oleh -Priscillia Kiroh-
Peristiwa ini terjadi pada hari senin malam tgl 14 September 2009. Jam 7 mlm keluarga kami baru selesai makan malam sehabis makan tiba2 lampu padam. Jam 8 mlm suamiku kembali ke tempat kerja dan saya bersama ke2 anak saya masuk tidur. Karena udara pada malam itu terasa panas saya keluar dari kamar menuju ke teras untuk mendapatkan udara sejuk. Karena saya merasa udara di teras terasa sejuk saya mengambil karpet plastik dan saya alas dilantai teras dan saya berbaring.
Kemudian datang salah satu orang kos yang bernama keti, dia menemani saya dan kami berdua ber-cakap2. Sementara kami berdua bercerita datang lagi salah satu orang kos bernama Hilda. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sementara kami ber3 bercerita suamiku pulang dari tempat kerja jam 9.15 suamiku langsung masuk ke dalam tiba2 dia berteriak kebakaran dan berlari keluar. Kami semua langsung panik dan saya berlari kedalam untuk melihat sumber api dari mana ternyata api berasal dari kamarnya Hilda. Kemudian saya dan suami berlari ke kamar paling depan untuk mengambil ke2 anak kami yang sedang tertidur lelap. Kami langsung berlari keluar menuju ke rumah tetangga kami.
Kemudian saya kembali ke rumah menuju kamar saya untuk mengambil barang2 yang berharga. Waktu itu api masih dibagian belakang. Sementara saya men-cari2 barang apa yang akan diambil suamiku masuk kekamar dan menarik tanganku untuk keluar. Badan saya terasa panas ternyata api sudah menjalar ke depan. Saya dan suamiku langsung berlari keluar. Sampai di halaman rmh saya langsung menangis sambil berteriak oh TUHAN mengapa peristiwa ini harus terjadi pada keluarga kami. Teman saya datang dan membawa saya dan suami saya kerumahnya. Sampai dirumahnya mereka memberikan segelas air putih dan menghibur saya lewat nasehat2.
Akhirnya saya menjadi tenang dan duduk di depan rumah teman saya sambil memandang kobaran api si jago merah yang membakar tempat tinggal kami. Orang-orang banyak yang berdatangan. Lapangan bantik dan jalan belakang dipenuhi dengan orang2. Mereka datang dan memberikan kata2 nasehat dan dorongan kepada kami. Tak lama kemudian datang mobil pemadam dan kepolisian. Disaat saya tenang suamiku yang shok tapi syukur kpd TUHAN dia langsung tenang kembali. Setelah api sudah padam saya kembali ke rumah untuk melihat situasi dan keadaan rumah kami. Saya melihat rumah kami sudah habis dari depan sampai tempat makan belakang. Jam 12 saya dan suami saya ke rumah kakak saya. Dengan terjadinya musibah ini satu hal yang saya syukuri yaitu keluarga kami dan semua orang2 kos selamat.
Hati kami juga sangat terharu dengan kepedulian dari semua orang yang turut prihatin dengan musibah kebakaran yang terjadi pada kel kami Sege Kiroh. Akhir dari tulisan ini saya ingin mengatakan bahwa TUHAN adalah sumber kekuatan dan penghiburan bagi keluarga kami. Apa yang TUHAN buat baik adanya dan TUHAN mempunyai rencana yang indah yang tlah TUHAN siapkan bagi masa depan yang penuh harapan
SEMUA HANYA KARENA KASIH DAN KEMURAHAN TUHAN
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, bulan berganti bln, tak terasa 2 bln sudah berlalu. Masih terbayang dlm ingatanku peristiwa 2 bln yg lalu tepatx tgl 14 sept hari senin mlm jam 9, keluarga kami mengalami suatu musibah yaitu rumah kami mengalami kebakaran. Tapi puji syukur kami panjatkan kpd TUHAN kalau sampai hari ini keluarga kami masih diberikan kesehatan dan kekuatan oleh TUHAN. Sungguh segala pujian, kehormatan dan kemuliaan hanya untuk BAPA di Sorga yg empunya langit dan bumi. Sungguh TUHAN amat baik terlalu baik dan sangat baik dlm kehidupan keluarga kami.
Apa yg tak pernah kami pikirkan itu yg TUHAN sediakan bagi keluarga kami dimana pada hari sabtu tgl 14 Nov 2009 keluarga kami boleh menempati tempat tinggal yg baru. Hanya dlm jangka waktu 2 bln TUHAN menggantikan rumah kami yg terbakar dgn yg baru sekalipun hanya kecil mungil tapi kami sangat bersukacita. Ini semua boleh terjadi hanya karena Kasih, Anugrah, Kemurahan dan Berkat TUHAN yg sudah berlaku dlm kehidupan rumah tangga kami. Saya sebagai seorang ibu sangat senang melihat kegembiraan ke2 anak saya ketika mereka melompat lompat di atas tempat tidur yg baru. Sungguh luar biasa apa yg sdh TUHAN buat bagi keluarga kami.
