Musashi, Sang Guru, mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak miring dan murung. "Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah senyum dan syukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang murid muda itu.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu." Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit." Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke telaga di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke telaga!." Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan suhu, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air telaga itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir telaga.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air telaga, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air telaga yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, telaga ini berasal dari aliransumber air di atas sana . Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air telaga ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air telaga sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih, hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah,sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'hara" (sukmahati) yang menampungnya.Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Buatlah hati dalam dadamu itu jadi seluas telaga!"
1 Yohanes 4:10 "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita"
Senin, 01 Maret 2010
Don't give up.....
One day I decided to quit...
I quit my job, my relationship, my spirituality... I wanted to quit my life.
I went to the woods to have one last talk with God.
"God", I asked, "Can you give me one good reason not to quit?"
His answer surprised me...
"Look around", He said. "Do you see the fern and the bamboo?"
"Yes", I replied.
"When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water.
The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo.
In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful.
And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. He said.
"In year three there was still nothing from the bamboo seed.
But I would not quit.
In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit." He said.
"Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant...But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall.
It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive.
I would not give any of my creations a challenge it could not handle."
He asked me. "Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots".
"I would not quit on the bamboo. I will never quit on you."
"Don't compare yourself to others."
He said. "The bamboo had a different Purpose than the fern.
Yet they both make the forest beautiful."
"Your time will come", God said to me. "You will rise high"
"How high should I rise?" I asked.
"How high will the bamboo rise?" He asked in return.
"As high as it can?" I questioned.
"Yes." He said, "Give me glory by rising as high as you can."
I left the forest and brought back this story.
I hope these words can help you see that God will never give up on you.
Never, Never, Never Give up.
For the Christian Prayer is not an option but an opportunity.
Don't tell the Lord how big the problem is,
tell the problem how Great the Lord is!
Heavens door open this morning, God asked me...
"My CHILD, what can I do for you?"
And I said, "Daddy, please protect and bless the one reading this message."
God smiled and answered, "Request granted."
This message is now in your hands.
What will YOU do with it?
send this to your friends so they will have their lives in God's hands
You never know when GOD is going to bless you!! Good things happen when you least expect them to !!!
I quit my job, my relationship, my spirituality... I wanted to quit my life.
I went to the woods to have one last talk with God.
"God", I asked, "Can you give me one good reason not to quit?"
His answer surprised me...
"Look around", He said. "Do you see the fern and the bamboo?"
"Yes", I replied.
"When I planted the fern and the bamboo seeds, I took very good care of them. I gave them light. I gave them water.
The fern quickly grew from the earth. Its brilliant green covered the floor. Yet nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo.
In the second year the Fern grew more vibrant and plentiful.
And again, nothing came from the bamboo seed. But I did not quit on the bamboo. He said.
"In year three there was still nothing from the bamboo seed.
But I would not quit.
In year four, again, there was nothing from the bamboo seed. I would not quit." He said.
"Then in the fifth year a tiny sprout emerged from the earth. Compared to the fern it was seemingly small and insignificant...But just 6 months later the bamboo rose to over 100 feet tall.
It had spent the five years growing roots. Those roots made it strong and gave it what it needed to survive.
I would not give any of my creations a challenge it could not handle."
He asked me. "Did you know, my child, that all this time you have been struggling, you have actually been growing roots".
"I would not quit on the bamboo. I will never quit on you."
"Don't compare yourself to others."
He said. "The bamboo had a different Purpose than the fern.
Yet they both make the forest beautiful."
"Your time will come", God said to me. "You will rise high"
"How high should I rise?" I asked.
"How high will the bamboo rise?" He asked in return.
"As high as it can?" I questioned.
"Yes." He said, "Give me glory by rising as high as you can."
I left the forest and brought back this story.
I hope these words can help you see that God will never give up on you.
Never, Never, Never Give up.
For the Christian Prayer is not an option but an opportunity.
Don't tell the Lord how big the problem is,
tell the problem how Great the Lord is!
Heavens door open this morning, God asked me...
"My CHILD, what can I do for you?"
And I said, "Daddy, please protect and bless the one reading this message."
God smiled and answered, "Request granted."
This message is now in your hands.
What will YOU do with it?
send this to your friends so they will have their lives in God's hands
You never know when GOD is going to bless you!! Good things happen when you least expect them to !!!
Sabtu, 27 Februari 2010
Kita Berharga Di Mata Tuhan
Saya baru menyadari minggu kemarin padahal kejadiannya sudah agak lama terjadi. Begini : Pada awal th.2000 saya dinyatakan hamil oleh dokter, senang bercampur haru karna saya tak perlu menunggu lama menantikan sikecil. Sejak awal usia kandunganku ku isi dengan firman Tuhan yang selalu dan selau kukatakan dalam hati bahwa dimana Tuhan memberi maka Tuhan tidak akan mengambilnya tetapi akan menjaganya sampai saya melahirkan secara normal. Saya tekankan dalam kehamilan saya ini bahwa saya dijauhkan dari penyakit yang menyerang anak saya didalam kandungan, sampai sayapun menolak untuk memeriksa apakah ada virus toxso atau rubella, saya yakin dalam nama Tuhan tidak pernah ada. Dan Puji Tuhan tidak ada tuh... Semakin hari usia kandunganku semakin besar dan saya mengucapkan terus firman Tuhan yang berbunyi : 'MASAKAN AKU MEMBUKAKAN RAHIM ORANG DAN TIDAK MEMBUATNYA MELAHIRKAN?' ( yesaya,66,9 )
Saya tidak pernah menyangka bahwa saya harus melahirkan cepat sebelum waktunya, Tengah malam air ketuban saya pecah dan bercampur darah sehingga saya dibawa ke rumah sakit, menunggu semalaman tidak ada tanda-tanda adanya pembukaan, hingga siang hari bolongpun tidak ada tandanya sehingga dokter menyatakan agar saya cepat dioperasi. Saya tidak bisa menerima, mana janji Tuhan untuk saya, mana ?????, tapi akhirnya keluarga setuju karna itu jalan yang terbaik. Akhirnya sikecil lahir dengan jalan operasi caesar. Sudah hampir genap setahun setengah saya masih 'kesal & marah' dengan Tuhan, dimana Tuhan tidak memberikan janjinya kepada saya.
