.

Dengan saputangan menutupi wajahnya, dia menangis, mengeluh dan mencucurkan ribuan tetes air mata. Lutut dan sikunya membentuk huruf X. Bahunya bergetar. Hatinya hancur. Tukang rombeng itu menghentikan gerobaknya. Dengan tenang, dia menghampiri wanita itu sambil menginjak kaleng-kaleng kosong, mainan rusak, dan barang rongsokan lainnya.

"Berikan barang rombengmu," ujar tukang rombeng itu dengan sabar, "dan saya akan memberimu barang baru."

Tukang rombeng itu melepaskan saputangan dari mata wanita itu. Wanita itu memandangnya, dan tukang rombeng itu meletakkan sebuah saputangan linen yang baru dan bersih ke telapak tangannya. Mata wanita itu beralih dari pemberian itu ke pemberinya.

Kemudian, saat tukang rombeng itu menarik gerobaknya kembali, dia melakukan hal yang aneh: Dia mengusapkan saputangan yang penuh noda itu ke wajahnya sendiri, dan kemudian dia mulai menangis. Dia menangis begitu kerasnya seperti wanita itu sehingga pundaknya bergetar. Namun, wanita itu tidak lagi menangis.

"Ini ajaib," ujar saya kepada diri saya sendiri, dan saya mengikuti tukang rombeng seperti seorang anak yang ingin membongkar suatu misteri.

"Rombeng! Rombeng! Baju tua saya ganti dengan baju baru!"

Tidak lama kemudian, ketika matahari makin tinggi, tukang rombeng itu mendatangi seorang gadis yang kepalanya dibalut. Mata gadis itu menatap kosong. Darah membasahi perbannya. Aliran darah mengalir di pipinya. Sekarang, tukang rombeng yang tinggi itu menatap gadis itu dengan rasa kasihan, dan dia mengeluarkan topi wanita dari gerobaknya.

"Berikan perbanmu," ujarnya, "dan saya akan memberimu sebuah topi baru."

Anak gadis itu hanya dapat menatap tukang rombeng dengan heran ketika dia mulai melepaskan perban dari kepalanya dan memasangnya di kepalanya sendiri.

Kemudian, dia memasang topi baru itu di kepala gadis kecil itu. Dan, saya terperangah dengan apa yang saya lihat. Sekarang, ganti kepala tukang rombeng itu yang terluka. Di alisnya mengalir darah segar, darahnya sendiri!

"Rombeng! Rombeng! Saya menerima barang rombeng!" teriak tukang rombeng yang kuat, cerdas tetapi menangis dan berdarah.

Matahari menyilaukan mata saya dan tukang rombeng itu tampak semakin tergesa-gesa.

"Apakah kamu mau bekerja?" tanyanya kepada seorang yang bersandar di tiang telepon. Pria itu menggelengkan kepalanya.

Tukang rombeng itu mendesaknya, "Apakah kamu memiliki pekerjaan?"

"Kamu gila ya?" ujar orang itu sambil menyeringai. Dia tidak lagi bersandar di tiang telepon, tetapi membuka lengan bajunya dan menarik tangannya dari kantung jaketnya. Dia tidak mempunyai tangan.

"Berikan jaketmu kepada saya dan saya akan memberimu jaket saya," perintah tukang rombeng itu.

Suaranya memancarkan otoritas! Pria buntung itu melepaskan jaketnya. Demikian juga tukang rombeng itu. Dan, saya gemetar mengetahui apa yang saya lihat: lengan tukang rombeng itu melekat di jaketnya dan ketika pria buntung itu mengenakan jaket, lengan itu terpasang di pundaknya. Sekarang, tukang rombeng itu buntung sebelah tangannya.

"Pergilah bekerja," ujar tukang rombeng itu.

Setelah itu, tukang rombeng menjumpai seorang pemabuk yang berbaring pingsan di bawah selimut tentara. Pemabuk itu tampak tua dan memprihatinkan. Tukang rombeng itu mengambil selimut pemabuk itu dan membungkuskannya ke tubuhnya sendiri, lalu menyelimuti pemabuk tua itu dengan selimut baru.

Dan, sekarang saya harus berlari supaya bisa mengikuti tukang rombeng itu. Meskipun dia menangis menjadi-jadi, darah bercucuran di wajahnya, menarik gerobak dengan satu lengan, tersandung, terjatuh berkali-kali, kelelahan, tua dan sakit, dia melangkah dengan kecepatan tinggi. Dengan "kaki laba-laba" dia menyusuri lorong-lorong kota itu.

