Ada seorang misionaris di India , David Morse, yang bersahabat dengan seorang penyelam mutiara, Rambhau. Setiap sore di pondok Rambhau, ia membacakan firman Tuhan, dan menjelaskan kepadanya cara Tuhan membawa ke arah keselamatan.
Rambhau senang sekali mendengarkan firman Tuhan, tetapi setiap kali David berusaha untuk mengajak Rambhau menerima Kristus sebagai penebusnya, Rambhau menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Cara orang Kristen ke surga sangat mudah untukku! Aku tidak bisa menerimanya. Jika aku ingin masuk ke surga dengan cara seperti itu, aku menjadi seperti seorang pengemis yang memohon belas kasihan. Mungkin aku sombong, tapi aku ingin mendapatkan tempat di surga dengan usahaku sendiri!"
Tidak ada yang bisa David katakan untuk mempengaruhinya. Waktu berjalan dengan cepat. Suatu sore, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ia menemukan Rambhau di sana.
"Silahkan masuk, sahabatku" kata David.
"Tidak,"kata Rambhau. "Aku ingin mengajakmu pergi ke rumahku, tuan, tidak lama kok, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu. Tolong jangan katakan tidak."
"Tentu saja aku akan datang," jawab David. Sesampainya di rumah Rambhau, ia berkata "Beberapa minggu lagi aku akan mulai bekerja untuk mendapatkan tempatku di surga; Aku akan pergi ke New Delhi, dan aku akan ke sana dengan jalan kaki."
"Bung, apakah kamu gila! Jarak dari sini ke Delhi adalah 900 mil, dan di dalam perjalanan kakimu akan lecet, keracunan, atau mungkin kena lepra sebelum kamu sampai ke Bombay. Kamu akan menderita!"
"Tidak, aku harus pergi ke Delhi," tegas Rambhau, "dan tidak ada makhluk hidup satu pun yang bisa mencegahku pergi ke sana! Penderitaan yang mungkin aku alami nanti, adalah penderitaan yang sangat manis, karena setelah itu aku pasti mendapatkan tempat di surga!"
"Temanku, Rambhau, kamu tidak bisa. Bagaimana aku bisa mencegahmu, kamu tahu kan Yesus telah menderita dan wafat di kayu salib hanya untuk menyediakan tempat untukmu!" = Tetapi keyakinan pria tua itu tidak terpengaruh. "Kamu adalah sahabatku yang terbaik di dunia, tuan Morse. Sepanjang tahun ini, kamu telah menemani aku ketika aku sakit, bahkan kau satu-satunya sahabatku. Meski demikian, kamu tidak akan bisa mencegah hasratku untuk mendapatkan tempat abadi... Aku harus pergi ke Delhi!!!"
Di dalam pondok itu, David duduk di kursi yang dibuat Rambhau secara khusus untuknya, di mana di situlah ia membacakan firman Tuhan untuk Rambhau.
Rambhau masuk ke ruangan lainnya lalu kembali lagi sambil membawa sebuah kotak besi. "Aku telah memiliki kotak ini selama beberapa tahun" katanya, "dan aku hanya menyimpan suatu yang berharga di sini. Sekarang aku akan menceritakan kepadamu, tuan Morse. Dulu, aku memiliki seorang putra..."
"Putra?" Kenapa, Rambhau, kenapa kamu tidak pernah mengatakan sesuatu tentangnya!"
"Tidak, tuan, aku tidak bisa." ia berkata sambil menangis.
"Sekarang aku harus mengatakannya kepadamu, karena sebentar lagi aku akan pergi dan siapa tahu kalau aku tidak kembali lagi? Putraku adalah seorang penyelam juga. Ia adalah penyelam mutiara yg terbaik di India. Ia penyelam yang tangkas, memiliki mata yang tajam, tangan yang kuat, dan nafas yang panjang ketika ia berada di dalam air untuk mencari mutiara. Ia adalah kebanggaanku! Semua mutiara, seperti yang kamu ketahui, memiliki cacat di mana hanya seorang pakar yang bisa untuk melihatnya, tetapi putraku selalu bermimpi untuk menemukan 'mutiara yang sempurna' yang belum pernah ditemukan. Suatu hari ia menemukannya! Tetapi ketika ia melihatnya, ia telah berada di dalam air terlalu lama... Mutiara itu merenggut nyawanya, ia meninggal tidak lama kemudian.."
Penyelam tua itu menundukkan kepalanya. Untuk beberapa saat, seluruh tubuhnya bergetar, tetapi tidak ada suara yang keluar. "Beberapa tahun ini," ia melanjutkan, "aku telah menyimpan mutiara ini, tetapi sekarang aku akan pergi, tidak akan kembali, dan untukmu, sahabatku, aku berikan mutiaraku ini."
Orang tua itu membuka kunci kotak itu dan mengambil dari dalam dengan hati-hati sebuat bungkusan. Kemudian ia membuka kapas yang menyelimuti mutiara itu, mengambil mutiara besar dan meletakan di tangan misionaris itu.
Itu adalah mutiara yang terbesar yang pernah ditemukan di pantai India, dan bersinar dengan cemerlang dan gemilang yang belum pernah ditemukan oleh orang. Mutiara itu mungkin memiliki nilai yang sangat tinggi.
Sejenak misionari itu tidak bisa berkata apa-apa, ia terpukau kagum. "Rambhau! Mutiara ini sangat indah!"
"Mutiara itu, tuan, adalah sempurna." jawab orang India pelan. Misionari itu berpikir : Apakah ini kesempatan dan saat yang ia tunggu, untuk membuat Rambhau mengerti mengenai nilai pengorbanan Kristus? Maka ia berkata kepada Rambhau, "Rambhau, ini adalah mutiara yang luar biasa indahnya dan mengagumkan. Biarkan aku membayarnya. Aku akan membelinya seharga $10000."
"Tuan, apa maksudmu?" "Oke, aku memberikan $15000, dan jika masih kurang akan aku usahakan untuk membayarkannya."
"Tuan," jawab Rambhau dengan kaku, "Mutiara ini tak ternilai harganya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang memiliki uang yang cukup untuk membayar mutiara yang berharga ini. Di pasaran, 1 juta dollar pun tidak bisa untuk membayarnya. Aku tidak menjualnya untukmu. Ini hadiah untukmu."
"Tidak, Rambhau, aku tidak bisa menerimanya. Meski aku sangat menginginkan mutiara ini, aku tidak bisa menerimanya dengan cara itu. Mungkin aku terlalu sombong, tetapi hal itu sangat mudah. Aku harus membayarnya, atau bekerja untuk membayarnya..."
Penyelam mutiara itu terdiam. "Kamu tidak mengerti, tuan. Tidakkah kamu mengerti, putra tunggalku memberikan hidupnya untuk mendapatkan mutiara ini, dan aku tidak akan menjualnya untuk uang sepeser pun. Mutiara ini seharga dengan nyawa putraku. Aku tidak bisa menjualnya, tetapi aku bisa memberikannya untukmu. Terimalah sebagai tanda kasihku kepadamu."
Misionari itu terkejut, untuk sesaat ia tidak bisa berkata apa-apa. Kemudian dia mengambil tangan Rambhau. "Rambhau," katanya pelan, "Kamu sadar? Kata-kata yang kamu keluarkan barusan adalah yang ingin kusampaikan mengenai Tuhan selama ini."
Penyelam itu tertegun, setelah sekian lama berpikir akhirnya ia mengerti. "Tuhan menawarkanmu keselamatan sebagai hadiah yang gratis." kata misionari itu. "Hadiah ini sangat luar biasa dan tak ternilai harganya. Tidak ada orang yang bisa membelinya. Jutaan dollarpun terlalu sedikit. Hadiah ini seharga dengan pengorbanan Tuhan dengan menyerahkan putra tunggalNya untuk menyediakan tempatmu di surga. Meski jutaan tahun, kamu tidak akan bisa masuk ke surga jika kamu tidak menerima hadiah ini. Yang harus kamu lakukan adalah menerima cinta Tuhan."
"Rambhau, tentu saja aku akan menerima mutiara ini dengan rendah hati, bersyukur kepada Tuhan bahwa aku layak untuk mendapatkannya. Rambhau, apakah kamu bersedia menerima hadiah gratis dari surga, juga dengan rendah hati?"
Air mata dengan deras menetes di pipi penyelam itu. "Tuan, aku mengerti sekarang. Aku telah percaya ajaran Yesus 2 tahun ini, tetapi aku belum bisa mempercayai bahwa pengorbananNya tidak ternilai harganya. Aku mengerti sekarang, ada beberapa hal yang tidak bisa dinilai dengan uang. Tuan, aku bersedia menerima keselamatanNya!"