Seminggu yang lalu tanpa disengaja keinginan membuka alkitab dan saya menemukan firman yang mengatakan seperti ini 'OLEH KARENA ENGKAU BERHARGA DIMATAKU DAN MULIA, DAN AKU MENGASIHI ENGKAU '( yesaya,43,4) Kuterus berpikir akhirnya kutemukan jawabannya, saya ini bakat kena keloid, jika tersayat sedikit maka akan timbul keloid ( macam daging tumbuh ), dari sinilah saya sadar seandainya saya melahirkan normal dan saya mendapatkan jahitan bagaimana selanjutnya saya tidak tahu, karna bekas keloid dari operasi saja masih berasa nyeri-nyeri, bisa dibayangkan jika normal dan dijahit didalam bagaimana rasanya......
Ternyata Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. ( pengkotbah,3,11).
rosy
Email: ro_rey2000@yahoo.com
Saya tidak pernah menyangka bahwa saya harus melahirkan cepat sebelum waktunya, Tengah malam air ketuban saya pecah dan bercampur darah sehingga saya dibawa ke rumah sakit, menunggu semalaman tidak ada tanda-tanda adanya pembukaan, hingga siang hari bolongpun tidak ada tandanya sehingga dokter menyatakan agar saya cepat dioperasi. Saya tidak bisa menerima, mana janji Tuhan untuk saya, mana ?????, tapi akhirnya keluarga setuju karna itu jalan yang terbaik. Akhirnya sikecil lahir dengan jalan operasi caesar. Sudah hampir genap setahun setengah saya masih 'kesal & marah' dengan Tuhan, dimana Tuhan tidak memberikan janjinya kepada saya.
Seminggu yang lalu tanpa disengaja keinginan membuka alkitab dan saya menemukan firman yang mengatakan seperti ini 'OLEH KARENA ENGKAU BERHARGA DIMATAKU DAN MULIA, DAN AKU MENGASIHI ENGKAU '( yesaya,43,4) Kuterus berpikir akhirnya kutemukan jawabannya, saya ini bakat kena keloid, jika tersayat sedikit maka akan timbul keloid ( macam daging tumbuh ), dari sinilah saya sadar seandainya saya melahirkan normal dan saya mendapatkan jahitan bagaimana selanjutnya saya tidak tahu, karna bekas keloid dari operasi saja masih berasa nyeri-nyeri, bisa dibayangkan jika normal dan dijahit didalam bagaimana rasanya......
Ternyata Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. ( pengkotbah,3,11).
rosy
Email: ro_rey2000@yahoo.com
Mujizat Yang Tak Terlupakan
Pada tahun 1970 ketika saya masih duduk di kelas V Sekolah Dasar Katolik di salah satu daerah di Flores, terjadilah sebuah peristiwa rohani yang luar biasa, yang hingga kini tidak pernah saya lupakan. Kejadiannya demikian. Kami lahir dari sebuah keluarag besar dengan 9 bersaudara, 7 laki-laki dan 2 perempuan.
Ayah kami adalah seorang Kepala Sekolah Dasar Katolik dimana kami bersekolah. Untuk membantu tugas keluarga, khususnya ibunda yang selalu giat bertani, ayah membeli 2 ekor kuda. Kuda yang satu dipergunakan sebagai kuda beban, yang satu dipergunakan sebagai kuda tunggang. Misalnya selagi ayah mau ke pasar atau urusan dinas ke kota kecamatan. Biasanya cara pemeliharaan kuda di tempat asal kami sangat mudah.
Kuda dilepaskan begitu saja di padang atau di bukit yang berrumput dan sekali dalam seminggu ditangkap untuk dimandikan dan diberikan makanan tambahan, seperti jagung atau beras.
Pada suatu ketika, kuda kesayangan tersebut jatuh dalam jurang yang terjal dengan kemiringan 120 derajat, dan secara akal sehat tidak mungkin untuk ditarik keluar dengan kekuatan manusia dengan kondisi di desa saat itu. Mungkin kalau di jakarta tinggal panggil helikopter, lalu turunkan tali dan sepersekian menit kuda tersebut bisa ditarik atau diangkat keluar.
