Share it

Kumpulan Renungan II


Oleh : Marvel Nicolas
5 Bola Kehidupan

"Bayangkan hidup sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola tersebut bernama : Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit dan kita harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara".
Kita akan segera mengerti bahwa ternyata "Pekerjaan" hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya maka ia akan dapat memantul kembali.
Tetapi empat bola lainnya Keluarga, Kesehatan, Teman dan Spirit terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan dapat terluka, tertandai, tergores, rusak atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan ingatlah mereka tidak akan pernah kembali seperti aslinya.

Kita harus memahaminya benar dan berusaha keras untuk menyeimbangkannya.
Bagaimana caranya?
* Jangan rusak nilai kita dengan membandingkannya dengan nilai orang lain. Perbedaan yang ada diciptakan untuk membuat masing-masing diri kita spesial.
* Jangan tetapkan tujuan dan sasaran kita dengan mengacu pada apa yang orang lain anggap itu penting. Hanya kita yang dapat mengerti dan merasa "apa yang terbaik untuk kita".
* Jangan menganggap remeh sesuatu yang dekat di hati kita. Melekatlah padanya seakan-akan ia adalah bagian yang membuat kita hidup, dimana tanpanya, hidup menjadi kurang berarti.
* Jangan biarkan hidup kita terpuruk dengan hidup di "masa lampau" atau dalam mimpi masa depan. Satu hari hidup pada suatu waktu berarti hidup untuk seluruh waktu hidupmu.
* Jangan menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Tidak ada yang benar-benar kalah sampai kita berhenti berusaha.
*Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ketidaksempurnaan inilah yang merupakan sulaman benang rapuh untuk mengikat kita satu sama lain.
* Jangan takut menghadapi resiko. Anggaplah resiko sebagai kesempatan kita untuk belajar bagaimana menjadi berani.
* Jangan berusaha untuk mengunci Cinta memasuki hidupmu dengan berkata : "tidak mungkin saya temukan".
Cara tercepat mendapatkan cinta adalah dengan memberinya,
cara tercepat untuk kehilangan cinta adalah dengan menggenggamnya sekencang mungkin, dan cara terbaik untuk menjaga agar cinta tetap tumbuh adalah dengan memberinya "sayap".

* Janganlah berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dari mana kita berasal dan juga lupa sedang menuju ke mana kita.

* Jangan lupa bahwa kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai.
* Jangan takut untuk belajar sesuatu. Ilmu pengetahuan adalah harta karun yang selalu dapat kita bawa kemanapun tanpa membebani.

* Jangan gunakan waktu dan kata-kata dengan sembrono. Karena keduanya tidak akan mungkin kita ulang kembali jika telah lewat. Hidup bukanlah pacuan melainkan suatu perjalanan dimana setiap tahap sepanjang jalannya harus dinikmati.

* Dan akhirnya resapilah :

MASA LALU adalah SEJARAH,
MASA DEPAN merupakan Misteri,
dan
SAAT INI adalah KARUNIA.





57 Sen
Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena “sudah terlalu penuh”.
Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis?
“Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu” kata si gadis kecil.
Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak-acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil.
Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaannya, sehingga pada waktu sebelum tidur dimalam itu, ia sempat memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah-olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus.
Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur. Sejak saat itu, si gadis kecil berkawan dengan sang pastur.
Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggalnya didaerah kumuh,dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis di rapihkan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah. Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya:
“Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu”
Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uangnya sampai terkumpul sejumlah 57 sen untuk maksud yang sangat mulia.
Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja.
Namun Ceritanya tidak berakhir sampai disini. Suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus menerus. Sampai akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 sen, setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu.
Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu (pada pergantian abad, jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton).
Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan,namun perduli pada sesama yang menderita. Tanpa pamrih, tanpa pretensi.
Saat ini, jika anda berada di Philadelphia, lihatlah Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan Temple University, tempat beribu ribu murid belajar. Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus (yah,beratus ratus) pengajarnya, semuanya itu untuk memastikan jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah MInggu.
Didalam salah satu ruangan bangunan ini, tampak terlihat foto si gadis kecil, yang dengan tabungannya sebesar 57 sen, namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama yang telah membuat sejarah. Tampak pula berjajar rapih foto sang pastur yang baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis keci miskin itu, yaitu pastor DR.Russel H.Conwell penulis buku “Acres of Diamonds” - a true story.