Di akhir catatan saya, sekali lagi saya panjatkan pujian dan ucapan syukur kpd BAPA di Sorga kpd TUHAN YESUS KRISTUS dan kpd ROH KUDUS yg sdh memberikan kekuatan, penghiburan, kemurahan, anugrah dan berkat yg besar bagi keluarga kami. Terima kasih juga kpd semua saudara saudari sekalian dan semua pihak yg sdh membantu dan memberikan perhatian bagi keluarga kami kel Sege Kiroh. SHALOM PUJI TUHAN AMIN :-)
1 Yohanes 4:10 "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita"
Kamis, 21 Oktober 2010
Mukjizat itu nyata
Salam kasih Tuhan Yesus
Saya akan mensharingkan pengalaman saya bersama Tuhan Yesus.
Mahasiswi ini sudah lama jantungnya bocor sejak masih kecil, namun semangat hidupnya begitu kuat.
Begini Ceritanya :
Pada suatu hari seorang mahasiswi datang kepadaku, untuk melakukan bimbingan Kuliah Kerja Praktek, di mana sebelum nya si mahasiswi itu sakit dan dirawat di rumah sakit yang ada di Medan, setelah agak sehat dia ke Jakarta lagi untu menyelesaikan kuliahnya dengan ditemani pacarnya. Waktu ketemu dengan saya, wajahnya kelihatan hitam seperti seorang yang sudah meninggal. kemudian saya menawarkan kesembuhan bersama Yesus melalui doa bersamanya, lalu ditanggapi dengan baik oleh mahasiswinya.
Doa bersama dimulai dan saya menopangkan tangan saya ke kepalanya dan mengarahkan tangan saya ke arah tubuhnya dengan memohon kepada Tuhan Yesus agar semua sakit yang diderita mahasiswi ini bisa diangkat dan disembuhkan.
Setelah berdoa bersama, saya menanyakan kepada Mahasiswi itu apa yang dirasakan selama berdoa tadi. lalu mahasiswi itu bercerita, saya melihat malaikat ada dua, ada yang hitam dan ada yang putih, kemudian saya berkata kepada mahasiswi kamu harus mengikuti malaikat yang putih, lalu mahasiswi menjawab ya pak.
Besok Pagi mahasiswi itu datang lagi kepada saya untuk bimbingan lagi, lalu spontan saya berkata apa kamu ada mimpi, lalu mahasiswi itu berkata ada pak, coba ceritakan kepada saya. Setelah itu mahasiswi bercerita soal mimpi itu, begini ceritanya : mahasiswi berkata dalam mimpi saya, saya bertemu dengan kedua malaikat itu lagi, lalu saya bertanya kamu ikut malikat yang mana, kata mahasiswi, saya ikut malaikat putih pak, kemudian saya berkata kamu akan sembuh penyakitnya.
Setelah beberapa hari kemudian mahasiswi datang lagi kepada saya, kata mahasiswi saya sudah periksakan penyakit saya ke dokter dan dokter itu berkata sudah sembuh total, maka saya berpesan kepada mahasiswi, anda harus bersyukur kepada Tuhan Yesus.
Motivasi :
Bagi orang yang percaya dan mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, maka akan memperoleh berkat kelimpahan. amin
Salam Kasih
Tuhan Memberkati
Oleh : Kasih Yahya
Saya akan mensharingkan pengalaman saya bersama Tuhan Yesus.
Mahasiswi ini sudah lama jantungnya bocor sejak masih kecil, namun semangat hidupnya begitu kuat.
Begini Ceritanya :
Pada suatu hari seorang mahasiswi datang kepadaku, untuk melakukan bimbingan Kuliah Kerja Praktek, di mana sebelum nya si mahasiswi itu sakit dan dirawat di rumah sakit yang ada di Medan, setelah agak sehat dia ke Jakarta lagi untu menyelesaikan kuliahnya dengan ditemani pacarnya. Waktu ketemu dengan saya, wajahnya kelihatan hitam seperti seorang yang sudah meninggal. kemudian saya menawarkan kesembuhan bersama Yesus melalui doa bersamanya, lalu ditanggapi dengan baik oleh mahasiswinya.
Doa bersama dimulai dan saya menopangkan tangan saya ke kepalanya dan mengarahkan tangan saya ke arah tubuhnya dengan memohon kepada Tuhan Yesus agar semua sakit yang diderita mahasiswi ini bisa diangkat dan disembuhkan.
Setelah berdoa bersama, saya menanyakan kepada Mahasiswi itu apa yang dirasakan selama berdoa tadi. lalu mahasiswi itu bercerita, saya melihat malaikat ada dua, ada yang hitam dan ada yang putih, kemudian saya berkata kepada mahasiswi kamu harus mengikuti malaikat yang putih, lalu mahasiswi menjawab ya pak.
Besok Pagi mahasiswi itu datang lagi kepada saya untuk bimbingan lagi, lalu spontan saya berkata apa kamu ada mimpi, lalu mahasiswi itu berkata ada pak, coba ceritakan kepada saya. Setelah itu mahasiswi bercerita soal mimpi itu, begini ceritanya : mahasiswi berkata dalam mimpi saya, saya bertemu dengan kedua malaikat itu lagi, lalu saya bertanya kamu ikut malikat yang mana, kata mahasiswi, saya ikut malaikat putih pak, kemudian saya berkata kamu akan sembuh penyakitnya.