Melihat kejadian itu saya dan adik saya berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya supaya kuda tersebut, bisa keluara dari jurang yang sial itu. Kami turun perlahan-lahan ke dalam jurang tersebut, dan mengikatkan tali di lehernya, lalu bersama-sama kami berdua berusaha untuk menarik kuda tersebut. Memang usaha tersebut sia-sia dan kalau dipikir-pikir usaha kami berdua waktu itu merupakan sebuah tindakan yang bodoh. Bagaimana mungkin harus menarik seekor kuda dari jurang yang terjal. Setelah berusaha sekian lama dan tidak mendapatkan hasil, kami berdua pun menangis, kasihan bahwa kuda ini pasti akan mati dan yang lain bagaimana cara menyampaikan berita ini kepada ayah kami. Karena kuda tersebut merupakan kuda kesayangan.
Ditengah kesedian dan kekalutan yang kami alami, tiba-tiba dari dalam hati muncul bisikan, supaya kalian berdua berdoa saja satu kali Bapa Kami dan tiga kali Salam Maria. Dengan serta merta kami melaksanakannya doa Bapa Kami dan Salam Maria. Dan Tuhan mendengarkan doa kami. Kami tidak mengalami kesulitan menarik kembali kuda dari jurang yang terjal itu. Kuda berjalan sendiri seperti di jalan yang rata dan tanpa suatu hambatan sedikit pun. Kalau Tuhan berkehendak segala sesuatu menurut ukuran manusia adalah tidak mungkin, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Jadi berdoalah selalau satu kali Bapa Kami dan tiga kali Salam Maria di saat-saat anda merasakan suatu kesulitan yang luar biasa dan tidak terpecahkan. Percayalah Tuhan akan menolong anda, dan pastikan pada saat itu anda berhubungan sebagai seorang anak dengan seorang Bapa.
Demikian kejadian ini kami berikan kepada anda semua melalui Pondok Renungan, dengan harapan akan memperkuat iman anda.
Salam dari,
Marsellinus Ado Wawo
Email: marsellinus.adowawo@summarecon.com
Ayah kami adalah seorang Kepala Sekolah Dasar Katolik dimana kami bersekolah. Untuk membantu tugas keluarga, khususnya ibunda yang selalu giat bertani, ayah membeli 2 ekor kuda. Kuda yang satu dipergunakan sebagai kuda beban, yang satu dipergunakan sebagai kuda tunggang. Misalnya selagi ayah mau ke pasar atau urusan dinas ke kota kecamatan. Biasanya cara pemeliharaan kuda di tempat asal kami sangat mudah.
Kuda dilepaskan begitu saja di padang atau di bukit yang berrumput dan sekali dalam seminggu ditangkap untuk dimandikan dan diberikan makanan tambahan, seperti jagung atau beras.
Pada suatu ketika, kuda kesayangan tersebut jatuh dalam jurang yang terjal dengan kemiringan 120 derajat, dan secara akal sehat tidak mungkin untuk ditarik keluar dengan kekuatan manusia dengan kondisi di desa saat itu. Mungkin kalau di jakarta tinggal panggil helikopter, lalu turunkan tali dan sepersekian menit kuda tersebut bisa ditarik atau diangkat keluar.
Melihat kejadian itu saya dan adik saya berusaha sekuat tenaga bagaimana caranya supaya kuda tersebut, bisa keluara dari jurang yang sial itu. Kami turun perlahan-lahan ke dalam jurang tersebut, dan mengikatkan tali di lehernya, lalu bersama-sama kami berdua berusaha untuk menarik kuda tersebut. Memang usaha tersebut sia-sia dan kalau dipikir-pikir usaha kami berdua waktu itu merupakan sebuah tindakan yang bodoh. Bagaimana mungkin harus menarik seekor kuda dari jurang yang terjal. Setelah berusaha sekian lama dan tidak mendapatkan hasil, kami berdua pun menangis, kasihan bahwa kuda ini pasti akan mati dan yang lain bagaimana cara menyampaikan berita ini kepada ayah kami. Karena kuda tersebut merupakan kuda kesayangan.
Ditengah kesedian dan kekalutan yang kami alami, tiba-tiba dari dalam hati muncul bisikan, supaya kalian berdua berdoa saja satu kali Bapa Kami dan tiga kali Salam Maria. Dengan serta merta kami melaksanakannya doa Bapa Kami dan Salam Maria. Dan Tuhan mendengarkan doa kami. Kami tidak mengalami kesulitan menarik kembali kuda dari jurang yang terjal itu. Kuda berjalan sendiri seperti di jalan yang rata dan tanpa suatu hambatan sedikit pun. Kalau Tuhan berkehendak segala sesuatu menurut ukuran manusia adalah tidak mungkin, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Jadi berdoalah selalau satu kali Bapa Kami dan tiga kali Salam Maria di saat-saat anda merasakan suatu kesulitan yang luar biasa dan tidak terpecahkan. Percayalah Tuhan akan menolong anda, dan pastikan pada saat itu anda berhubungan sebagai seorang anak dengan seorang Bapa.
Demikian kejadian ini kami berikan kepada anda semua melalui Pondok Renungan, dengan harapan akan memperkuat iman anda.
Salam dari,
Marsellinus Ado Wawo
Email: marsellinus.adowawo@summarecon.com
True Story About Evangelism
Pada Tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan di Afrika. Dalam suatu kebaktian pengutusan injil, kedua pasangan suami istri terbeban melayani ke Belgian Congo, yang sekarang dinamai Zaire.
Mereka adalah David, Svea Flood, Joel & Bertha Erickson. Svea Flood adalah seorang penyanyi terkenal di Swedia. Namun kedua pasangan ini menyerahkan hidupnya untuk mengambarkan injil.