Saya terkejut melihat perubahan pria ini. Saya sedih melihat penderitaannya. Meskipun demikian, saya ingin melihat ke mana dia pergi dengan begitu tergesa-gesa dan saya juga ingin mengetahui apa yang membuatnya melakukan semua ini.

Tukang rombeng yang sekarang bertubuh kecil dan tua itu pergi ke suatu tempat. Dia menghampiri sebuah lubang sampah. Saya ingin membantunya mengerjakan apa pun, namun saya menarik diri dan bersembunyi. Dia mendaki sebuah bukit. Dengan usaha yang keras, dia membersihkan sebuah tempat di bukit itu. Kemudian, dia menarik napas. Dia berbaring. Dia memakai sebuah saputangan dan jaket sebagai bantalnya. Dia menutupi tulang-tulangnya dengan selimut tentara. Dan, dia mati.

Oh, saya menangis menyaksikan kematian seperti itu! Saya masuk ke sebuah mobil rongsokan dan menangis serta meratap seperti seorang yang tidak punya harapan, karena saya mulai mencintai tukang rombeng itu. Setiap wajah yang saya kenal memudar ketika saya melihat wajah tukang rombeng itu. Saya sangat menghargai tukang rombeng itu, tetapi dia mati. Saya menangis terus sampai jatuh tertidur.

Saya tidak tahu -bagaimana saya bisa tahu?- bahwa saya tidur melewati Jumat malam dan Sabtu malam. Tetapi kemudian, pada Minggu pagi, saya tersentak bangun. Cahaya -sinar yang murni- menghunjam wajah saya yang kecut, dan saya mengerjapkan mata saya. Saya melihat keajaiban yang terakhir dan pertama. Tukang rombeng itu bangun, melipat selimutnya dengan amat hati-hati.

Ada goresan luka di dahinya, namun dia hidup! Di samping itu, dia juga sehat! Tidak ada kesan sedih atau tua di wajahnya, dan semua rombengan yang berhasil dikumpulkannya tampak bersih dan bersinar. Saya tidak sanggup menatap semua itu lagi. Saya gemetar melihat semua itu. Saya berjalan mendekati tukang rombeng itu. Saya memberi tahu nama saya dengan rasa malu, karena saya adalah makhluk yang patut dikasihani di depannya.

Kemudian, saya melepaskan pakaian saya di tempat itu, dan saya berkata kepadanya dengan penuh permohonan, "Beri saya pakaian baru."

Dia memakaikan pakaian baru di tubuh saya. Saya menjadi ciptaan baru di tangannya. Tukang rombeng itu, tukang rombeng itu, tukang rombeng itu adalah Kristus!

Selasa, 26 April 2011

Kisah Ibu dan Anak :)

Pada suatu hari ada seorang Pastor yang sedang berkeliling mengunjungi umatnya, dan mampir di rumah sebuah keluarga petani. Dia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah dari seorang anak tunggal dalam keluarga tersebut, yang baru saja berusia empat tahun. Pastor itu akhirnya dapat menemukan satu alasan mengapa anak itu bersikap begitu baik dan manis.

Saat itu, ibu dari anak tersebut sedang berada di dapur untuk mencuci bagian-bagian lemari es yang kotor. Tidak lama kemudian, datanglah anak kecil yang ramah tadi untuk menghampiri ibunya yang sedang sibuk membersihkan lemari es, dengan membawa sebuah majalah ditangannya. “Ibu, apa yang sedang dilakukan oleh orang ini dalam foto ini?” Tanya si bocah dengan penuh penasaran kepada ibunya yang sedang sibuk itu.

Sang ibu segera mengeringkan tangannya, duduk di sebuah kursi, mendudukkan anaknya dalam pangkuannya dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan putranya dengan lemah lembut. Setelah anak itu puas dengan penjelasan ibunya, dia segera turun lalu berlari ke halaman rumah untuk bermain kembali.

Sang Pastor mengomentari perlakuan dan sikap istimewa dari ibu itu terhadap putranya, “Kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu seperti itu, kalau mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tidak sedikit dari mereka yang menyuruh anaknya untuk bertanya pada bapaknya, pembantunya atau pada kakaknya, untuk menjawab pertanyaan mereka. Bisakah ibu memberikan kepada saya sedikit penjelasan dari sikap istimewa yang sudah ibu berikan terhadap putra ibu tadi?”

“Pastor, saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya. Tetapi, belum tentu saya akan mendapatkan kesempatan lagi, di mana pertanyaan itu akan ditanyakan lagi kepada saya, bila saya menyuruh putra saya untuk bertanya kepada orang lain.”