Setelah beberapa hari kemudian mahasiswi datang lagi kepada saya, kata mahasiswi saya sudah periksakan penyakit saya ke dokter dan dokter itu berkata sudah sembuh total, maka saya berpesan kepada mahasiswi, anda harus bersyukur kepada Tuhan Yesus.
Motivasi :
Bagi orang yang percaya dan mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus, maka akan memperoleh berkat kelimpahan. amin
Salam Kasih
Tuhan Memberkati
Oleh : Kasih Yahya
Jumat, 08 Oktober 2010
Sebuah Kursi Kosong
Seorang gadis mengundang pastor Paroki untuk datang ke rumahnya mendoakan ayahnya yang sedang sakit. Pada waktu pastor datang, ia mendapati seorang bapak tua yang sedang berbaring lemah di tempat tidur, dan sebuah kursi kosong di depannya.
“Tentu anda telah menanti saya”, kata si Pastor.
“Tidak, siapakah anda?”, tanya bapak itu.
Pastorpun memperkenalkan diri dan berkata, “Saya melihat kursi kosong ini, saya kira Bapak sudah tahu kalau saya akan datang.”
“Oo, kursi itu,” kata si Bapak, “Maukah anda menutup pintu kamar itu?”
Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pastorpun menutup pintu kamar.
“Saya mempunyai sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal sayapun tidak tahu,” kata si Bapak. “Seumur hidupku saya tidak pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan kotbah Pastor tentang bagaimana caranya berdoa, tapi semuanya itu berlalu begitu saja dari kepala saya.”
“Semua cara sudah saya coba, tapi selalu gagal,” lanjut si Bapak, “Sampai pada suatu hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Yesus.”
“Dia mengajari saya begini : duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu bayangkan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantuNya lho, karena Ia telah berjanji “akan senantiasa besertamu”, kemudian berbicaralah biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini.”
“Sayapun mencoba cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat saya bercakap-cakap dengan kursi kosong.”
Si Pastor sangat tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya Sakramen Perminyakan, Pastorpun pulang. Dua hari kemudian, si gadis memberitahu Pastor kalau ayahnya telah meninggal tadi siang.
“Apakah ia meninggal dengan damai?” tanya si Pastor.
“Ya, waktu saya pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya. Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah sudah meninggal.”
“Tapi ada suatu kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk diatas tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidur. Bagaimana pendapat Pastor?”
Sambil mengusap air matanya, Pastorpun berkata, “Saya berharap kita semua kelak dapat meninggal dengan cara itu.”
“Tentu anda telah menanti saya”, kata si Pastor.
“Tidak, siapakah anda?”, tanya bapak itu.
Pastorpun memperkenalkan diri dan berkata, “Saya melihat kursi kosong ini, saya kira Bapak sudah tahu kalau saya akan datang.”
“Oo, kursi itu,” kata si Bapak, “Maukah anda menutup pintu kamar itu?”
Sambil bertanya-tanya dalam hati, Pastorpun menutup pintu kamar.
“Saya mempunyai sebuah rahasia, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya, bahkan putri tunggal sayapun tidak tahu,” kata si Bapak. “Seumur hidupku saya tidak pernah tahu bagaimana caranya berdoa. Di gereja saya pernah mendengarkan kotbah Pastor tentang bagaimana caranya berdoa, tapi semuanya itu berlalu begitu saja dari kepala saya.”
“Semua cara sudah saya coba, tapi selalu gagal,” lanjut si Bapak, “Sampai pada suatu hari, tepatnya 4 tahun yang lalu, seorang sahabat karib saya mengajari suatu cara yang amat sederhana untuk dapat bercakap-cakap dengan Yesus.”
“Dia mengajari saya begini : duduklah di kursi, letakkan sebuah kursi kosong di depanmu, lalu bayangkan Yesus duduk di atas kursi tersebut. Ini bukan hantuNya lho, karena Ia telah berjanji “akan senantiasa besertamu”, kemudian berbicaralah biasa seperti halnya kamu sedang bercakap-cakap dengan saya saat ini.”
“Sayapun mencoba cara yang diberikan teman saya itu, dan sayapun dapat menikmatinya. Setiap hari saya melakukannya sampai beberapa jam. Semuanya itu saya lakukan secara sembunyi-sembunyi, agar putri saya tidak menganggap saya gila kalau melihat saya bercakap-cakap dengan kursi kosong.”
Si Pastor sangat tersentuh akan cerita Bapak itu, dan memberi dorongan agar si Bapak tetap melanjutkan kebiasaan berdoa tersebut. Setelah berdoa bersama, dan memberinya Sakramen Perminyakan, Pastorpun pulang. Dua hari kemudian, si gadis memberitahu Pastor kalau ayahnya telah meninggal tadi siang.
“Apakah ia meninggal dengan damai?” tanya si Pastor.
“Ya, waktu saya pamit untuk membeli beberapa keperluan ke toko siang itu, ayah memanggil saya dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai saya, lalu mencium kedua pipi saya. Satu jam kemudian, pada waktu saya pulang dari berbelanja, saya mendapati ayah sudah meninggal.”
“Tapi ada suatu kejadian yang aneh waktu ayah meninggal. Ia meninggal dalam posisi duduk diatas tempat tidur dengan kepala tersandar pada kursi kosong yang ada di sebelah tempat tidur. Bagaimana pendapat Pastor?”