Saat tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Dengan Parang membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David & Svea mempunyai seorang anak berusia 2 tahun bernama David Jr. Dalam perjalanan David Jr terkena penyakit malaria, namun dengan pantang menyerah dan rela mati untuk pekabaran injil. Tiba ditengah hutan mereka menemukan desa di pedalaman. Namun mereka terkejut mendapatkan bahwa penduduk desa tidak mengijinkan mereka untuk memasuki desa. "Tak seorang kulit putihpun yang boleh masuk desa, Dewa- dewa kami akan marah," demikian kata mereka.
Karena tidak menemukan desa berikutnya akhirnya mereka terpaksa tinggal di desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal disana, mereka menderita kesepian, kekurangan gizi. Selain itu mereka jarang berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan, Joel & bertha memutuskan kembali ke kantor misi, namun keluarga Svea tidak mau mengikuti karena Svea baru hamil dan saat itu malaria yang dia derita memburuk. Selain itu David sang suami berkata, "Aku mau anakku dilahirkan di Afrika. Aku datang kemari untuk memberikan hidupku di sini untuk pelayanan." Akhirnya keluarga Flood mengucapkan salam perpisahan pada keluarga Erickson.
Selama beberapa bulan Svea bertahan melawan demam yang hebat. Namun dengan setia melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli desa tersebut. Boleh dibilang dia adalah hasil pelayanan mereka satu-satunya yang dimenangkan, bertobat dan mengenal injil melalui keluarga Flood. Dan saat Svea melayani dia, ia hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea makin memburuk dan hanya dapat berbaring. Saat dia melahirkan anaknya, ternyata dia berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Namun hanya seminggu Svea mampu bertahan. Pada saat terakhir ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.
David sangat terpukul dengan meninggalnya istrinya. Dengan memaksakan tenaga dia membuat peti jenasah buat Svea, lalu menguburkan istrinya. Saat dia berdiri di samping kuburan ia memandang anaknya laki-laki sambil mendengar tangis anaknya perempuan dari dalam gubuknya yang dari lumpur. Dan tiba-tiba timbullah suatu kekecewaan yang pahit dalam hatinya. Lalu suatu amarah dalam hatinya tak sanggup dia kontrol dengan emosi dia berseru: "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami bagi pelayanan untuk Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada saat umur 27 tahun. Sekarang anakku berusia 2 tahun hampir tidak terurus. Belum lagi si kecil masih bayi. Setelah lebih dari setahun dalam hutan ini yang kami menangkan hanya seorang anak kecil yang mungkin tidak memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku."
Kemudian David pulang ke kantor misi. Saat itu ia ketemu dengan kel. Erickson, ia berseru dengan kejengkelan: "Saya pulang! Saya tidak mampu lagi mengurus anak-anakku sendiri. Akan saya bawa pulang anakku laki-laki ke Swedia tetapi akan kutinggalkan anak perempuan kepadamu." Kemudian ia melepaskan Aina untuk dibesarkan oleh keluarga Erickson. Sepanjang perjalanan kembali ke Stockholm, David Flood berdiri diatas dek kapal. Ia sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan semua orang akan pengalaman yang pahit tersebut bahwa dia telah berkorban segalanya tetapi berakhir dengan kekalahan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas dengan tidak memperdulikannya.
Setelah tiba dari Stockholm, ia memutuskan untuk memulai usaha bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka yang melakukan itu, segera ia naik pitam dalam kemarahan. Akhirnya ia jatuh dalam kebiasaan minum-minuman keras. Tidak lama setelah ia meninggalkan Afrika, suami-istri Erikson meninggal karena di racun oleh kepala suku daerah yang mereka layani. Si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa bernama Masisi, Utara Conggo. Di sana ia dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili & bermain dengan anak Congo. Pada saat sendirian Si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia membayangkan memiliki empat saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, lalu diberi nama kepada mereka. Ia menyediakan meja untuk berbicara kepada "saudara-saudara khayalannya".
Dalam khayalannya saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Ketika keluarga Berg mengambil cuti ke Amerika. Mereka ternyata menetap ke Minneapolis. Aggie menjadi dewasa dan menikah dengan seorang bernama Dewey Hurst. Yang kemudian menjadi presiden dari sekolah alkitab Northwest Bible College. Setelah dewasa Aggie berusaha mencari ayahnya tetapi sia-sia. Aggie tidak pernah mengetahui ayahnya telah menikah lagi- dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah. Dan sekarang ia mempunyai anak lima selain Aggie 4 putra dan seorang putri (tepat seperti khayalan aggie). Akhirnya sekolah alkitab memberikannya dan suaminya tiket untuk pergi ke swedia.
Ini kesempatan untuk mencari ayahnya. Sesampai di London, mereka berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan bersuka cita karena melihat suatu pertemuan penginjilan. mereka masuk untuk mendengar pengkotbah kulit hitam sedang menyaksikan bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati aggie terperanjat. Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui penginjil bernama Davis dan Svea Flood ?" Ia menjawab, "Ya, Svea adalah seorang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." aggie segera berseru : "Sayalah gadis itu! Saya adalah Aggie - Aina!"
Mendengar seruan itu Pengkotbah tersebut segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang itu adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur. Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita itu tersebar luas bahwa mereka akan datang. dan Aggie telah mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki 5 saudara, setiba di hotel ketiga saudaranya telah menunggu di sana. Ia bertanya kepada mereka : "Dimana David kakakku ?" Mereka lalu menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi.