1 Yohanes 4:10 "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita"
Selasa, 31 Agustus 2010
Maria Diangkat Ke Surga
Berapa hari telah berlalu ? Sulit untuk memastikannya. Apabila melihat karangan-karangan bunga disekitar tubuhnya, orang akan mengatakan bahwa kematiannya baru berlalu beberapa jam saja. Akan tetapi bila melihat ranting-ranting zaitun yang bunga-bunganya masih segar, namun daun-daunnya telah mulai melayu, dan bunga-bunga lain yang menutupi dadanya mulai melayu, orang akan mengatakan bahwa kematiannya telah berlangsung beberapa hari yang lalu.
Akan tetapi tubuh Bunda Maria tetap sama seperti ketika Bunda menghembuskan nafasnya yang terakhir ; tidak ada tanda-tanda kematian yang tampak pada wajahnya ataupun pada tangannya. Tidak ada bau busuk di dalam ruangan. Sebaliknya suatu aroma wangi yang tak dapat dijelaskan, seperti harumnya bunga sedap malam, mawar, lily di dalam lembah, tumbuh-tumbuhan di pegunungan, semua bercampur menjadi satu memenuhi ruangan.
Yohanes, yang telah berjaga entah berapa hari, jatuh tertidur karena letihnya, duduk di bangku dan bahunya bersandar di tembok, dekat pintu yang terbuka menghadap ke teras. Cahaya lampu yang ada dibawah menerangi wajahnya, hingga setiap orang dapat melihat wajahnya yang letih, pucat-pasi, kecuali di sekitar matanya, yang memerah karena tangis.
Hari telah menjelang fajar saat itu, cahaya remang-remang tampak di teras dan pohon-pohon zaitun di sekeliling rumah mulai tampak, cahaya yang semakin terang dan menerabas pintu menimpa benda-benda di dalam ruangan menjadikannya semakin tampak jelas, termasuk yang sebelumnya tidak jelas dan tampak samar-samar.
Tiba-tiba cahaya yang sangat kuat sekali memenuhi ruangan, cahaya keperak-perakan dengan bayang-bayang kebiruan, hampir menyerupai fosfor; dan cahaya itu semakin terang saja dan mengalahkan cahaya fajar pagi dan lampu. Suatu cahaya yang menyerupai cahaya yang memenuhi Gua di Betlehem pada saat kelahiran Tuhan. Lalu didalam cahaya sorgawi ini, yang lebih terang dari cahaya yang terlebih dahulu ada, tampillah Malaikat-Malaikat. Seperti apa yang pernah terjadi ketika para Malaikat menampakkan diri kepada para gembala, percikan cahaya memancar dari sayap-sayapnya, berputar-putar demikian indahnya, yang mengeluarkan suara yang demikian indah, seindah suara bunyi harpa.
Para Malaikat menempatkan diri di sekeliling ranjang, membungkuk, lalu mengangkat tubuh yang tak bergerak itu, dan sambil mengepakkan sayapnya dengan anggunnya, yang menimbulkan suara indah, melebihi suara sebelumnya yang telah terdengar. Secara mengagumkan sebuah celah terbuka di atap, seperti ketika makam Yesus secara mengagumkan terbuka, dan para Malaikat itu membawa pergi Tubuh Ratu mereka, Tubuh yang amat kudus; kepakan sayap para Malaikat terdengar semakin keras dan kini suara itu menjadi sekeras suara organ. Yohanes, yang pada saat itu masih tertidur, menggeliat dua atau tiga kali di bangkunya, seolah ia terganggu oleh cahaya yang kuat dan oleh suara kepakan sayap Malaikat, segera terbangunkan oleh suara keras itu dan oleh arus angin yang keras, yang turun dari lubang pada atap dan bertiup keluar melalui pintu dengan derasnya laksana angin puting-beliung, yang menyebabkan sprei ranjang yang telah kosong itu dan pakaian Yohanes menjadi awut-awutan, lampu padam dan daun pintu terhempas menutup dengan suara menggelegar.
Yohanes melihat ke sekeliling, masih setengah tidur, setengah sadar akan apa yang telah terjadi. Ia melihat bahwa ranjang telah kosong dan bahwa atap terbuka. Ia sadar bahwa telah terjadi peristiwa yang sangat mengagumkan. Ia lari keluar ke teras, dan seolah didorong oleh naluri spiritual, atau oleh panggilan surgawi, ia menengadah ke langit, menutupi matanya dari silau matahari, agar dapat melihat. Dan ia melihat. Ia melihat Tubuh Bunda Maria, masih dalam keadaan mati, dan persis seperti orang tidur, ditatang oleh para Malaikat. Naik semakin tinggi dan semakin tinggi saja. Sebagai tanda selamat jalan, pelisir jubah dan kerudungnya tampak melambai-lambai oleh angin, mungkin karena kencangnya pengangkatan dan oleh gerak sayap para malaikat. Dan bunga-bunga yang diletakkan Yohanes disekitar Tubuh Bunda Maria, dan yang tentu saja terselip disana-sini dalam lipatan-lipatan busananya, berjatuhan di teras dan di taman Getsemani laksana hujan, sementara diiringi kidung-kidung pujian para Malaikat itu terus bergerak maju, semakin jauh dan semakin tampak samar-samar.
Yohanes tetap terpaku memandang ke arah Tubuh yang diangkat menuju Surga dan, berkat rahmat khusus yang dikaruniakan Allah sebagai imbalan atas cinta kasihnya kepada ibu angkatnya, ia dapat melihat dengan jelas Bunda Maria, yang diliputi oleh cahaya matahari yang sedang terbit, sadar dari ekstasi yang memisahkan jiwa dari raganya, menjadi hidup, berdiri tegak menikmati karunia tubuh yang telah dimuliakan.
Yohanes melihat dan terus melihat. Mukjizat yang dikaruniakan Allah kepadanya membuat ia mampu melawan segala hukum alam, melihat Bunda Maria seperti apa adanya sekarang, selagi Ia dengan cepatnya naik ke surga, tanpa perlu dibantu lagi, dikelilingi oleh para Malaikat yang menyanyikan hosanna. Dan Yohanes dikuasai oleh keindahan yang tak pernah akan dapat dilukiskan dengan pena maupun kata-kata, atau oleh seorang seniman terkemuka sekalipun, karena demikian indahnya.
Yohanes masih tetap bersandar pada tembok rendah teras, terus saja memandang cahaya yang demikian megah, dibentuk oleh Allah, naik semakin tinggi saja. Bunda Maria memang dapat demikian keadaannya karena dibentuk secara khusus oleh Allah, yang menghendaki Bunda Maria Tak Bernoda, agar Ia dapat layak menjadi tempat penjelmaan Sang Sabda. Dan cinta kasih Allah menganugerahkan kepada murid terkasihNya suatu mukjizat agar dapar menyaksikan pertemuan Ibu Yang Terberkati dengan PuteraNya Yang Maha Kudus, yang dengan megahnya dan bersinar diselimuti oleh keindahan yang tak terlukiskan, turun dengan cepatnya dari Surga menyongsong IbuNya, memeluknya dan melekatkannya pada HatiNya, dan bersama-sama, dengan terang yang melebihi cahaya dua bintang besar bersama-sama, dan akan kembali kelak bersama bila Sang Putra datang kembali.
Penampakan pada Yohanes selesailah sudah. Kepalanya tertunduk. Pada wajahnya yang memerah tampak kesedihannya karena kehilangan Bunda Maria sekaligus kebahagiaannya atas kemuliaan yang diraih Ibunya, namun kebahagiaan itu mengalahkan kesedihannya.