Sambil mengusap air matanya, Pastorpun berkata, “Saya berharap kita semua kelak dapat meninggal dengan cara itu.”
Tuhan Itu Ada
Ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun lalu di USC (University of Southern California). Di sana ada seorang profesor filosofi yang mengaku atheis. Tujuan utamanya selama kelas semester adalah berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Para mahasiswanya selalu takut untuk berargumentasi dengan dia karena logikanya yang sangat masuk akal.
Telah 20 tahun berselang ia mengajar kelasnya dan tidak seorang pun berani menentangnya. Beberapa mahasiswa memang pernah mencoba, tapi tidak seorangpun berhasil karena reputasinya. Di akhir setiap semester, pada hari terakhir, dia selalu berkata di hadapan 300 orang mahasiswanya, "Bila ada yang masih percaya pada Yesus, silahkan berdiri!" Selama duapuluh tahun, tidak seorang pun yang berani berdiri. Mahasiswanya sudah tahu apa yang akan dilakukan profesor tsb selanjutnya. ia akan berkata, "Siapapun yang percaya pada Tuhan adalah seorang yang tolol. Bila Tuhan memang ada, Ia mampu memberhentikan kapur ini jatuh mengenai lantai dan tidak pecah. Contoh sederhana untuk membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan memang Ia tidak dapat melakukannya." Dan setiap tahun, profesor tersebut menjatuhkan kapur ke lantai dan kapur itu pecah menjadi ratusan potongan. Semua mahasiswanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menyaksikannya. Kebanyakan mahasiswanya terlalu takut untuk berdiri.
Beberapa tahun kemudian seorang mahasiswa muda mendaftarkan diri pada kelas profesor tsb. Ia adalah seorang Kristen dan sudah mendengar cerita tentang bakal profesornya. Ia wajib mengikuti kelas profesor tersebut dan dia merasa gentar menghadapinya. Untuk 3 bulan semesternya, ia berdoa setiap pagi supaya ia dimampukan untuk berdiri, apapun yang akan dikatakan profesor dan yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang dapat melemahkan imannya, ia hanya berharap. Akhirnya hari terakhir itu tiba. Profesor tersebut berkata, "Bila ada di antara anda yang masih percaya pada Tuhan, silahkan berdiri." Profesor dan 300 orang mahasiswanya terkejut melihat seorang mahasiswa muda yang berdiri di bagian belakang kelas. Profesor tersebut berteriak,"Anda bodoh !!! Bila Tuhan benar-benar ada Ia akan mampu mencegah kapur ini pecah saat menyentuh lantai!"Ia bersiap melepaskan kapur yang dipegangnya.Tapi saat ia melepaskannya, kapur tersebut terlepas dari jarinya dan masuk ke lengan bajunya, meluncur terus ke celananya melewati kakinya hingga ke sepatunya. Saat menyentuh lantai kapur tersebut tidak pecah.
Kesombongan profesor luluh saat ia melihat kapur tersebut. Ia menatap mahasiswa muda tadi dan segera lari dari ruangan kuliah. Mahasiswa yang berdiri tadi, berjalan ke depan kelas dan berbagi iman tentang Yesus selama 30 menit. Tiga ratus mahasiswa bertahan dan mendengarkan saat ia menceritakan kasih Tuhan untuk mereka dan KuasaNya melalui Yesus.
"Stand Up for Jesus! "Ye soldier of God ! "MULIAKAN NAMA YESUS KRISTUS DI TEMPAT YANG MAHA TINGGI"
Telah 20 tahun berselang ia mengajar kelasnya dan tidak seorang pun berani menentangnya. Beberapa mahasiswa memang pernah mencoba, tapi tidak seorangpun berhasil karena reputasinya. Di akhir setiap semester, pada hari terakhir, dia selalu berkata di hadapan 300 orang mahasiswanya, "Bila ada yang masih percaya pada Yesus, silahkan berdiri!" Selama duapuluh tahun, tidak seorang pun yang berani berdiri. Mahasiswanya sudah tahu apa yang akan dilakukan profesor tsb selanjutnya. ia akan berkata, "Siapapun yang percaya pada Tuhan adalah seorang yang tolol. Bila Tuhan memang ada, Ia mampu memberhentikan kapur ini jatuh mengenai lantai dan tidak pecah. Contoh sederhana untuk membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan memang Ia tidak dapat melakukannya." Dan setiap tahun, profesor tersebut menjatuhkan kapur ke lantai dan kapur itu pecah menjadi ratusan potongan. Semua mahasiswanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menyaksikannya. Kebanyakan mahasiswanya terlalu takut untuk berdiri.