David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih, seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang ayahnya, ia menjadi marah. Semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun- tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya : "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian ternyata saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata : "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana." Saudara perempuannya telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu mencari ayahnya. Maka mereka memasuki sebuah bengunan tidak terawat.
Setelah mengetuk datanglah wanita mempersilahkan mereka masuk. di dalam ruangan penuh dengan botol minuman dan di sudut ruangan ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya penginjil. Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak menutupi kedua matanya. Aggie jatuh disisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah anak kecil yang kau tinggalkan di afrika." Sesaat ortu itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuh kalian berdua." Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku".
Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!" Aggie kemudian bercerita tentang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah anak kecil yang dahulu pernah ia (ayahnya) layani. "Sekarang semua orang mengenal tentang pertobatan anak kecil itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar." Mendadak Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata dan bertobat. Tak lama dari pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya (kepahitan hatinya, memulihkan kekecewaannya).
Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!
Mereka adalah David, Svea Flood, Joel & Bertha Erickson. Svea Flood adalah seorang penyanyi terkenal di Swedia. Namun kedua pasangan ini menyerahkan hidupnya untuk mengambarkan injil.
Saat tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Dengan Parang membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David & Svea mempunyai seorang anak berusia 2 tahun bernama David Jr. Dalam perjalanan David Jr terkena penyakit malaria, namun dengan pantang menyerah dan rela mati untuk pekabaran injil. Tiba ditengah hutan mereka menemukan desa di pedalaman. Namun mereka terkejut mendapatkan bahwa penduduk desa tidak mengijinkan mereka untuk memasuki desa. "Tak seorang kulit putihpun yang boleh masuk desa, Dewa- dewa kami akan marah," demikian kata mereka.
Karena tidak menemukan desa berikutnya akhirnya mereka terpaksa tinggal di desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal disana, mereka menderita kesepian, kekurangan gizi. Selain itu mereka jarang berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan, Joel & bertha memutuskan kembali ke kantor misi, namun keluarga Svea tidak mau mengikuti karena Svea baru hamil dan saat itu malaria yang dia derita memburuk. Selain itu David sang suami berkata, "Aku mau anakku dilahirkan di Afrika. Aku datang kemari untuk memberikan hidupku di sini untuk pelayanan." Akhirnya keluarga Flood mengucapkan salam perpisahan pada keluarga Erickson.
Selama beberapa bulan Svea bertahan melawan demam yang hebat. Namun dengan setia melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli desa tersebut. Boleh dibilang dia adalah hasil pelayanan mereka satu-satunya yang dimenangkan, bertobat dan mengenal injil melalui keluarga Flood. Dan saat Svea melayani dia, ia hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea makin memburuk dan hanya dapat berbaring. Saat dia melahirkan anaknya, ternyata dia berhasil melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Namun hanya seminggu Svea mampu bertahan. Pada saat terakhir ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.
David sangat terpukul dengan meninggalnya istrinya. Dengan memaksakan tenaga dia membuat peti jenasah buat Svea, lalu menguburkan istrinya. Saat dia berdiri di samping kuburan ia memandang anaknya laki-laki sambil mendengar tangis anaknya perempuan dari dalam gubuknya yang dari lumpur. Dan tiba-tiba timbullah suatu kekecewaan yang pahit dalam hatinya. Lalu suatu amarah dalam hatinya tak sanggup dia kontrol dengan emosi dia berseru: "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami bagi pelayanan untuk Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada saat umur 27 tahun. Sekarang anakku berusia 2 tahun hampir tidak terurus. Belum lagi si kecil masih bayi. Setelah lebih dari setahun dalam hutan ini yang kami menangkan hanya seorang anak kecil yang mungkin tidak memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku."
Kemudian David pulang ke kantor misi. Saat itu ia ketemu dengan kel. Erickson, ia berseru dengan kejengkelan: "Saya pulang! Saya tidak mampu lagi mengurus anak-anakku sendiri. Akan saya bawa pulang anakku laki-laki ke Swedia tetapi akan kutinggalkan anak perempuan kepadamu." Kemudian ia melepaskan Aina untuk dibesarkan oleh keluarga Erickson. Sepanjang perjalanan kembali ke Stockholm, David Flood berdiri diatas dek kapal. Ia sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan semua orang akan pengalaman yang pahit tersebut bahwa dia telah berkorban segalanya tetapi berakhir dengan kekalahan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas dengan tidak memperdulikannya.
Setelah tiba dari Stockholm, ia memutuskan untuk memulai usaha bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka yang melakukan itu, segera ia naik pitam dalam kemarahan. Akhirnya ia jatuh dalam kebiasaan minum-minuman keras. Tidak lama setelah ia meninggalkan Afrika, suami-istri Erikson meninggal karena di racun oleh kepala suku daerah yang mereka layani. Si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa bernama Masisi, Utara Conggo. Di sana ia dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili & bermain dengan anak Congo. Pada saat sendirian Si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia membayangkan memiliki empat saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan, lalu diberi nama kepada mereka. Ia menyediakan meja untuk berbicara kepada "saudara-saudara khayalannya".