Katanya : "Terima kasih, ya Allahku, terima kasih. Aku telah melihat sebelumnya bahwa hal ini akan terjadi. Dan aku ingin tetap berjaga agar tidak kehilangan sedikitpun dari peristiwa pengangkatannya. Akan tetapi, telah tiga hari tiga malam aku tidak tidur. kantuk, letih bersatu dengan kesedihan menimpaku dan menyerangku tepat saat pengangkatan itu terjadi. Akan tetapi, mungkin sekali Engkau menghendaki, ya Engkau sendiri, ya Allah, agar aku tidak kacau pada saat itu dan agar aku tidak menderita terlalu banyak... ya, sungguh Engkau menghendaki agar aku menyaksikannya. Tanpa daya mukjizat dari Engkau, tidak mungkin aku dapat menyaksikannya. Engkau telah mengaruniai aku untuk menyaksikan dan melihat Ibu kembali, sekalipun sudah sangat jauh, sudah dimuliakan dan sudah mulia, seakan Ibu dekat kepadaku. Dan melihat Yesus lagi. O, alangkah bahagianya, tanpa aku perkirakan penampakan itu. Ya karunia dari segala karunia Yesus - Allah kepada muridNya Yohanes. Rahmat tertinggi untuk dapat melihat Guru dan Tuhanku lagi. MelihatNya dekat dengan IbuNya. Tuhan Yesus layaknya matahari, dan Bunda Maria bulannya, keduanya sangat indah, karena keduanya mulia dan berbahagia bersatu kembali untuk selamanya. Seperti apakah kiranya Firdaus sekarang ini setelah Engkau berdua bersinar didalamnya. Engkau Bintang-bintang Agung Yerusalem Surgawi ? Betapa indahnya paduan suara para Malaikat dan para kudus.. Betapa aku bahagia memperoleh penampakan Bunda Maria dan PutraNya, sesuatu yang menghapus segala penderitaan Yesus, segala penderitaan Yesus dan Bunda Maria, dan bahkan lebih lagi menghapus penderitaanku sendiri; damai sejahtera menggantikannya. Dari ketiga mukjizat yang kumohon kepadaMu ya Allah, dua sudah terlaksana. Aku menyaksikan Bunda Maria hidup kembali, dan kedamaian kembali kepadaku. Segala kekuatiranku berakhir, karena aku telah melihat Engkau bersatu kembali dalam kemuliaan. Terima kasih, ya Allah. Dan terima kasih atas semua itu yang memungkinkan segalanya terlaksana bagiku untuk menyaksikannya.
Dan ciptaanMu, yang paling kudus sekalipun, selagi mereka masih sebagai manusia, apakah yang akan terjadi pada mereka setelah penghakiman terakhir nanti, setelah kebangkitan badan, dan bersatu kembali dengan jiwanya, yang telah naik ke Surga saat mereka meninggal, aku tidak perlu melihatnya untuk percaya, karena aku selalu percaya sepenuh hati setiap Sabda Guruku. Namun banyak orang meragukan hal itu, setelah berabad-abad dan ribuan tahun, daging, yang menjadi debu, dapat hidup kembali. Aku dapat memberitahu mereka, bersumpah dengan penuh khidmat, bahwa bukan hanya Kristus yang hidup kembali, oleh kekuasaan ilahiNya, melainkan juga IbuNya, tiga hari setelah kematiannya - kalau kata mati itu dapat diterapkan padanya - hidup kembali, dan raga serta jiwanya bersatu kembali mengambil tempat abadi di dalam Surga, disamping Putranya. Aku dapat mengatakan : "Percayalah kaum kristiani, pada kebangkitan badan, pada zaman akhir, dan di dalam hidup kekal raga dan jiwa itu, suatu kehidupan bagi seorang kudus yang penuh berkat, dan kehidupan yang mengerikan bagi kaum pendosa yang tanpa mengenal sesal. Percayalah dan hiduplah seperti para kudus, hidup seperti Tuhan Yesus dan Bunda Maria, agar memperoleh kebahagiaan yang serupa. Aku melihat mereka naik ke Surga dengan ragaNya, aku berani menjadi saksi akan hal itu. Hiduplah sebagai orang benar, agar pada suatu hari nanti kamu dapat berada di dunia baru yang abadi, dengan raga dan jiwa, dekat dengan Yesus Sang Matahari, dekat dengan Bunda Maria, bintang segala bintang." Terima kasih sekali lagi, ya Allah. Dan sekarang biarkanlah kami untuk mengumpulkan kembali apa yang ditinggalkan oleh Bunda Maria. Bunga-bunga yang terjatuh dari busananya, ranting-ranting zaitun yang masih berserakan di ranjangnya, baiklah kami menyimpannya. Semua itu dapat menjadi ..... ya dapat menjadi kenangan dan penghibur saudara-saudaraku, yang kutunggu-tunggu dengan sia-sia. Cepat atau lambat aku akan bertemu dengan mereka ..."
Yohanes mengambil lembaran-lembaran bunga yang rontok kedalam tunika-nya dan masuk kembali ke dalam ruangan. Lalu ia mengamati lebih cermat celah yang terbuka pada atap dan berseru : "Mukjizat lagi. Suatu mukjizat indah dari kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Dia, Allah, yang telah bangkit atas kuasaNya sendiri, dan atas kehendak sendiri menggulingkan batu penutup makam, dan hanya oleh kekuasaanNya Ia naik ke Surga. Oleh Yesus sendirilah, Bunda Maria, ibu yang amat suci, putri manusia, dengan bantuan para Malaikat pula ia naik ke Surga, dan dengan ditatang oleh para Malaikat pula ia naik kesana. Dalam hal Kristus, rohNya kembali bersatu dengan TubuhNya ketika Ia masih ada di dalam kubur, karena memang harus demikianlah terjadinya, untuk membungkam musuh-musuhNya dan untuk menguatkan iman pengikut-pengikutNya. Dalam hal Bunda Maria, rohnya datang kembali ketika tubuhnya yang suci telah sampai di kawasan Firdaus, karena memang tidak ada maksud lain baginya. Kekuasaan sempurna dari Kebijaksanaan Allah yang tak mengenal batas ..."
Kini Yohanes mengumpulkan bunga-bunga dan ranting-ranting yang masih ada di ranjang ke dalam kain, dijadikan satu dengan yang ia kumpulkan di luar. Ia membuka selimut yang ada disitu, meletakkan bunga-bunga dan ranting-ranting, bantal kecil Maria dan sepreinya. Lalu ia pergi ke dapur, mengumpulkan alat-alat yang biasa digunakannya - pengantih dan sekocinya, dan alat-alat dapur - dijadikan satu dengan barang-barang lainnya.
Yohanes menutupi dadanya dan duduk di bangku sambil berseru : "Sekarang segala sesuatunya telah terlaksana, juga bagiku. Sekarang aku dapat pergi dengan bebas kemana Roh Allah akan membimbingku. Aku dapat pergi, dan menabur Sabda Ilahi, yang diberikan Guruku kepadaku, agar dapat kuteruskan kepada orang-orang lain dan mengajarkan cinta kasih. Dan mengajar mereka sedemikian rupa sehingga mereka percaya kepada cinta kasih dan kuasa cinta kasih itu. Biarlah manusia mengetahui bahwa cinta kasih Allah lah yang berbuat itu semua bagi manusia. PengurbananNya dan Sakramen serta ibadat yang abadi, yang menjadi sarana sampai akhir zaman, harus membuat kita mampu untuk disatukan dengan Yesus Kristus didalam Ekaristi dan membaharui ibadat dan pengurbanan seperti yang diperintahkan olehNya. Semua itu adalah karunia cinta kasih yang sempurna. Kita jadikan mereka pecinta Cinta Kasih agar mereka percaya kepadaNya, seperti kami pun percaya sejak dulu dan seterusnya. Taburlah Cinta Kasih sedemikian rupa agar panenan dan hasilnya berlimpah bagi Allah. Cinta kasih menghasilkan segala sesuatu. Bunda Maria mengajariku dalam percakapan terakhirnya dengan aku, yang ia rumuskan secara tepat berlaku bagi kelompok murid-murid : seorang pecinta mencintai lebih dari yang lain, antitesis Iskariot, si pembenci, seperti watak Petrus, yang meledak-ledak, dan sopan-santun Andreas, kesucian dan kebijaksanaan anak-anak Alpheus disertai tingkah laku yang anggun, dsb. Aku, murid yang mencintai, dan sekarang tidak lagi memiliki Guru dan Ibu untuk dicintai di dunia, akan pergi dan menyebarkan cinta kasih kepada bangsa-bangsa. Cinta kasih merupakan senjataku dan ajaranku. Dan dengan sarana ini aku akan mengalahkan setan, kebencian dan memenangkan banyak jiwa. Dengan demikian aku meneruskan cinta kasih sempurna Yesus dan Maria di dunia ini."
Akan tetapi tubuh Bunda Maria tetap sama seperti ketika Bunda menghembuskan nafasnya yang terakhir ; tidak ada tanda-tanda kematian yang tampak pada wajahnya ataupun pada tangannya. Tidak ada bau busuk di dalam ruangan. Sebaliknya suatu aroma wangi yang tak dapat dijelaskan, seperti harumnya bunga sedap malam, mawar, lily di dalam lembah, tumbuh-tumbuhan di pegunungan, semua bercampur menjadi satu memenuhi ruangan.