Beberapa tahun kemudian seorang mahasiswa muda mendaftarkan diri pada kelas profesor tsb. Ia adalah seorang Kristen dan sudah mendengar cerita tentang bakal profesornya. Ia wajib mengikuti kelas profesor tersebut dan dia merasa gentar menghadapinya. Untuk 3 bulan semesternya, ia berdoa setiap pagi supaya ia dimampukan untuk berdiri, apapun yang akan dikatakan profesor dan yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang dapat melemahkan imannya, ia hanya berharap. Akhirnya hari terakhir itu tiba. Profesor tersebut berkata, "Bila ada di antara anda yang masih percaya pada Tuhan, silahkan berdiri." Profesor dan 300 orang mahasiswanya terkejut melihat seorang mahasiswa muda yang berdiri di bagian belakang kelas. Profesor tersebut berteriak,"Anda bodoh !!! Bila Tuhan benar-benar ada Ia akan mampu mencegah kapur ini pecah saat menyentuh lantai!"Ia bersiap melepaskan kapur yang dipegangnya.Tapi saat ia melepaskannya, kapur tersebut terlepas dari jarinya dan masuk ke lengan bajunya, meluncur terus ke celananya melewati kakinya hingga ke sepatunya. Saat menyentuh lantai kapur tersebut tidak pecah.
Kesombongan profesor luluh saat ia melihat kapur tersebut. Ia menatap mahasiswa muda tadi dan segera lari dari ruangan kuliah. Mahasiswa yang berdiri tadi, berjalan ke depan kelas dan berbagi iman tentang Yesus selama 30 menit. Tiga ratus mahasiswa bertahan dan mendengarkan saat ia menceritakan kasih Tuhan untuk mereka dan KuasaNya melalui Yesus.
"Stand Up for Jesus! "Ye soldier of God ! "MULIAKAN NAMA YESUS KRISTUS DI TEMPAT YANG MAHA TINGGI"
Seperti Apakah Allah Itu
Suatu hari seorang anak datang menghadap ayahnya dengan sebuah pertanyaan; “Daddy, Seperti apakah Allah itu?” Sebuah pertanyaan yang nampaknya begitu lugu dan sederhana. Namun dalam upaya untuk memberikan jawaban yang bisa diterima oleh anaknya yang baru berumur lima tahun itu, sang ayah menemukan bahwa pertanyaan tersebut tidaklah sesederhana apa yang dibayangkannya semula. Ia tak mampu memberikan jawaban yang bisa memuaskan. Akhirnya seperti halnya yang biasa diperbuat oleh para bapak yang lain, ia berkata kepada anaknya; “Pergilah kepada ibumu dan tanyakan itu padanya. Ia pasti tahu jawabannya.”
Anak tersebut meninggalkan ayahnya untuk bertemu sang ibu serta melontarkan pertanyaan yang sama. “Bu, Seperti apakah Allah itu?” Dengan segera sang ibu sadar bahwa pertanyaan yang dilontarkan oleh anak puterinya itu bukanlah pertanyaan yang mudah dan ia sendiri tak memiliki jawaban yang memadai. Karena itu sang ibu menjawab; “Bawalah pertanyaanmu itu dan tanyakanlah kepada guru sekolah minggu. Aku yakin guru sekolah minggu tahu jawabannya.”
Hari minggu tiba dan anak tersebut dengan penuh antusias datang ke gereja paroki dengan harapan bahwa ia akan merasa puas karena pertanyaannya akan menemukan jawabannya. Setelah mendengar pertanyaan anak tersebut, guru sekolah minggu menjawab; “Ajukanlah pertanyaanmu itu kepada kedua orang tuamu. Mereka pasti tahu jawabannya.”
Dengan penuh rasa kecewa anak itu pulang ke rumah. Dalam perjalanannya ia berdesah seakan bergumam kepada dirinya; “ Ayah dan ibu serta guru sekolah minggu pernah katakan bahwa mereka hidup bersama dan dalam Allah. Kalau seandainya saya sudah hidup bersama dengan Allah dalam jangka waktu yang sama seperti ayah dan ibuku atau guru sekolah minggu, aku yakin aku akan bisa mengatakan kepada seorang anak seperti apakah Allah itu.”
Apabila ada orang bertanya kepada anda, apakah anda juga bisa menjawabi pertanyaan “Seperti apakah Allah itu?” Peristiwa Jumat Agung tentu akan memberikan jawaban yang begitu pasti; “ Allah begitu mencintai manusia dan memberikan anakNya yang tunggal.”Allahku adalah Allah yang rela mati demi diriku yang berdosa ini.
Anak tersebut meninggalkan ayahnya untuk bertemu sang ibu serta melontarkan pertanyaan yang sama. “Bu, Seperti apakah Allah itu?” Dengan segera sang ibu sadar bahwa pertanyaan yang dilontarkan oleh anak puterinya itu bukanlah pertanyaan yang mudah dan ia sendiri tak memiliki jawaban yang memadai. Karena itu sang ibu menjawab; “Bawalah pertanyaanmu itu dan tanyakanlah kepada guru sekolah minggu. Aku yakin guru sekolah minggu tahu jawabannya.”
Hari minggu tiba dan anak tersebut dengan penuh antusias datang ke gereja paroki dengan harapan bahwa ia akan merasa puas karena pertanyaannya akan menemukan jawabannya. Setelah mendengar pertanyaan anak tersebut, guru sekolah minggu menjawab; “Ajukanlah pertanyaanmu itu kepada kedua orang tuamu. Mereka pasti tahu jawabannya.”
Dengan penuh rasa kecewa anak itu pulang ke rumah. Dalam perjalanannya ia berdesah seakan bergumam kepada dirinya; “ Ayah dan ibu serta guru sekolah minggu pernah katakan bahwa mereka hidup bersama dan dalam Allah. Kalau seandainya saya sudah hidup bersama dengan Allah dalam jangka waktu yang sama seperti ayah dan ibuku atau guru sekolah minggu, aku yakin aku akan bisa mengatakan kepada seorang anak seperti apakah Allah itu.”