Dalam khayalannya saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Ketika keluarga Berg mengambil cuti ke Amerika. Mereka ternyata menetap ke Minneapolis. Aggie menjadi dewasa dan menikah dengan seorang bernama Dewey Hurst. Yang kemudian menjadi presiden dari sekolah alkitab Northwest Bible College. Setelah dewasa Aggie berusaha mencari ayahnya tetapi sia-sia. Aggie tidak pernah mengetahui ayahnya telah menikah lagi- dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah. Dan sekarang ia mempunyai anak lima selain Aggie 4 putra dan seorang putri (tepat seperti khayalan aggie). Akhirnya sekolah alkitab memberikannya dan suaminya tiket untuk pergi ke swedia.
Ini kesempatan untuk mencari ayahnya. Sesampai di London, mereka berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan bersuka cita karena melihat suatu pertemuan penginjilan. mereka masuk untuk mendengar pengkotbah kulit hitam sedang menyaksikan bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati aggie terperanjat. Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui penginjil bernama Davis dan Svea Flood ?" Ia menjawab, "Ya, Svea adalah seorang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." aggie segera berseru : "Sayalah gadis itu! Saya adalah Aggie - Aina!"
Mendengar seruan itu Pengkotbah tersebut segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang itu adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur. Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita itu tersebar luas bahwa mereka akan datang. dan Aggie telah mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki 5 saudara, setiba di hotel ketiga saudaranya telah menunggu di sana. Ia bertanya kepada mereka : "Dimana David kakakku ?" Mereka lalu menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi.
David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih, seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang ayahnya, ia menjadi marah. Semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun- tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya : "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian ternyata saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata : "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana." Saudara perempuannya telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu mencari ayahnya. Maka mereka memasuki sebuah bengunan tidak terawat.
Setelah mengetuk datanglah wanita mempersilahkan mereka masuk. di dalam ruangan penuh dengan botol minuman dan di sudut ruangan ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya penginjil. Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak menutupi kedua matanya. Aggie jatuh disisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah anak kecil yang kau tinggalkan di afrika." Sesaat ortu itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuh kalian berdua." Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku".
Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!" Aggie kemudian bercerita tentang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah anak kecil yang dahulu pernah ia (ayahnya) layani. "Sekarang semua orang mengenal tentang pertobatan anak kecil itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar." Mendadak Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata dan bertobat. Tak lama dari pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya (kepahitan hatinya, memulihkan kekecewaannya).
Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!
Muzijat - Misionaris
Seorang misionaris sedang menjalani cutinya dan mengunjungi gereja yang mengutusnya di Michigan. Ia menceriterakan kisah nyata ini di dalam kotbahnya sebagai berikut : Pada waktu ia melayani sebuah rumah sakit kecil lapagan di Afrika, setiap 2 minggu sekali ia melakukan perjalanan dengan naik sepeda melalui hutan yang lebat ke sebuah kota untuk membeli bahan persediaan. Perjalanan itu membutuhkan dua hari dan untuk itu ia harus setiap kali menginap ditengah perjalanan ditengah hutan yang lebat itu.
Pada salah satu perjalanan itu, aku tiba di kota, dimana aku ingin mengambil uang dari bank, membeli obat-obatan dan keperluan lain untuk rumah sakit lapagan dan selanjutnya bergegas mulai perjalananku pulang. Setibanya aku di kota, aku secara kebetulan melihat 2 orang laki-laki berkelahi, dimana salah satu dari orang itu ternyata terluka cukup parah. Aku menangani luka-lukanya sambil menceriterakan tentang Yesus Kristus. Kemudian aku berangkat pulang, menginap semalam di hutan dan tiba di rumah tanpa kecelakaan apa pun.
2 Minggu kemudian, aku mengulangi perjalananku ke kota. Setibanya di kota, aku mengunjungi pemuda yang aku pernah merawat sebelumnya. Ia menceriterkan kepadaku bahwa pada 2 minggu yang lalu, ia mengetahui bahwa aku membawa uang dan obat-obatan. Ia melanjutkan, "Kawan-kawanku dan aku telah mengikuti anda ke dalam hutan, karena mengetahui bahwa anda akan menginap semalam di tengah hutan. Kami berencana untuk membunuh anda dan mengambil uang dan obat-obatannya. Namun ketika kami sudah berancang-ancang untuk menyerbu tendamu, kami melihat bahwa anda dikelilingi oleh 26 orang pengawal yang bersenjata." Pada saat itu, aku tertawa dan berkata, "Mana mungkin. Pada waktu itu aku seorang diri di dalam tendaku di hutan." Namun pemuda itu tetap bersikukuh dan melanjutkan, "Tidak tuan, aku bukan satu-satunya orang yang melihat pengawal-pengawal itu. Kawan-kawanku pun melihatnya bahkan kami semua menghitungnya. Karena adanya pengawal-pengawal itulah, kami menjadi ketakutan lalu meninggalkan anda."
Pada bagian dari kotbah itu, seorang dari jemaat berdiri dengan sekonyong-konyong untuk memotong kotbah misionaris itu dan menanyakan apakah ia dapat mengatakan kepadanya hari kejadian peristiwa itu dengan tepat. Misionaris menyebutkan tanggal dan hari kejadian itu, lalu anggota jemaat yang memotong kotbahnya itu menceriterakan kisahnya : "Pada malam waktu peristiwa itu terjadi di Afrika, di sini waktunya pagi hari dan ketika itu aku hendak bermain golf. Pada saat itu aku merasakan suatu keinginan yang mendesak untuk berdoa untuk anda. Pada kenyataannya, desakan itu begitu hebat, sehingga aku memanggil anggota jemaat di gereja ini untuk bertemu denganku di dalam gereja untuk bersama-sama menaikkan doa untuk anda.