Yohanes, yang telah berjaga entah berapa hari, jatuh tertidur karena letihnya, duduk di bangku dan bahunya bersandar di tembok, dekat pintu yang terbuka menghadap ke teras. Cahaya lampu yang ada dibawah menerangi wajahnya, hingga setiap orang dapat melihat wajahnya yang letih, pucat-pasi, kecuali di sekitar matanya, yang memerah karena tangis.
Hari telah menjelang fajar saat itu, cahaya remang-remang tampak di teras dan pohon-pohon zaitun di sekeliling rumah mulai tampak, cahaya yang semakin terang dan menerabas pintu menimpa benda-benda di dalam ruangan menjadikannya semakin tampak jelas, termasuk yang sebelumnya tidak jelas dan tampak samar-samar.
Tiba-tiba cahaya yang sangat kuat sekali memenuhi ruangan, cahaya keperak-perakan dengan bayang-bayang kebiruan, hampir menyerupai fosfor; dan cahaya itu semakin terang saja dan mengalahkan cahaya fajar pagi dan lampu. Suatu cahaya yang menyerupai cahaya yang memenuhi Gua di Betlehem pada saat kelahiran Tuhan. Lalu didalam cahaya sorgawi ini, yang lebih terang dari cahaya yang terlebih dahulu ada, tampillah Malaikat-Malaikat. Seperti apa yang pernah terjadi ketika para Malaikat menampakkan diri kepada para gembala, percikan cahaya memancar dari sayap-sayapnya, berputar-putar demikian indahnya, yang mengeluarkan suara yang demikian indah, seindah suara bunyi harpa.
Para Malaikat menempatkan diri di sekeliling ranjang, membungkuk, lalu mengangkat tubuh yang tak bergerak itu, dan sambil mengepakkan sayapnya dengan anggunnya, yang menimbulkan suara indah, melebihi suara sebelumnya yang telah terdengar. Secara mengagumkan sebuah celah terbuka di atap, seperti ketika makam Yesus secara mengagumkan terbuka, dan para Malaikat itu membawa pergi Tubuh Ratu mereka, Tubuh yang amat kudus; kepakan sayap para Malaikat terdengar semakin keras dan kini suara itu menjadi sekeras suara organ. Yohanes, yang pada saat itu masih tertidur, menggeliat dua atau tiga kali di bangkunya, seolah ia terganggu oleh cahaya yang kuat dan oleh suara kepakan sayap Malaikat, segera terbangunkan oleh suara keras itu dan oleh arus angin yang keras, yang turun dari lubang pada atap dan bertiup keluar melalui pintu dengan derasnya laksana angin puting-beliung, yang menyebabkan sprei ranjang yang telah kosong itu dan pakaian Yohanes menjadi awut-awutan, lampu padam dan daun pintu terhempas menutup dengan suara menggelegar.
Yohanes melihat ke sekeliling, masih setengah tidur, setengah sadar akan apa yang telah terjadi. Ia melihat bahwa ranjang telah kosong dan bahwa atap terbuka. Ia sadar bahwa telah terjadi peristiwa yang sangat mengagumkan. Ia lari keluar ke teras, dan seolah didorong oleh naluri spiritual, atau oleh panggilan surgawi, ia menengadah ke langit, menutupi matanya dari silau matahari, agar dapat melihat. Dan ia melihat. Ia melihat Tubuh Bunda Maria, masih dalam keadaan mati, dan persis seperti orang tidur, ditatang oleh para Malaikat. Naik semakin tinggi dan semakin tinggi saja. Sebagai tanda selamat jalan, pelisir jubah dan kerudungnya tampak melambai-lambai oleh angin, mungkin karena kencangnya pengangkatan dan oleh gerak sayap para malaikat. Dan bunga-bunga yang diletakkan Yohanes disekitar Tubuh Bunda Maria, dan yang tentu saja terselip disana-sini dalam lipatan-lipatan busananya, berjatuhan di teras dan di taman Getsemani laksana hujan, sementara diiringi kidung-kidung pujian para Malaikat itu terus bergerak maju, semakin jauh dan semakin tampak samar-samar.
Yohanes tetap terpaku memandang ke arah Tubuh yang diangkat menuju Surga dan, berkat rahmat khusus yang dikaruniakan Allah sebagai imbalan atas cinta kasihnya kepada ibu angkatnya, ia dapat melihat dengan jelas Bunda Maria, yang diliputi oleh cahaya matahari yang sedang terbit, sadar dari ekstasi yang memisahkan jiwa dari raganya, menjadi hidup, berdiri tegak menikmati karunia tubuh yang telah dimuliakan.
Yohanes melihat dan terus melihat. Mukjizat yang dikaruniakan Allah kepadanya membuat ia mampu melawan segala hukum alam, melihat Bunda Maria seperti apa adanya sekarang, selagi Ia dengan cepatnya naik ke surga, tanpa perlu dibantu lagi, dikelilingi oleh para Malaikat yang menyanyikan hosanna. Dan Yohanes dikuasai oleh keindahan yang tak pernah akan dapat dilukiskan dengan pena maupun kata-kata, atau oleh seorang seniman terkemuka sekalipun, karena demikian indahnya.
Yohanes masih tetap bersandar pada tembok rendah teras, terus saja memandang cahaya yang demikian megah, dibentuk oleh Allah, naik semakin tinggi saja. Bunda Maria memang dapat demikian keadaannya karena dibentuk secara khusus oleh Allah, yang menghendaki Bunda Maria Tak Bernoda, agar Ia dapat layak menjadi tempat penjelmaan Sang Sabda. Dan cinta kasih Allah menganugerahkan kepada murid terkasihNya suatu mukjizat agar dapar menyaksikan pertemuan Ibu Yang Terberkati dengan PuteraNya Yang Maha Kudus, yang dengan megahnya dan bersinar diselimuti oleh keindahan yang tak terlukiskan, turun dengan cepatnya dari Surga menyongsong IbuNya, memeluknya dan melekatkannya pada HatiNya, dan bersama-sama, dengan terang yang melebihi cahaya dua bintang besar bersama-sama, dan akan kembali kelak bersama bila Sang Putra datang kembali.
Penampakan pada Yohanes selesailah sudah. Kepalanya tertunduk. Pada wajahnya yang memerah tampak kesedihannya karena kehilangan Bunda Maria sekaligus kebahagiaannya atas kemuliaan yang diraih Ibunya, namun kebahagiaan itu mengalahkan kesedihannya.
Katanya : "Terima kasih, ya Allahku, terima kasih. Aku telah melihat sebelumnya bahwa hal ini akan terjadi. Dan aku ingin tetap berjaga agar tidak kehilangan sedikitpun dari peristiwa pengangkatannya. Akan tetapi, telah tiga hari tiga malam aku tidak tidur. kantuk, letih bersatu dengan kesedihan menimpaku dan menyerangku tepat saat pengangkatan itu terjadi. Akan tetapi, mungkin sekali Engkau menghendaki, ya Engkau sendiri, ya Allah, agar aku tidak kacau pada saat itu dan agar aku tidak menderita terlalu banyak... ya, sungguh Engkau menghendaki agar aku menyaksikannya. Tanpa daya mukjizat dari Engkau, tidak mungkin aku dapat menyaksikannya. Engkau telah mengaruniai aku untuk menyaksikan dan melihat Ibu kembali, sekalipun sudah sangat jauh, sudah dimuliakan dan sudah mulia, seakan Ibu dekat kepadaku. Dan melihat Yesus lagi. O, alangkah bahagianya, tanpa aku perkirakan penampakan itu. Ya karunia dari segala karunia Yesus - Allah kepada muridNya Yohanes. Rahmat tertinggi untuk dapat melihat Guru dan Tuhanku lagi. MelihatNya dekat dengan IbuNya. Tuhan Yesus layaknya matahari, dan Bunda Maria bulannya, keduanya sangat indah, karena keduanya mulia dan berbahagia bersatu kembali untuk selamanya. Seperti apakah kiranya Firdaus sekarang ini setelah Engkau berdua bersinar didalamnya. Engkau Bintang-bintang Agung Yerusalem Surgawi ? Betapa indahnya paduan suara para Malaikat dan para kudus.. Betapa aku bahagia memperoleh penampakan Bunda Maria dan PutraNya, sesuatu yang menghapus segala penderitaan Yesus, segala penderitaan Yesus dan Bunda Maria, dan bahkan lebih lagi menghapus penderitaanku sendiri; damai sejahtera menggantikannya. Dari ketiga mukjizat yang kumohon kepadaMu ya Allah, dua sudah terlaksana. Aku menyaksikan Bunda Maria hidup kembali, dan kedamaian kembali kepadaku. Segala kekuatiranku berakhir, karena aku telah melihat Engkau bersatu kembali dalam kemuliaan. Terima kasih, ya Allah. Dan terima kasih atas semua itu yang memungkinkan segalanya terlaksana bagiku untuk menyaksikannya.