Apabila ada orang bertanya kepada anda, apakah anda juga bisa menjawabi pertanyaan “Seperti apakah Allah itu?” Peristiwa Jumat Agung tentu akan memberikan jawaban yang begitu pasti; “ Allah begitu mencintai manusia dan memberikan anakNya yang tunggal.”Allahku adalah Allah yang rela mati demi diriku yang berdosa ini.
Sekawanan Angsa dan Badai Salju
Ada seorang pria yang tidak percaya Tuhan, bahkan ia ragu mengenai keberadaan Tuhan. Ia dan keluarganya tinggal di suatu daerah pertanian. Istrinya adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama. Kadang-kadang pria itu mengejek keyakinan istrinya dan terus-menerus meyakinkan istrinya bahwa Tuhan itu tidak ada.
"Itu omong kosong! Kenapa Tuhan merendahkan diri-Nya sendiri dan menjadi manusia seperti kita? Itu adalah cerita yang paling menggelikan.." kata pria itu.
Pada suatu hari di musim salju, istri dan anak-anaknya pergi ke gereja dan meninggalkan pria itu di rumah sendirian. Setelah mereka pergi, tiba-tiba angin bertambah kencang dan salju mulai turun di tengah-tengah badai. Pria itu duduk untuk bersantai di depan api unggun. Kemudian, ia mendengar suatu bunyi yang sangat keras. Sesuatu telah menghantam jendela rumahnya. Dan, muncul lagi bunyi hantaman tersebut.
Ia melihat dari jendela untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa. Lalu ia nekad keluar untuk melihat lebih jelas. Di lahan dekat rumahnya, ia melihat suatu kejanggalan, yaitu sekawanan angsa. Angsa-angsa tersebut tampaknya hendak terbang untuk mencari daerah yang lebih hangat di selatan, tetapi mereka terjebak di badai salju ini. Badai salju tersebut telah menutupi penglihatan mereka untuk terbang ke selatan. Mereka terjebak di tanah pertanian pria itu, tanpa makanan dan tempat bernaung, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menggeleparkan sayap mereka dan terbang pendek tanpa arah. Pria itu merasa kasihan melihat sekawanan angsa tersebut dan ingin membantu mereka. Ia berpikir, gudang di tanah pertaniannya mungkin bisa menjadi tempat yang baik bagi sekawanan angsa itu untuk tinggal. Tempat itu hangat dan aman, tentunya mereka dapat tinggal di situ semalam sambil menunggu badai salju berhenti. Maka, ia membuka pintu gudang tersebut bagi sekawanan angsa tersebut.
Ia menunggu, mengamati mereka, berharap mereka memperhatikan pintu gudang yang terbuka itu dan masuk ke dalam. Akan tetapi, sekawanan angsa tersebut tidak menyadarinya. Kemudian, ia berjalan menuju mereka untuk mendapatkan perhatian mereka, tetapi mereka malah menghindar darinya karena ketakutan.
Ia masuk ke rumah dan keluar dengan membawa beberapa potong roti, memecahkan roti itu, dan menjatuhkan roti itu untuk membuat jejak ke gudang bagi sekawanan angsa tersebut. Tetapi angsa-angsa tersebut tidak mengerti apa yang dilakukannya.
Pria itu mulai frustasi, maka ia mulai mencoba mengusir sekawanan angsa itu ke arah gudang. Angsa-angsa tersebut panik dan berkeliaran ke segala arah kecuali ke arah gudang itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan angsa-angsa tersebut ke arah yang benar di mana mereka bisa tinggal dengan aman, hangat dan terlindungi. Akhirnya, pria itu benar-benar frustasi, ia berseru, "Kenapa mereka tidak mengikutiku? Apakah mereka tahu, bahwa gudang itu adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa selamat dari badai salju? Bagaimana bisa aku mengajak mereka ke suatu tempat untuk menyelamatkan mereka?"
Ia berpikir sejenak dan menyadari bahwa angsa-angsa tersebut tidak ingin mengikuti manusia. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka? Satu-satunya cara yang mungkin adalah menjadi salah satu dari mereka. Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka. Mereka akan mengikutiku dan aku akan mengajak mereka ke arah keselamatan."
Saat itu, ia diam dan memikirkan apa yang telah dikatakannya. Kata-kata yang diucapkannya itu mengiang di pikirannya : Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka. Akhirnya, ia mengerti apa kasih Tuhan terhadap manusia dengan menjadi salah satu dari manusia untuk menyelamatkan manusia dan ia berlutut di atas salju untuk dan menyesali perbuatannya.
-----------------------------------------------------------------
Karena cinta Tuhan terhadap manusia, maka Ia memberikan putra tunggalnya. Karena Tuhan mengirim putraNya bukan untuk menghakimi manusia, tetapi untuk menyelamatkan manusia melalui putraNya
"Itu omong kosong! Kenapa Tuhan merendahkan diri-Nya sendiri dan menjadi manusia seperti kita? Itu adalah cerita yang paling menggelikan.." kata pria itu.