Seratus Rupiah
Suatu hari, saya bersama beberapa rekan, mengunjungi komunitas anak jalanan di
Kampung Jembatan, saat itu kami hendak memberikan meja dan juga beberapa
sumbangan kecil kepada mereka.
Mereka sedang istirahat setelah selesai mengerjakan kerajinan tangan, lumayan
juga mereka dapat pesanan untuk membuat souvenir. Kami kemudian makan bersama
dan mengobrol satu sama lain.
Kemudian saya dan beberapa teman berjalan mengunjungi rumah singgah lainnya,
sambil berjalan, saya memperhatikan sekeliling, dan juga mendengarkan percakapan
yg terjadi antar mereka.
Tiba-tiba, seorang anak mendapatkan uang seratus rupiah dikakinya kemudian ia
melemparkannya lagi, melihat hal itu temennya mengambil uang seratus rupiah itu,
lalu berkata kepada temennya yang membuang uang itu, walau bagaimana pun ini
tetap uang, dan juga berharga, coba saja tanpa 100 rupiah ini ngak ada tuh
goceng (lima ribu rupiah), tetap saja cuma 4900 ngak jadi 5000.
Saya tertarik akan obrolan itu, dan tersenyum, wah bener dia berkata, tanpa 100
rupiah ngak mungkin jadi 5000.
Hal itu membuat saya teringat kisah di pagi hari ini, saya sering berdiskusi di
internet, dan memang saya sering memberikan gambaran, penjelasan kepada mereka
yang memang membutuhkan.
Saat ini sedang ada seorang yang sedang bimbang dan stress, banyak dari
rekan-rekan yang sudah berusaha untuk memberikan pandangan termasuk juga diriku.
Aku masih terus memberikan dia pengertian akan keyakinannya, dan juga
kehidupannya, ngak tahu kenapa, aku masih kepikiran, kemarin siang pas aku
tidur, aku mendapatkan bisikan untuk bangun dan menulis lagi, dan aku tuliskan
lagi pandangan untuk dia.
Pagi ini aku dapat email (surat) dari rekanku yang lain, di email itu
dituliskan, bung vids sudahlah mengapa anda mau bercapek-capek untuk memberikan
penjelasan, kalau toh dia tidak bisa menerima iman kristianinya biarkan saja toh
cuma satu domba yang hilang.
Temanku ini kasihan dengan aku yang susah-susah mau memberikan pandangan kepada
orang yg sedang bimbang itu.
Aku terkesan dengan email itu, dan aku pun menjawabnya, bagiku, jika aku bisa
menjelaskannya, itu bukan hanya untuk diri orang tersebut tapi bisa berguna bagi
yang lain dan juga bagi diriku, dan juga aku tidak masalah dengan hal ini,
karena aku pun bisa lebih mengerti lagi akan Kasih Yesus.

Teringat kembali aku dalam kisah perumpamaan tentang Domba yang hilang (Lukas
15:1-7) .Ayat ke 4 : "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan
jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan
puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia
menemukannya? Ayat ke 5: Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya
dengan gembira, Ayat ke 6: dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan
tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama
dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Ternyata walau bagaimanapun kita ini sangat berarti bagi Tuhan, Dia adalah
Gembala terbaik, Dia tetap mencari kita yg kecil ini, walau Dia telah mempunyai
banyak domba, dan hanya satu domba yang hilang, dia akan mencarinya.

Dari sini aku belajar untuk bisa menjadi gembala yang baik, dan mengajak kita
semua untuk meneladani hal itu, ternyata walau kita menggenggam uang 5000
rupiah, dan sekeping uang 100 rupiah itu ternyata berarti sekali, jika tidak ada
sekeping 100 rupiah, maka tidak adalah 5000 rupiah.

Kita-kita ini adalah kepingan 100 rupiahan, dimana saat kita terjatuh / hilang,
pemilik yang baik akan terus mencari kita, dan ketika dia menemukannya kembali
dia sangat gembira, karena genaplah kita berkumpul bersama, menjadi 5000 rupiah.
Kadang kala kita merasa tidak berhak, merasa kita hanya sebagian kecil, kita
jatuh/berdosa tidak akan diperhatikan, ternyata Yesus telah mengatakan, bahwa Ia
memperhatikan domba-dombanya, dan Ia tetap mencari kita walau kita berdosa, dan
ketika kita dipeluknya maka Dia akan berpesta.
Lihatlah pada ayat ke 7: Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita
di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat. lebih daripada sukacita karena
sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Terima kasih Tuhan…. aku yang sungguh tidak berharga di mata orang lain, tapi di
Mata-Mu, aku sangat berharga.
---dikutip dari 1500 Cerita Bermakna Buku 1---
Diam

Starr Daily, oarng yang tahu banyak tentang seni penyembuhan rohani berkata
" Sepengetahuan saya, tak ada seorang pun dari antara kenalan saya yang tahu
bagaimana mempraktekkan diam dan berdima diri, pernah sakit."

Memang, praktek berdiam diri lebih menenangkan dan menyembuhkan daripada
kebanyakan obat-obatan. Pascal, seorang ilmuwan besar berkata " Setelah
mengamati manusia selama bertahun-tahun, saya mengambil kesimpulan bahwa
salah satu kesulitan terbesar manusia adaalh ketidakmampuannya untuk berdiam
diri"

Charles L. Allen

Orang yang sangat aktif


Konon ada seorang pria yang benar-benar kecanduan kerja dan tidak berani memboroskan satu menit pun dalam kehidupannya yang penting.