Dan ciptaanMu, yang paling kudus sekalipun, selagi mereka masih sebagai manusia, apakah yang akan terjadi pada mereka setelah penghakiman terakhir nanti, setelah kebangkitan badan, dan bersatu kembali dengan jiwanya, yang telah naik ke Surga saat mereka meninggal, aku tidak perlu melihatnya untuk percaya, karena aku selalu percaya sepenuh hati setiap Sabda Guruku. Namun banyak orang meragukan hal itu, setelah berabad-abad dan ribuan tahun, daging, yang menjadi debu, dapat hidup kembali. Aku dapat memberitahu mereka, bersumpah dengan penuh khidmat, bahwa bukan hanya Kristus yang hidup kembali, oleh kekuasaan ilahiNya, melainkan juga IbuNya, tiga hari setelah kematiannya - kalau kata mati itu dapat diterapkan padanya - hidup kembali, dan raga serta jiwanya bersatu kembali mengambil tempat abadi di dalam Surga, disamping Putranya. Aku dapat mengatakan : "Percayalah kaum kristiani, pada kebangkitan badan, pada zaman akhir, dan di dalam hidup kekal raga dan jiwa itu, suatu kehidupan bagi seorang kudus yang penuh berkat, dan kehidupan yang mengerikan bagi kaum pendosa yang tanpa mengenal sesal. Percayalah dan hiduplah seperti para kudus, hidup seperti Tuhan Yesus dan Bunda Maria, agar memperoleh kebahagiaan yang serupa. Aku melihat mereka naik ke Surga dengan ragaNya, aku berani menjadi saksi akan hal itu. Hiduplah sebagai orang benar, agar pada suatu hari nanti kamu dapat berada di dunia baru yang abadi, dengan raga dan jiwa, dekat dengan Yesus Sang Matahari, dekat dengan Bunda Maria, bintang segala bintang." Terima kasih sekali lagi, ya Allah. Dan sekarang biarkanlah kami untuk mengumpulkan kembali apa yang ditinggalkan oleh Bunda Maria. Bunga-bunga yang terjatuh dari busananya, ranting-ranting zaitun yang masih berserakan di ranjangnya, baiklah kami menyimpannya. Semua itu dapat menjadi ..... ya dapat menjadi kenangan dan penghibur saudara-saudaraku, yang kutunggu-tunggu dengan sia-sia. Cepat atau lambat aku akan bertemu dengan mereka ..."
Yohanes mengambil lembaran-lembaran bunga yang rontok kedalam tunika-nya dan masuk kembali ke dalam ruangan. Lalu ia mengamati lebih cermat celah yang terbuka pada atap dan berseru : "Mukjizat lagi. Suatu mukjizat indah dari kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Dia, Allah, yang telah bangkit atas kuasaNya sendiri, dan atas kehendak sendiri menggulingkan batu penutup makam, dan hanya oleh kekuasaanNya Ia naik ke Surga. Oleh Yesus sendirilah, Bunda Maria, ibu yang amat suci, putri manusia, dengan bantuan para Malaikat pula ia naik ke Surga, dan dengan ditatang oleh para Malaikat pula ia naik kesana. Dalam hal Kristus, rohNya kembali bersatu dengan TubuhNya ketika Ia masih ada di dalam kubur, karena memang harus demikianlah terjadinya, untuk membungkam musuh-musuhNya dan untuk menguatkan iman pengikut-pengikutNya. Dalam hal Bunda Maria, rohnya datang kembali ketika tubuhnya yang suci telah sampai di kawasan Firdaus, karena memang tidak ada maksud lain baginya. Kekuasaan sempurna dari Kebijaksanaan Allah yang tak mengenal batas ..."
Kini Yohanes mengumpulkan bunga-bunga dan ranting-ranting yang masih ada di ranjang ke dalam kain, dijadikan satu dengan yang ia kumpulkan di luar. Ia membuka selimut yang ada disitu, meletakkan bunga-bunga dan ranting-ranting, bantal kecil Maria dan sepreinya. Lalu ia pergi ke dapur, mengumpulkan alat-alat yang biasa digunakannya - pengantih dan sekocinya, dan alat-alat dapur - dijadikan satu dengan barang-barang lainnya.
Yohanes menutupi dadanya dan duduk di bangku sambil berseru : "Sekarang segala sesuatunya telah terlaksana, juga bagiku. Sekarang aku dapat pergi dengan bebas kemana Roh Allah akan membimbingku. Aku dapat pergi, dan menabur Sabda Ilahi, yang diberikan Guruku kepadaku, agar dapat kuteruskan kepada orang-orang lain dan mengajarkan cinta kasih. Dan mengajar mereka sedemikian rupa sehingga mereka percaya kepada cinta kasih dan kuasa cinta kasih itu. Biarlah manusia mengetahui bahwa cinta kasih Allah lah yang berbuat itu semua bagi manusia. PengurbananNya dan Sakramen serta ibadat yang abadi, yang menjadi sarana sampai akhir zaman, harus membuat kita mampu untuk disatukan dengan Yesus Kristus didalam Ekaristi dan membaharui ibadat dan pengurbanan seperti yang diperintahkan olehNya. Semua itu adalah karunia cinta kasih yang sempurna. Kita jadikan mereka pecinta Cinta Kasih agar mereka percaya kepadaNya, seperti kami pun percaya sejak dulu dan seterusnya. Taburlah Cinta Kasih sedemikian rupa agar panenan dan hasilnya berlimpah bagi Allah. Cinta kasih menghasilkan segala sesuatu. Bunda Maria mengajariku dalam percakapan terakhirnya dengan aku, yang ia rumuskan secara tepat berlaku bagi kelompok murid-murid : seorang pecinta mencintai lebih dari yang lain, antitesis Iskariot, si pembenci, seperti watak Petrus, yang meledak-ledak, dan sopan-santun Andreas, kesucian dan kebijaksanaan anak-anak Alpheus disertai tingkah laku yang anggun, dsb. Aku, murid yang mencintai, dan sekarang tidak lagi memiliki Guru dan Ibu untuk dicintai di dunia, akan pergi dan menyebarkan cinta kasih kepada bangsa-bangsa. Cinta kasih merupakan senjataku dan ajaranku. Dan dengan sarana ini aku akan mengalahkan setan, kebencian dan memenangkan banyak jiwa. Dengan demikian aku meneruskan cinta kasih sempurna Yesus dan Maria di dunia ini."
Kisah Terciptanya Sajak FootPrints
Tahukah anda cerita di balik terciptanya sajak ‘FOOTPRINTS’ (Telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul : Jejak – Jejak kaki).
Sajak tersebut telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga tidak banyak orang tahu apa latar belakang lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul ‘Jejak’ (aslinya : ‘Footprints’) sebenarnya adalah buah pena masa berpacaran di suatu senja di tepi danau.
Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau berdiri di depan loket atau kalau naik bis.
Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa kecilnya. Yang pertama adalah pengalamannya ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya. Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman jari-jari tangannya langsung dipukul oleh gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari jari-jari tangan Margaret memar kemerah-merahan.’Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak ... !’ Itulah ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap hari. Dan ia sungguh takut. ‘Tiap hari aku berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,’ ucap Margaret mengenang masa kecilnya.
Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah tentang dua teman perempuannya di kelasnya. ‘Aku akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang kebetulan berbadan besar. Kedua teman itu sering menjahati aku. Untung ada seorang teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat sehingga aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai aku jatuh dan pingsan. Selama beberapa hari aku terbaring sakit. Tetapi yang lebih parah lagi, selama beberapa bulan aku ketakutan,’ kenang Margaret.
Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas, tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan. Urat syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar. Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut mewarnai lahirnya sajak ‘Jejak’ ini, yang dikarang oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan yang bernama Paul. Hari itu Margaret dan Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret. Di tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang indah. ‘Mari kita jalan di pantai,’ usul Margaret. Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu berjalan bergandengan tangan di pantai pasir.
Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang jejak kaki mereka di pasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu. ‘Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang,’ seru Margaret. ‘Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air,’ lirih Margaret. ‘Jangan berpikir begitu,’ protes Paul. ‘Aku malah melihat lambang yang indah. Setelah kita menikah, yang semula dua akan menjadi satu. Lihat itu, di situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.’ Mereka berjalan terus. ‘Paul, lihat, di sini jejakku hilang lagi.’ Paul menatap Margaret dengan tajam, ‘Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan.
Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini...’ Lalu Paul mengangkat tubuh Margaret yang kecil dan ringan itu dan memutar-mutarnya. Malam itu setibanya mereka di tempat retret, Margaret yang adalah pengarang kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung, mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret lagi.......Seolah-olah bermimpi, dalam imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu pasang jejaknya sendiri dan satu pasang jejak Tuhan. Tetapi... dan seterusnya. Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi ! Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia tidur. Keesokan harinya, begitu bangun, ia langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu membubuhkan judul ‘Aku Bermimpi’. Ia mengubah beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang sekarang kita kenal dengan judul ‘Jejak’. Pada hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan Paul. Paul berkata, ‘... ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita.’ Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :
One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand,
One belong to me and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me,
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was the lowest and the saddest times of my life.
This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.
‘Lord, You told me when I decided to follow,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome times of my life,
There is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I need You most, You leave me.’
He whispered, ‘My precious child, I love you and will never leave you never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints,
It was then that I carried you.’
Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya. Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang terkandung sajak itu. Sekarangpun tiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita. Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat dimana musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kali kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas. Mana telapak kaki kita ? Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat dan digendong Tuhan.
Sajak tersebut telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Namun tidak banyak orang mengetahui siapa pengarang sajak itu. Juga tidak banyak orang tahu apa latar belakang lahirnya sajak itu. Lebih-lebih lagi tidak banyak orang tahu bahwa sajak yang berjudul ‘Jejak’ (aslinya : ‘Footprints’) sebenarnya adalah buah pena masa berpacaran di suatu senja di tepi danau.
Pengarang sajak itu adalah Margaret Fishback, seorang guru sekolah dasar Kristen untuk anak-anak Indian di Kanada. Margaret sangat pendek dan kecil untuk ukuran orang Kanada. Tinggi badannya hanya 147 cm. Tubuhnya ramping dan wajahnya halus seperti anak kecil. Karena itu walaupun ia sudah dewasa dan sudah menjadi ibu guru ia sering diberi karcis untuk anak-anak kalau berdiri di depan loket atau kalau naik bis.
Margaret dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana hangat dan penuh kasih. Namun ada beberapa peristiwa yang terasa pahit dalam kenangan masa kecilnya. Yang pertama adalah pengalamannya ketika ia menjadi murid kelas satu sekolah dasar. Ia mempunyai kenangan buruk tentang gurunya. Margaret berlogat Jerman karena ayahnya berasal dari Jerman. Lalu tiap kali Margaret melafalkan sebuah kata Bahasa Inggris dengan logat Jerman jari-jari tangannya langsung dipukul oleh gurunya dengan sebuah tongkat kayu. Tiap hari jari-jari tangan Margaret memar kemerah-merahan.’Jangan bicara dengan logat Jerman. Pakai logat yang betul, kalau tidak ... !’ Itulah ancaman dan amarah yang didengar Margaret setiap hari. Dan ia sungguh takut. ‘Tiap hari aku berangkat ke sekolah dihantui oleh rasa takut. Aku heran mengapa aku dimarahi. Apa salahku ? Apa salahnya orang berbicara dengan logat Jerman ? Baru kemudian hari aku tahu bahwa pada waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II, sehingga orang Jerman dibenci di Amerika dan Kanada,’ ucap Margaret mengenang masa kecilnya.
Kenangan pahit lain yang diingat Margaret adalah tentang dua teman perempuannya di kelasnya. ‘Aku akrab dengan semua teman dan mereka senang bermain dengan aku, kecuali dua orang teman perempuan yang kebetulan berbadan besar. Kedua teman itu sering menjahati aku. Untung ada seorang teman laki-laki yang selalu melindungi aku. Namun pada suatu hari teman laki-laki itu tidak masuk ke sekolah. Lalu kedua teman perempuan yang berbadan besar itu menjatuhkan aku dan duduk di atas perutku sambil menggelitiki aku. Aku kehabisan nafas. Untung tiba-tiba ada orang yang lewat sehingga aku dilepas. Langsung aku lari ketakutan sampai aku jatuh dan pingsan. Selama beberapa hari aku terbaring sakit. Tetapi yang lebih parah lagi, selama beberapa bulan aku ketakutan,’ kenang Margaret.
Juga tentang masa dewasanya Margaret mempunyai pengalaman yang menakutkan. Pada suatu siang yang bercuaca buruk, ketika ia sedang mengajar di kelas, tiba-tiba jendela terbuka dan petir menyambar sekujur tubuh Margaret. Ia jatuh terpental di lantai. Setelah dirawat di rumah sakit, ia tetap mengidap penyakit yang tidak tersembuhkan. Urat syarafnya terganggu sehingga ia sering bergetar. Bukan mustahil semua pengalaman buruk itu turut mewarnai lahirnya sajak ‘Jejak’ ini, yang dikarang oleh Margaret ketika ia sudah mempunyai tunangan yang bernama Paul. Hari itu Margaret dan Paul berangkat menuju suatu tempat perkemahan di utara Toronto untuk memimpin retret. Di tengah perjalanan, mereka melewati danau Echo yang indah. ‘Mari kita jalan di pantai,’ usul Margaret. Dengan semangat mereka melepaskan sepatu lalu berjalan bergandengan tangan di pantai pasir.
Ketika mereka kembali dan berjalan ke arah mobil mereka, dengan jelas mereka mengenali dua pasang jejak kaki mereka di pasir pantai. Namun di tempat-tempat tertentu gelombang air telah menghapus satu pasang jejak itu. ‘Hai Paul, lihat, jejak kakiku hilang,’ seru Margaret. ‘Itukah mungkin yang akan terjadi dalam impian pernikahan kita? Semua cita-cita kita mungkin akan lenyap disapu gelombang air,’ lirih Margaret. ‘Jangan berpikir begitu,’ protes Paul. ‘Aku malah melihat lambang yang indah. Setelah kita menikah, yang semula dua akan menjadi satu. Lihat itu, di situ jejak kaki kita masih ada lengkap dua pasang.’ Mereka berjalan terus. ‘Paul, lihat, di sini jejakku hilang lagi.’ Paul menatap Margaret dengan tajam, ‘Margie jalan hidup kita dipelihara Tuhan.
Pada saat yang susah, ketika kita sendiri tidak bisa berjalan, nanti Tuhan akan mengangkat kita. Seperti begini...’ Lalu Paul mengangkat tubuh Margaret yang kecil dan ringan itu dan memutar-mutarnya. Malam itu setibanya mereka di tempat retret, Margaret yang adalah pengarang kawakan menggoreskan pena dan menuangkan ilham pengalamannya tadi di pantai. Kalimat demi kalimat mengalir. Dicoretnya sebuah kalimat, diubahnya kalimat yang lain. Ia berpikir, menulis, termenung, mencoret, menulis lagi, termenung lagi, mencoret lagi.......Seolah-olah bermimpi, dalam imajinasinya ia merasa berjalan bersama dengan Tuhan Yesus di tepi pantai. Ketika berjalan kembali ia melihat dua pasang jejak kaki, satu pasang jejaknya sendiri dan satu pasang jejak Tuhan. Tetapi... dan seterusnya. Margaret melihat lonceng. Pukul 3 pagi ! Cepat-cepat diselesaikannya tulisannya, lalu ia tidur. Keesokan harinya, begitu bangun, ia langsung membaca ulang tulisannya. Ah, belum ada judulnya. Margaret berpikir sejenak lalu membubuhkan judul ‘Aku Bermimpi’. Ia mengubah beberapa kata dan kalimat. Dan lahirlah sajak yang sekarang kita kenal dengan judul ‘Jejak’. Pada hari itu juga dalam kebaktian, sajak itu dibacakan Paul. Paul berkata, ‘... ada saat di mana kita merasa seolah-olah Tuhan meninggalkan kita. Musibah menimpa kita dan jalan hidup kita begitu sulit. Kita bertanya mengapa Tuhan tidak menolong kita. Sebenarnya Tuhan sedang menolong kita. Tuhan sedang mengangkat kita.’ Lalu Paul membacakan sajak karya Margaret :
One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord.
Across the dark sky flashed scenes from my life.
For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand,
One belong to me and one to my Lord.
When the last scene of my life shot before me,
I looked back at the footprints in the sand.
There was only one set of footprints.