Pada suatu hari di musim salju, istri dan anak-anaknya pergi ke gereja dan meninggalkan pria itu di rumah sendirian. Setelah mereka pergi, tiba-tiba angin bertambah kencang dan salju mulai turun di tengah-tengah badai. Pria itu duduk untuk bersantai di depan api unggun. Kemudian, ia mendengar suatu bunyi yang sangat keras. Sesuatu telah menghantam jendela rumahnya. Dan, muncul lagi bunyi hantaman tersebut.
Ia melihat dari jendela untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa. Lalu ia nekad keluar untuk melihat lebih jelas. Di lahan dekat rumahnya, ia melihat suatu kejanggalan, yaitu sekawanan angsa. Angsa-angsa tersebut tampaknya hendak terbang untuk mencari daerah yang lebih hangat di selatan, tetapi mereka terjebak di badai salju ini. Badai salju tersebut telah menutupi penglihatan mereka untuk terbang ke selatan. Mereka terjebak di tanah pertanian pria itu, tanpa makanan dan tempat bernaung, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menggeleparkan sayap mereka dan terbang pendek tanpa arah. Pria itu merasa kasihan melihat sekawanan angsa tersebut dan ingin membantu mereka. Ia berpikir, gudang di tanah pertaniannya mungkin bisa menjadi tempat yang baik bagi sekawanan angsa itu untuk tinggal. Tempat itu hangat dan aman, tentunya mereka dapat tinggal di situ semalam sambil menunggu badai salju berhenti. Maka, ia membuka pintu gudang tersebut bagi sekawanan angsa tersebut.
Ia menunggu, mengamati mereka, berharap mereka memperhatikan pintu gudang yang terbuka itu dan masuk ke dalam. Akan tetapi, sekawanan angsa tersebut tidak menyadarinya. Kemudian, ia berjalan menuju mereka untuk mendapatkan perhatian mereka, tetapi mereka malah menghindar darinya karena ketakutan.
Ia masuk ke rumah dan keluar dengan membawa beberapa potong roti, memecahkan roti itu, dan menjatuhkan roti itu untuk membuat jejak ke gudang bagi sekawanan angsa tersebut. Tetapi angsa-angsa tersebut tidak mengerti apa yang dilakukannya.
Pria itu mulai frustasi, maka ia mulai mencoba mengusir sekawanan angsa itu ke arah gudang. Angsa-angsa tersebut panik dan berkeliaran ke segala arah kecuali ke arah gudang itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan angsa-angsa tersebut ke arah yang benar di mana mereka bisa tinggal dengan aman, hangat dan terlindungi. Akhirnya, pria itu benar-benar frustasi, ia berseru, "Kenapa mereka tidak mengikutiku? Apakah mereka tahu, bahwa gudang itu adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa selamat dari badai salju? Bagaimana bisa aku mengajak mereka ke suatu tempat untuk menyelamatkan mereka?"
Ia berpikir sejenak dan menyadari bahwa angsa-angsa tersebut tidak ingin mengikuti manusia. Ia berkata kepada dirinya sendiri, "Bagaimana aku bisa menyelamatkan mereka? Satu-satunya cara yang mungkin adalah menjadi salah satu dari mereka. Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka. Mereka akan mengikutiku dan aku akan mengajak mereka ke arah keselamatan."
Saat itu, ia diam dan memikirkan apa yang telah dikatakannya. Kata-kata yang diucapkannya itu mengiang di pikirannya : Jika aku bisa menjadi salah satu dari mereka, maka aku pasti bisa menyelamatkan mereka. Akhirnya, ia mengerti apa kasih Tuhan terhadap manusia dengan menjadi salah satu dari manusia untuk menyelamatkan manusia dan ia berlutut di atas salju untuk dan menyesali perbuatannya.
-----------------------------------------------------------------
Karena cinta Tuhan terhadap manusia, maka Ia memberikan putra tunggalnya. Karena Tuhan mengirim putraNya bukan untuk menghakimi manusia, tetapi untuk menyelamatkan manusia melalui putraNya
Sebenarnya Tuhan itu adil dan kasih
Dulu ada penglima pasukan di Rusia namanya Shamila. Karena pemerintahan kaisar waktu itu sangat otoriter maka dia bersama pasukannya lari ke padang gurun untuk melakukan konsolidasi melawan kaisar. Karena ada di padang gurun maka semua makanan harus dihemat supaya seluruh pasukan bisa bertahan hidup. Suatu ketika ada laporan bahwa sekarung beras telah hilang. Shamila marah, ia memberi peringatan kepada seluruh pasukannya "Siapa yang mencuri beras akan dihukum cambuk 50 kali"
Hari berikutnya ada sekarung beras lagi yang hilang. Shamila sangat marah kemudian dia memerintahkan pasukannya "Siapapun yang mencurinya, tidak peduli pria atau wanita, muda atau tua harus dihukum cambuk 50 kali." Shamila kemudian memerintahkan pasukan untuk mencari pencurinya.