Pergunakan dan hargailah setiap waktu dan kesempatan yang sudah Tuhan percayakan kepada kita ini dengan sebaik, sebijaksana, dan semaksimal mungkin. Karena, belum tentu waktu dan kesempatan yang sama, yang berkualitas, akan terulang dua kali di dalam kehidupan setiap kita. Tuhan Yesus memberkati

kesaksian Jim Caviezel pemeran Yesus dalam The Passion of the Christ.

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”

Senin, 11 April 2011

Hamba Tuhan Sendal Jepit

Ketika anda mendengar kata sendal jepit, apa yang terlintas dalam pikiran anda? Mungkin kemiskinan, kamar mandi atau tidak berharga. Kalau hanya tiga hal itu yang terlintas dalam pikiran anda, berarti anda perlu membuka pikiran anda lebih luas lagi. Faktanya sendal jepit bisa anda temukan dimana-mana, entah di mal, rumah sakit, perumahan mewah, perumahan kumuh, mungkin juga di istana presiden, di mesjid, pura, wihara dan bahkan di gereja anda.

Mungkin anda berpikir bahwa di gereja anda tidak ada sendal jepit karena semua umat gereja anda selalu memakai sepatu. Tetapi cobalah anda bertahan lebih lama di gereja anda setelah selesai ibadah, lihatlah bagaimana sendal jepit menemani kostor gereja anda menyapu atau mengepel lantai gereja anda. Sekarang anda percayakan kalau sendal jepit juga ada di gereja?

Ketika anda membaca judul posting ini mungkin anda bertanya-tanya apa hubungannya sendal jepit dengan hamba Tuhan dan sekarang anda juga semakin bingung kenapa saya ngomongin sendal jepit terus. Saya katakan bahwa seorang hamba Tuhan harus memiliki karakter sendal jepit! Ada filosofi apakah di balik sendal jepit? Saya akan memberitahukannya kepada anda.

� Sendal jepit bisa diterima di mana-mana, di segala kalangan dari yang miskin sampai yang kaya, dari pejabat sampai tukang sapu. Begitupun seorang hamba Tuhan, anda harus bisa diterima di segala kalangan, jangan hanya mau berada di posisi nyaman anda bersama orang-orang kaya dan juga jangan minder sehingga anda tidak berani bergaul dengan kalangan jet set.

� Pernahkah anda melihat sendal jepit yang mengambang di kala banjir atau mengambang di sungai? Apa yang anda bisa pelajari dari hal ini? Sebagai hamba tuhan Anda juga tidak boleh tenggelam di dalam permasalahan hidup anda atau gereja anda. Anda harus dapat mengambang mengatasi masalah-masalah hidup ini & tentunya hanya ada satu jalannya yaitu bergantung penuh kepada Tuhan Yesus Kristus.

� Faktanya sendal jepit lebih dekat dengan orang yang memakainya, kenapa saya katakan begitu? Coba anda perhatikan, sepatu mahal anda hanya berada di depan pintu atau di atas rak sepatu anda. Tetapi sendal jepit anda bisa masuk kedalam kamar tidur anda bahkan kamar mandi anda. Begitupun seorang hamba Tuhan, anda harus bisa dipercaya oleh orang yang anda layani & anda juga harus bisa diterima oleh orang yang anda layani. Anda harus melayani dengan sungguh-sungguh, tak perduli apapun kondisinya, seperti sendal jepit yang setia menemani kemanapun.

� Berapakah harga sendal jepit?? Harga sendal jepit sangatlah murah, mungkin harga sendal jepit hanya 10 persen, 5 persen atau mungkin kurang dari 1 persen dari harga sepatu anda. Tetapi peranan sendal jepit sungguh luar biasa. Jadi sebagai hamba Tuhan anda juga jangan menghitung berapa rupiah yang akan anda terima dari pelayanan anda tetapi berapa besar peranan anda bagi orang yang anda layani untuk lebih dekat lagi kepada Kristus.

� Satu hal yang paling penting, pernahkah anda melihat sendal jepit di tong sampah? Kalau belum pernah nanti suatu saat kalau anda melihat, coba anda perhatikan kenapa sendal jepit itu berada disana? Biasanya sendal jepit dibuang karena pengikatnya sudah terlepas dari dasar karetnya. Lalu apa hubungannya dengan hamba Tuhan? Saya katakan dengan tegas, ketika anda sudah terlepas dan tidak terikat erat dengan Yesus Kristus sebagai dasar hidup anda, maka tempat anda pun di sana, di tong sampah yang akan di buang ke neraka! Seorang hamba Tuhan tidak berguna lagi ketika ia sudah telepas dari Kristus.