I realized that this was the lowest and the saddest times of my life.
This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.
‘Lord, You told me when I decided to follow,
You would walk and talk with me all the way.
But I'm aware that during the most troublesome times of my life,
There is only one set of footprints.
I just don't understand why, when I need You most, You leave me.’
He whispered, ‘My precious child, I love you and will never leave you never, ever, during your trials and testings.
When you saw only one set of footprints,
It was then that I carried you.’
Seluruh peserta retret duduk terpaku mendengarnya. Mereka termenung menyimak kedalaman arti yang terkandung sajak itu. Sekarangpun tiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu. Sajak itu mengajak kita menelusuri perjalanan hidup kita. Dalam perjalanan itu telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat dimana musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya telapak kaki Tuhan. Telapak kali kita tidak tampak, padahal telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas. Mana telapak kaki kita ? Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat dan digendong Tuhan.
Injil Menurut Toko Serba Ada (The Gospel According to the Dept. Store)
Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal. Semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati.
Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah Dept. Store di Amerika Serikat.
Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan indah.
Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu Bau badan menyengat hidung. Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan wanita. Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya Padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal.
Di tengah Dept. Store itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlapan itu. Tetapi sang 'bag lady" jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.
Rupanya pengemis itu mencari sesuatu dibagian Gaun Wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek (branded items) dengan harga diatas $ 2500 per piece. Kalau dikonversi dengan kurs hari-hari ini, harganya dalam rupiah sekitar Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah ! Apa yang dikerjakan pengemis ini?
Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda ?"
"Saya ingin mencoba gaun merah muda itu ?"
Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda ? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu. Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu.
"Berapa ukuran yang anda perlukan ?"
"Tidak tahu !"
"Baiklah, mari saya ukur dulu."
Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya."OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya ! Cobalah yangini !" Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas. "Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?
"Oh, tentu !"
Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.
Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.
Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu. Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya.
"Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini ?"
"Oh, memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to be kind !) "Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"
"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik." Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain.
Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada hari Minggu berikutnya dengan thema "Injil Menurut Toko Serba Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu.
Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini. Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 % !
"Peliharalah kasih persaudaraan ! Jangan kamu lupa memberi kebaikan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Ibrani 13:1-2.
Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah Dept. Store di Amerika Serikat.
Pada suatu hari seorang pengemis wanita yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya hanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis) memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Lantainya semua dilapisi karpet yang baru dan indah.
Pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Bajunya kotor dan penuh lubang-lubang. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu Bau badan menyengat hidung. Ketika itu seorang hamba Tuhan wanita mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan wanita. Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya Padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal.
Di tengah Dept. Store itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu natal dengan gaun yang indah. Suasana di toko itu tidak cocok sekali bagi si pengemis wanita itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan gemerlapan itu. Tetapi sang 'bag lady" jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.
Rupanya pengemis itu mencari sesuatu dibagian Gaun Wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal bermerek (branded items) dengan harga diatas $ 2500 per piece. Kalau dikonversi dengan kurs hari-hari ini, harganya dalam rupiah sekitar Rp. 20 juta per piece. Baju-baju yang mahal dan mewah ! Apa yang dikerjakan pengemis ini?
Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda ?"
"Saya ingin mencoba gaun merah muda itu ?"
Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda ? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu. Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu.
"Berapa ukuran yang anda perlukan ?"
"Tidak tahu !"
"Baiklah, mari saya ukur dulu."
Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya."OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya ! Cobalah yangini !" Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas. "Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?
"Oh, tentu !"
Kurang lebih dua jam pelayan ini menghabiskan waktunya untuk melayani sang "bag lady". Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak ! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya.
Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Hari itu ada seorang pelayan toko yang melayaninya, yang menganggapnya seperti orang penting, yang mau mendengarkan permintaannya.
Tetapi mengapa pelayan toko itu repot-repot melayaninya ? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan perlu biaya bagi toko itu? Toko itu harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry, dicuci bersih agar kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu. Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya.
"Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini ?"
"Oh, memang tugas saya adalah melayani dan berbuat baik (My job is to serve and to be kind !) "Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"
"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik." Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain.
Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada hari Minggu berikutnya dengan thema "Injil Menurut Toko Serba Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu.
Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif ini. Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa, tetapi akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 % !
"Peliharalah kasih persaudaraan ! Jangan kamu lupa memberi kebaikan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." Ibrani 13:1-2.
Hidupmu sudah diatur Tuhan
Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya. Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya, maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah,hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.
Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.
Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.
Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib.
Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.
Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh.
Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.
Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal.
Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.
Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali
memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.
Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.
Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?"
"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan ka pal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."
Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan...
Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.
Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.
Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. (Roma 8:28)
Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus. Pada suatu hari, sang penjaga pintu pun berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.
Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.
Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib.
Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.
Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh.
Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.
Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal.
Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak ber bicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.
Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali
memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.
Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara. Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.
Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?"
"Kamu itu tahu apa?", kata Yesus. "Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan ka pal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."
Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu terkandung sebuah rahasia kehidupan...
Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.
Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.
Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. (Roma 8:28)
Si Murung & Si Ceria
Ada dua anak bernama Si Ceria dan Si Murung. Seperti namanya Ceria
mempunyai sifat periang, selalu gembira dan tersenyum. Sebaliknya
Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum.
Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung
tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi sedih cemberut dan sedih. Mereka lalu berpikir untuk memberikan sesuatu yang menjadi kesukaan masing-masing anak.
Si Murung menginginkan telepon genggam. Selama ini jika pergi dengan
teman-temannya sering kali ia meminjam telepon genggam milik temannya. Orangtuanya membelikan sebuah telepon genggam terbaru supaya dia menjadi senang dan gembira.
Sewaktu Murung pergi sekolah, telepon genggam itu dibungkus oleh orang
tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya.
Sepulang sekolah, Murung segera masuk ke kamar dan melihat ada kado di sana. Cepat-cepat ia membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika
mendapatkan di dalamnya berisi telepon genggam. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama. Kemudian ia murung lagi karena ia takut kalau-kalau teman-temannya akan meminjam telepon genggamnya lalu menjadi rusak. Di benaknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado itu menjadi beban baginya. Yang keluar dari mulutnya adalah omelan dan keluhan, bukannya ucapan terima kasih kepada orang tuanya.
Di pihak lain, si Ceria senang sekali dengan kuda. Orang tuanya membungkus
kotoran kuda dan diletakkan dalam kamar agar ia menjadi sedih dan murung.
Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut melihat ada kado di kamarnya.
Dengan sergap ia membuka pula kado itu. Betapa terkejutnya ia, ternyata yang didapatkan adalah kotoran kuda berbau busuk. Mukanya kebingungan
sejenak.Tetapi ia segera berpikir, "Ah masa orang tuaku yang begitu
mencintaiku memberi aku kotoran kuda, pasti ada sesuatu di balik hadiah
ini."
Kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya
sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi
kotoran kuda kok senang sih?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu
kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya?"
Kemudian orang tuanya berkata, "Kami hanya memberi itu kepada kamu."
Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya." Akhirnya orang tuanya kalah, dan membelikan dia kuda pony.
Smiley...! Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai akan selalu
berpikir bahwa ia selalu akan menerima yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dalam penderitaan. Sebaliknya orang yang pesimis merasa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang, sehingga ia selalu gelisah, takut, dan khawatir.
mempunyai sifat periang, selalu gembira dan tersenyum. Sebaliknya
Murung mempunyai perangai yang cemberut, selalu sedih, dan jarang tersenyum.
Suatu ketika orang tua mereka berpikiran untuk membuat Si Murung
tersenyum gembira dan membuat Si Ceria menjadi sedih cemberut dan sedih. Mereka lalu berpikir untuk memberikan sesuatu yang menjadi kesukaan masing-masing anak.
Si Murung menginginkan telepon genggam. Selama ini jika pergi dengan
teman-temannya sering kali ia meminjam telepon genggam milik temannya. Orangtuanya membelikan sebuah telepon genggam terbaru supaya dia menjadi senang dan gembira.
Sewaktu Murung pergi sekolah, telepon genggam itu dibungkus oleh orang
tuanya dengan kertas kado yang bagus dan diletakkan di kamarnya.
Sepulang sekolah, Murung segera masuk ke kamar dan melihat ada kado di sana. Cepat-cepat ia membuka kado itu dan ia terkejut sekali ketika
mendapatkan di dalamnya berisi telepon genggam. Wajahnya tersenyum, tapi tidak lama. Kemudian ia murung lagi karena ia takut kalau-kalau teman-temannya akan meminjam telepon genggamnya lalu menjadi rusak. Di benaknya selalu muncul pikiran yang negatif, sehingga kado itu menjadi beban baginya. Yang keluar dari mulutnya adalah omelan dan keluhan, bukannya ucapan terima kasih kepada orang tuanya.