Beberapa saat kemudian anak buahnya datang : "Panglima ada kabar baik, pencurinya sudah ketemu". Shamila menjawab : "Bagus " Anak buahnya menjawab lagi : "Tetapi ada berita buruknya, Panglima ". Shamilla menjawab lagi: " Apa itu ?" Anak buahnya menjawab lagi: "Yang mencuri adalah ibu Panglima". Shamila terdiam, dia bingung, ibunya sudah lanjut usia, kalau diberi hukuman, jangankan 50 kali cambukan, 2 kali cambukan saja ibunya pasti meninggal. Tapi kalau tidak dihukum, ia tidak adil. Akhirnya Shamilla berkata : "Keputusan ditunda besuk pagi" Semalaman ia berpikir keras bagaimana mengambil keputusan. Seluruh pasukan juga bingung, ada yg tidak tega kalau ibunya dihukum,ada yg bersikeras yang bersalah harus dihukum.
Akhirnya pagi hari tiba. Seluruh anggota pasukan berkumpul. Semua mata menatap kepada Shamilla menanti keputusan yang akan diambil Shamila maju dan berkata : "Seperti yang sudah ditetapkan yang mencuri beras harus dihukum cambuk 50 kali. Pasukan, bawa pencurinya ke depan". Kemudian pencurinya yang juga ibunya dibawa ke depan. Shamilla berkata "Segera laksanakan hukum cambuk 50 kali". Sesaat sebelum algojo menjalankan cambukan yang pertama, Shamilla berkata :"Stop ". Kemudian dia berkata kepada ibunya: "Ibu, aku menyayangi ibu, tapi keadilan harus ditegakkan.Harus ada hukuman untuk suatu pelanggaran." Tiba tiba ia memeluk ibunya dan berkata : "Ibu, aku menyayangi ibu, aku yang akan menggantikan ibu menerima hukuman ini.Ibu jangan mencuri lagi ya". Kemudian dia membawa ibunya ke pinggir. Shamilla berkata kepada algojo : "Algojo cambuk aku 50 kali". Kemudian Shamilla dihukum cambuk 50 kali.
Dengan demikian Shamilla sebagai pemimpin mempunyai kasih dan sekaligus menjalankan keadilan.
Itulah yang dilakukan Tuhan kepada manusia. Setiap manusia pasti akan mendapatkan hukuman karena dosanya. Tapi Tuhan tidak tega melihat seluruh manusia binasa, sehingga Tuhan mengorbankan diriNya menanggung dosa manusia. Manusia yang mau menerima penggantian hukuman ini menerima keselamatan.
Hari berikutnya ada sekarung beras lagi yang hilang. Shamila sangat marah kemudian dia memerintahkan pasukannya "Siapapun yang mencurinya, tidak peduli pria atau wanita, muda atau tua harus dihukum cambuk 50 kali." Shamila kemudian memerintahkan pasukan untuk mencari pencurinya.
Beberapa saat kemudian anak buahnya datang : "Panglima ada kabar baik, pencurinya sudah ketemu". Shamila menjawab : "Bagus " Anak buahnya menjawab lagi : "Tetapi ada berita buruknya, Panglima ". Shamilla menjawab lagi: " Apa itu ?" Anak buahnya menjawab lagi: "Yang mencuri adalah ibu Panglima". Shamila terdiam, dia bingung, ibunya sudah lanjut usia, kalau diberi hukuman, jangankan 50 kali cambukan, 2 kali cambukan saja ibunya pasti meninggal. Tapi kalau tidak dihukum, ia tidak adil. Akhirnya Shamilla berkata : "Keputusan ditunda besuk pagi" Semalaman ia berpikir keras bagaimana mengambil keputusan. Seluruh pasukan juga bingung, ada yg tidak tega kalau ibunya dihukum,ada yg bersikeras yang bersalah harus dihukum.
Akhirnya pagi hari tiba. Seluruh anggota pasukan berkumpul. Semua mata menatap kepada Shamilla menanti keputusan yang akan diambil Shamila maju dan berkata : "Seperti yang sudah ditetapkan yang mencuri beras harus dihukum cambuk 50 kali. Pasukan, bawa pencurinya ke depan". Kemudian pencurinya yang juga ibunya dibawa ke depan. Shamilla berkata "Segera laksanakan hukum cambuk 50 kali". Sesaat sebelum algojo menjalankan cambukan yang pertama, Shamilla berkata :"Stop ". Kemudian dia berkata kepada ibunya: "Ibu, aku menyayangi ibu, tapi keadilan harus ditegakkan.Harus ada hukuman untuk suatu pelanggaran." Tiba tiba ia memeluk ibunya dan berkata : "Ibu, aku menyayangi ibu, aku yang akan menggantikan ibu menerima hukuman ini.Ibu jangan mencuri lagi ya". Kemudian dia membawa ibunya ke pinggir. Shamilla berkata kepada algojo : "Algojo cambuk aku 50 kali". Kemudian Shamilla dihukum cambuk 50 kali.
Dengan demikian Shamilla sebagai pemimpin mempunyai kasih dan sekaligus menjalankan keadilan.
Itulah yang dilakukan Tuhan kepada manusia. Setiap manusia pasti akan mendapatkan hukuman karena dosanya. Tapi Tuhan tidak tega melihat seluruh manusia binasa, sehingga Tuhan mengorbankan diriNya menanggung dosa manusia. Manusia yang mau menerima penggantian hukuman ini menerima keselamatan.
Langganan:
Postingan (Atom)