Mereka yang telah berdoa bersama denganku hari itu, diminta untuk berdiri sejenak." Mereka yang telah ikut mengadakan doa bersama pada hari itu semua berdiri. Misionaris tidak menghiraukan siapa mereka itu - dia hanya sibuk menghitung berapa orang yang telah berdiri. Jumlahnya 26! Memang kisah ini sungguh luar biasa. Ini merupakan contoh yang menakjubkan akan bagaimana Roh Tuhan dapat bekerja secara ajaib dan mengherankan.
Diceriterakan oleh,
Junius Rumindei Lie, Singapore
Pada salah satu perjalanan itu, aku tiba di kota, dimana aku ingin mengambil uang dari bank, membeli obat-obatan dan keperluan lain untuk rumah sakit lapagan dan selanjutnya bergegas mulai perjalananku pulang. Setibanya aku di kota, aku secara kebetulan melihat 2 orang laki-laki berkelahi, dimana salah satu dari orang itu ternyata terluka cukup parah. Aku menangani luka-lukanya sambil menceriterakan tentang Yesus Kristus. Kemudian aku berangkat pulang, menginap semalam di hutan dan tiba di rumah tanpa kecelakaan apa pun.
2 Minggu kemudian, aku mengulangi perjalananku ke kota. Setibanya di kota, aku mengunjungi pemuda yang aku pernah merawat sebelumnya. Ia menceriterkan kepadaku bahwa pada 2 minggu yang lalu, ia mengetahui bahwa aku membawa uang dan obat-obatan. Ia melanjutkan, "Kawan-kawanku dan aku telah mengikuti anda ke dalam hutan, karena mengetahui bahwa anda akan menginap semalam di tengah hutan. Kami berencana untuk membunuh anda dan mengambil uang dan obat-obatannya. Namun ketika kami sudah berancang-ancang untuk menyerbu tendamu, kami melihat bahwa anda dikelilingi oleh 26 orang pengawal yang bersenjata." Pada saat itu, aku tertawa dan berkata, "Mana mungkin. Pada waktu itu aku seorang diri di dalam tendaku di hutan." Namun pemuda itu tetap bersikukuh dan melanjutkan, "Tidak tuan, aku bukan satu-satunya orang yang melihat pengawal-pengawal itu. Kawan-kawanku pun melihatnya bahkan kami semua menghitungnya. Karena adanya pengawal-pengawal itulah, kami menjadi ketakutan lalu meninggalkan anda."
Pada bagian dari kotbah itu, seorang dari jemaat berdiri dengan sekonyong-konyong untuk memotong kotbah misionaris itu dan menanyakan apakah ia dapat mengatakan kepadanya hari kejadian peristiwa itu dengan tepat. Misionaris menyebutkan tanggal dan hari kejadian itu, lalu anggota jemaat yang memotong kotbahnya itu menceriterakan kisahnya : "Pada malam waktu peristiwa itu terjadi di Afrika, di sini waktunya pagi hari dan ketika itu aku hendak bermain golf. Pada saat itu aku merasakan suatu keinginan yang mendesak untuk berdoa untuk anda. Pada kenyataannya, desakan itu begitu hebat, sehingga aku memanggil anggota jemaat di gereja ini untuk bertemu denganku di dalam gereja untuk bersama-sama menaikkan doa untuk anda.
Mereka yang telah berdoa bersama denganku hari itu, diminta untuk berdiri sejenak." Mereka yang telah ikut mengadakan doa bersama pada hari itu semua berdiri. Misionaris tidak menghiraukan siapa mereka itu - dia hanya sibuk menghitung berapa orang yang telah berdiri. Jumlahnya 26! Memang kisah ini sungguh luar biasa. Ini merupakan contoh yang menakjubkan akan bagaimana Roh Tuhan dapat bekerja secara ajaib dan mengherankan.
Diceriterakan oleh,
Junius Rumindei Lie, Singapore
Kesabaran akan membuahkan hasil yang berlimpah
Pengalaman iman ini aku kisahkan ketika pertama kalinya aku mendapatkan pekerjaan setelah tamat dari sekolah menengah atas(sma). dimana pada saat itu aku bekerja di sebuah perusahaan pengolahan buah kelapa menjadi tepung yang dieksport ke manca negara.
Karena belum mempunyai pengalaman kerja, maka sebagai awal orientasi aku ditempatkan dibagian lapangan dengan tugas sebagai tally(menghitung buah kelapa) yang akan dikupas oleh para buruh pabrik tsb. sistem kerjanya tidak mengenal waktu, dan sebagai petugas tally diwajibkan untuk menginap di mess perusahaan. ternyata sangat melelahkan dan menjenuhkan, bisa dibayangkan pada saat kita belum bangun pagi, dan jam masih menunjukkan pukul 5.30 wib, para buruh sudah mengetuk pintu jendela kamar agar melayani mereka mengambil kelapa untuk mereka bisa mulai kerja mengupasnya. karena tidak ada peraturan jam kerja, maka terpaksa hal tersebut aku lakukan, karena para buruh sudah mulai ramai mengetuk jendela. setelah bangun, cuci buka, gosok gigi, mandi dan tanpa sarapan pagi, aku langsung melayani mereka. hal tersebut berlangsung setiap hari dan selesai tugas sampai jam 20.00 kadang sampai jam 20.30 wib.hanya ada jedah waktu 1 jam untuk makan siang, itupun bergilir dengan teman karena permintaan kelapa dari buruh ramai.seringkali habis makan siang langsung kerja dan bahkan hari minggupun kadang-kadang harus masuk kerja jika stok kelapa banyak.