Di pihak lain, si Ceria senang sekali dengan kuda. Orang tuanya membungkus
kotoran kuda dan diletakkan dalam kamar agar ia menjadi sedih dan murung.
Sewaktu Ceria pulang ia juga terkejut melihat ada kado di kamarnya.
Dengan sergap ia membuka pula kado itu. Betapa terkejutnya ia, ternyata yang didapatkan adalah kotoran kuda berbau busuk. Mukanya kebingungan
sejenak.Tetapi ia segera berpikir, "Ah masa orang tuaku yang begitu
mencintaiku memberi aku kotoran kuda, pasti ada sesuatu di balik hadiah
ini."
Kemudian ia lari kepada orang tuanya dan mencium mereka. Orang tuanya
sangat bingung dan terkejut kemudian bertanya, "Lho kamu itu diberi
kotoran kuda kok senang sih?".Lalu Ceria menjawab, "Papa, Mama, saya tahu
kalian sangat mencintai saya, jadi tidak mungkin memberi kotoran kuda kepada saya, pasti kotoran kuda itu adalah sebuah tanda. Kalau ada kotoran kuda, berarti ada kudanya. Saya tahu bahwa kalian akan membelikan kuda pony buat saya, dan sekarang mana kudanya?"
Kemudian orang tuanya berkata, "Kami hanya memberi itu kepada kamu."
Ceria menyahut, "Tidak mungkin saya yakin pasti ada kudanya." Akhirnya orang tuanya kalah, dan membelikan dia kuda pony.
Smiley...! Orang yang hidupnya merasa sangat dicintai akan selalu
berpikir bahwa ia selalu akan menerima yang terbaik dalam hidupnya, walaupun dalam penderitaan. Sebaliknya orang yang pesimis merasa hidup ini menjadi beban penderitaan yang sangat panjang, sehingga ia selalu gelisah, takut, dan khawatir.
Dua elang dan seekor katak
Tiga binatang adalah teman sekarib; dua ekor elang yang besar perkasa dan seekor katak mungil. Sesungguhnya seekor katak merupakan santapan lezat sang elang. Namun bukan mustahil sesuatu yang luar biasa bias terjadi. Dan itu mungkin yang disebut sebagai keajaiban. Ketika sang rajawali hinggap dipinggir sebuah kubangan, mereka menemukan seekor katak, walau kecil namun menarik dan mampu meluluh-lantakan ketamakan hati kedua elang itu. Perlahan mereka bersahabat, ada kasih, ada cinta, ada sayang yang terjalin di antara mereka.
Perlahan musimpun kini beralih. Belahan bumi bagian utara tempat di mana ketiga sekawan itu hidup kini perlahan dingin. Dan di awal musim dingin kawanan burung akan hijrah, terbang jauh ke belahan selatan yang lebih hangat. Kedua elangpun akan melakukan perjalanan yang sama, meninggalkan arus dingin yang bakal tiba dalam beberapa hari.
Sebuah perpisahan adalah saat yang sedih. Ada kesedihan bercokol dalam di dasar sanubari. Ada ratap tangis, ada air mata, ada kepedihan. Mereka tak meratapi perpisahan ini, tetapi menangisi saat pertemuan dulu. Mengapa hal itu terjadi? Mengapa mereka dulu pernah bertemu dan saling menjalin cinta? Namun menangisi masa silam sama halnya dengan kehampaan. Mereka harus melihat kenyataan saat kini.
"Seandainya engkau bisa terbang tinggi di angkasa raya..." demikian sang elang berkata-kata, "maka kita tak akan harus berpisah!" Sang katak yang kerdil kini berpikir keras mencari jalan, dan akhirnya muncul dengan sebuah gagasan gemilang. Ia membawa sebuah tongkat. Dengan paruhnya masing-masing kedua elang itu memegang kedua ujung tongkat, dan sang katak dengan mulutnya memegang erat di bagian tengah tongkat itu. Maka terjadilah... Ketiga binatang itu bersama-sama terbang riang di angkasa biru.
Semua binatang lain mengangkat wajah melihat keajaiban di atas sana. "Oh...Betapa hebatnya. Katakpun bisa terbang tinggi. Seandainya aku bisa terbang di langit biru." Demikian mereka berdecak kagum. Mendengar decakan kagum itu sang katak menjadi sangat bangga. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya berkata pada dirinya sendiri, "Kalau bukan karena kepintaranku maka keajaiban ini tak akan pernah terjadi."
Tak lama berselang sebuah suara teriakan nyaring terdengar di telinga sang katak; "Wah...! Siapakah yang sedemikian pintarnya menemukan cara gemilang ini sehingga sang katakpun bisa terbang tinggi?" Sang katak kini tak mampu menahan diri. Ia ingin agar semua orang tahu bahwa hal ajaib ini terjadi karena kehebatannya. Karena itu dengan sekuat tenaganya sang katak membuka mulut dan berteriak; "Ini adalah hasil pikiran sa..." Sayang...seribu sayang! Sebelum ia mampu menyelesaikan kata-katanya, ia telah terjerembab jatuh, badannya menghantam wadas keras, dan seketika itu juga menjadi seonggok sampah tak bermakna. Wah....kalau seandainya sang katak tak berkoar mewartakan kebesaran dirinya sendiri, maka mereka akan bersama-sama tiba di dunia baru, dunia yang penuh kehangatan.
---------------
"Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14: 11; Luk 18, 14; Mat 23, 12).
Perlahan musimpun kini beralih. Belahan bumi bagian utara tempat di mana ketiga sekawan itu hidup kini perlahan dingin. Dan di awal musim dingin kawanan burung akan hijrah, terbang jauh ke belahan selatan yang lebih hangat. Kedua elangpun akan melakukan perjalanan yang sama, meninggalkan arus dingin yang bakal tiba dalam beberapa hari.
Sebuah perpisahan adalah saat yang sedih. Ada kesedihan bercokol dalam di dasar sanubari. Ada ratap tangis, ada air mata, ada kepedihan. Mereka tak meratapi perpisahan ini, tetapi menangisi saat pertemuan dulu. Mengapa hal itu terjadi? Mengapa mereka dulu pernah bertemu dan saling menjalin cinta? Namun menangisi masa silam sama halnya dengan kehampaan. Mereka harus melihat kenyataan saat kini.
"Seandainya engkau bisa terbang tinggi di angkasa raya..." demikian sang elang berkata-kata, "maka kita tak akan harus berpisah!" Sang katak yang kerdil kini berpikir keras mencari jalan, dan akhirnya muncul dengan sebuah gagasan gemilang. Ia membawa sebuah tongkat. Dengan paruhnya masing-masing kedua elang itu memegang kedua ujung tongkat, dan sang katak dengan mulutnya memegang erat di bagian tengah tongkat itu. Maka terjadilah... Ketiga binatang itu bersama-sama terbang riang di angkasa biru.
Semua binatang lain mengangkat wajah melihat keajaiban di atas sana. "Oh...Betapa hebatnya. Katakpun bisa terbang tinggi. Seandainya aku bisa terbang di langit biru." Demikian mereka berdecak kagum. Mendengar decakan kagum itu sang katak menjadi sangat bangga. Dalam hatinya ia tak henti-hentinya berkata pada dirinya sendiri, "Kalau bukan karena kepintaranku maka keajaiban ini tak akan pernah terjadi."
Tak lama berselang sebuah suara teriakan nyaring terdengar di telinga sang katak; "Wah...! Siapakah yang sedemikian pintarnya menemukan cara gemilang ini sehingga sang katakpun bisa terbang tinggi?" Sang katak kini tak mampu menahan diri. Ia ingin agar semua orang tahu bahwa hal ajaib ini terjadi karena kehebatannya. Karena itu dengan sekuat tenaganya sang katak membuka mulut dan berteriak; "Ini adalah hasil pikiran sa..." Sayang...seribu sayang! Sebelum ia mampu menyelesaikan kata-katanya, ia telah terjerembab jatuh, badannya menghantam wadas keras, dan seketika itu juga menjadi seonggok sampah tak bermakna. Wah....kalau seandainya sang katak tak berkoar mewartakan kebesaran dirinya sendiri, maka mereka akan bersama-sama tiba di dunia baru, dunia yang penuh kehangatan.
---------------
"Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14: 11; Luk 18, 14; Mat 23, 12).
Langganan:
Postingan (Atom)