Pada perjalana ke kota dia merencanaka toko-toko mana yang akan dikunjunginya.Ketika sudah masuk dalam toko, dia merencanakan ke mana dia akan berjalan-jalan.Selama berjalan-jalan, dia merencanakan ke mana dia harus makan.
Sementar makan dia merencanakan apa yang harus dimakan sebagai pencuci mulut.
Sementara makan makanan pencuci mulut, dia merencanakan untuk pulang dan memikirkan bis apa yang harus ditumpani untuk pulang.Orang ini tidak pernah memperhatikan hal yang sedang dilakukannya.Dia selalu memikirkan kegiatan berikutnya.Kemudian pada suatu hari dia menghadapi suatu yang belum ia PERSIAPKAN menghadapinya yakni kematiannya.
Sementara meregang nyawa ia terkejut melihat betapa hampa dan tak bermakna
hidupnya.Dia tidak pernah hidup di dalam MASA KINI.

Willi Hoffsuemer


Melihat Kotoran

Kompleks Duke Devonshire di Inggris memiliki banyak lukisan berharga dan terbuka untuk umum. Suatu hari ada sekelompok orang berjalan-jalan di ruangan yang luas sambil menikmati lukisan-lukisan yang ada. Ada seorang wanita yang tidak pernah berbicara satu kata pun melainkan terus-menerus mendekati sebuah lukisan dan mengamatinya dengan teliti. Setelah beberapa saat, ada seorang yang meminta pendapat wanita itu tentang semua lukisan disana.

Dia berkata dengan semangat " Sempurna!! Saya tidak bisa menemukan seberkas
debu pun dalam lukisan-lukisana itu"

Betapa seringnya kita tidak melihat keindahan hidup karena kita begitu bermaksud untuk menemukan kesalahan-kesalahan nya.

Uplift




Cemas

Konon J.arthur Rank, produser film Inggris mempunyai cara tersendiri untuk menangani kecemasa. Dia memutuskan untuk menangani semua kecemasannya dalam satu hari khusus, Rabu. Dia menamakan itu Klub Kecemasan Hari Rabu.

Bila dia merasa cemas di hari hari lain, dia menuliskannya dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak. Biasanya, di saat dia membuka kotak itu pada hari Rabu, ternyata kebanyakan hal yang mencemaskannya itu sudah beres. Sisanya, dia masukkan kembali ke dalam kotak untuk dibuka pada hari Rabu berikutnya!

Dengan jalan inilah dia menyembuhkan dirinya dari kebiasaan merasa cemas.

Norman Vincent Peale.

50 Tahun Salah Paham
Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat
senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya
yang ke-50. Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu
penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta
seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat
serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang
tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.
Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara,
yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan
tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa
dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain
adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang
mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat
terkenal.
“Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal. Tetapi, inilah
ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya
apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan
segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan,
kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi,” kata sang
pejabat senior dalam pidato singkatnya.
Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak
khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil
piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum
mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala
dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri
menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah
sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana
romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.
Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar
isak tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, iska tangis itu
meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa
bahagia mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang
pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan
bertanya “Mengapa engkau menangis, isteriku?”
Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan “Suamiku…sudah 50 tahun
usia pernikahan kita. Selama itu. aku telah dengan melayani dalam duka
dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela
selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh
tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian
yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku
sukai.” tutur sang isteri.
Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca
pula, ia berkata kepada isterinya,” Isteriku yang tercinta…50 tahun
yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku
sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah
pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras,
membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu.”
Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, “Demi Tuhan,
setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan
ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan
emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling
berharga buatmu.”
Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi “Walaupun telah
hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita
tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu
bagaimana cara membuatmu bahadia.” Akhirnya, sang pejabat memeluk
isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat
keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua
pasangan tersebut.
Arti cerita diatas:
Bisa saja, sepasang suami - isteri saling mencintai dan hidup serumah
selama bertahun-tahun lamanya. Tetapi jika di antaranya tidak ada saling
keterbukaan dalam komunikasi, maka kemesraan mereka sesungguhnya rawan
dengan konflik. Kebiasaan memendam masalah itu cukup riskan karena
seperti menyimpan bom waktu dalam keluarga. Kalau perbedaan tetap
disimpan sebagai ganjalan dihati, tidak pernah dibiacarakan secara tulus
dan terbuka, dan ketidakpuasan terus bermunculan, maka konflik akan
semakin tak tertahankan dan akhirnya bisa meledak. Jika keadaan sudah
seperti ini, tentulah luka yang ditimbulkan akan semakin dalam dan terasa
lebih menyakitkan.
Kita haruslah selalu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan
dilandasi kasih, kejujuran, kesetiaan, kepercayaan, pengertian dan
kebiasaan berpikir positif.