begitu membosankan. namun apa daya rutinitas tsb harus aku lakukan, demi mendapatkan penghasilan, karena keadaan ekonomi orangtua ku yang mengharuskan bekerja seperti ini.
tiap malam aku selalu berdoa kepada Yesus agar membukakan jalan yang terbaik buat aku.bahkan kadang2 dalam doaku aku menggerutu kepada Tuhan, sampai kapan aku harus bekerja disini???
ternyata Tuhan mendengarkan keluh kesahku. pada suatu ketika ada pegawai yang baru masuk dan ditempatkan satu bagian dengan aku dengan tugas yang sama. Dari perkenalan dengan teman kerja baru itu, aku mempunyai kesempatan untuk bermain ke rumahnya saat ada kesempatan libur karena stok kelapa lagi kosong.
pada saat aku bermain dirumahnya, secara tiba2 abang dari temanku itu memberikan informasi bahwa ada satu perusahaan yang sedang mencari pegawai baru, dan aku disarankan melamar ke sana. Akhirnya aku dan temanku mencoba melamar bersama di perusahaan tersebut. Dan sekali lagi bahwa Tuhan itu baik, ternyata surat lamaranku diterima dan aku dipanggil untuk wawancara dan tes. Semua itu berjalan dengan lancar sampai aku diterima menjadi pegawai disana. Ternyata Tuhan telah membebaskan aku dari belenggu kebosanan dan ketidakberdayaan ditempat lamaku.dan saat ini aku merasakan benar-benar dibebaskan dan tidak tersiksa dengan waktu kerja yang begitu panjang.
terima kasih Yesus, atas pertolonganmu. dan pada kesempatan ini aku mau membagikan kasih Allah yang begitu besar kepada siapa saja yang panjang sabar dengan mengutip ayat :
"Bersuka citalah dalam pengharapan, Sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa (Roma : 12:12)
Karena belum mempunyai pengalaman kerja, maka sebagai awal orientasi aku ditempatkan dibagian lapangan dengan tugas sebagai tally(menghitung buah kelapa) yang akan dikupas oleh para buruh pabrik tsb. sistem kerjanya tidak mengenal waktu, dan sebagai petugas tally diwajibkan untuk menginap di mess perusahaan. ternyata sangat melelahkan dan menjenuhkan, bisa dibayangkan pada saat kita belum bangun pagi, dan jam masih menunjukkan pukul 5.30 wib, para buruh sudah mengetuk pintu jendela kamar agar melayani mereka mengambil kelapa untuk mereka bisa mulai kerja mengupasnya. karena tidak ada peraturan jam kerja, maka terpaksa hal tersebut aku lakukan, karena para buruh sudah mulai ramai mengetuk jendela. setelah bangun, cuci buka, gosok gigi, mandi dan tanpa sarapan pagi, aku langsung melayani mereka. hal tersebut berlangsung setiap hari dan selesai tugas sampai jam 20.00 kadang sampai jam 20.30 wib.hanya ada jedah waktu 1 jam untuk makan siang, itupun bergilir dengan teman karena permintaan kelapa dari buruh ramai.seringkali habis makan siang langsung kerja dan bahkan hari minggupun kadang-kadang harus masuk kerja jika stok kelapa banyak.
begitu membosankan. namun apa daya rutinitas tsb harus aku lakukan, demi mendapatkan penghasilan, karena keadaan ekonomi orangtua ku yang mengharuskan bekerja seperti ini.
tiap malam aku selalu berdoa kepada Yesus agar membukakan jalan yang terbaik buat aku.bahkan kadang2 dalam doaku aku menggerutu kepada Tuhan, sampai kapan aku harus bekerja disini???
ternyata Tuhan mendengarkan keluh kesahku. pada suatu ketika ada pegawai yang baru masuk dan ditempatkan satu bagian dengan aku dengan tugas yang sama. Dari perkenalan dengan teman kerja baru itu, aku mempunyai kesempatan untuk bermain ke rumahnya saat ada kesempatan libur karena stok kelapa lagi kosong.
pada saat aku bermain dirumahnya, secara tiba2 abang dari temanku itu memberikan informasi bahwa ada satu perusahaan yang sedang mencari pegawai baru, dan aku disarankan melamar ke sana. Akhirnya aku dan temanku mencoba melamar bersama di perusahaan tersebut. Dan sekali lagi bahwa Tuhan itu baik, ternyata surat lamaranku diterima dan aku dipanggil untuk wawancara dan tes. Semua itu berjalan dengan lancar sampai aku diterima menjadi pegawai disana. Ternyata Tuhan telah membebaskan aku dari belenggu kebosanan dan ketidakberdayaan ditempat lamaku.dan saat ini aku merasakan benar-benar dibebaskan dan tidak tersiksa dengan waktu kerja yang begitu panjang.
terima kasih Yesus, atas pertolonganmu. dan pada kesempatan ini aku mau membagikan kasih Allah yang begitu besar kepada siapa saja yang panjang sabar dengan mengutip ayat :
"Bersuka citalah dalam pengharapan, Sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa (Roma : 12:12)
Langganan:
Postingan (Atom)