Selasa, 08 Februari 2011

Dosa-dosa kecil

Dua orang pendosa mengunjungi hamba Tuhan yang bijak dan meminta nasehatNya.

"Kami telah melakukan suatu dosa," kata mereka dan suara hati kami terganggu. "Apa yang harus kami lakukan ?"

"Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, Anakku," kata hamba Tuhan tsb.

Pria pertama mengatakan ,"Saya melakukan suatu dosa yang berat dan mematikan." Pria kedua berkata,"Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan."

"Baik," kata hamba Tuhan tsb, "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk setiap dosa yang telah kamu lakukan !".

Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.

"Sekarang," kata hamba Tuhan tsb, "Pergilah dan kembalikan semua batu itu tepat dimana kamu telah menemukannya!".

Pria pertama mengangkat batu besar itu dan memikulnya kembali ke tempat dimana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang telah diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu berada didalam tasnya. Katanya, "Itu pekerjaan yang sulit."

"Dosa itu seperti batu-batu itu,' kata hamba Tuhan bijak tsb, "Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya, tetapi dengan penyesalan yang sejati, memohon ampun dan mengakui Nama Tuhan, maka kesalahannya diampuni seluruhnya oleh Tuhan.

Tetapi pria yang terus menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu itu salah, namun semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesali sedikitpun, maka ia tetap sebagai seorang pendosa. Ia sulit membuang batu-batu itu kembali ke tempatnya dan terus menerus membawanya seumur hidup.

"Maka ketahuilah,anak-anakku," nasihat hamba Tuhan itu, "adalah sama untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat !"

Sabtu, 05 Februari 2011

Dua Kotak

Ada di tanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga. Kata-Nya, "Masukkan semua penderitaanmu ke dalam kotak yang berwarna hitam.
Dan masukkan semua kebahagiaanmu ke dalam kotak yang berwarna emas."

Aku melakukan apa yang Tuhan katakan.
Setiap kali mengalami kesedihan maka aku letakkan ia ke dalam kotak hitam. Sebaliknya ketika bergembira maka aku letakkan kegembiraanku dalam kotak berwarna emas.

Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas semakin bertambah berat. Sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan seperti semula.
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam. Kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar di dasar kotak berwarna hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan ke sana selalu jatuh keluar.

Aku tunjukkan lubang itu pada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua penderitaanku?" Tuhan tersenyum hangat padaku. "AnakKu, semua penderitaanmu berada padaKu." Aku bertanya kembali, "Tuhan, mengapa Engkau memberikan dua buah kotak, kotak emas dan kotak hitam yang berlubang?"

"AnakKu, kotak emas Kuberikan agar kau senantiasa menghitung rahmat yang Aku berikan padamu, sedangkan kotak hitam Kuberikan agar kau melupakan penderitaanmu." Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan. Campakkan penderitaanmu agar kau melupakannya

Rabu, 24 November 2010

Harta Karun dan Ketamakan

Ada sebuah kisah tua yang telah beredar menembusi batas budaya dan telah diceritakan berulang kali. Dikisahkan, seorang pertapa tua, dalam perjalanan meditasinya menembusi hutan belantara, ia menemukan sebuah gua batu yang di dalamnya penuh berisikan harta karun.

Sang pertapa yang tidak hanya tua tetapi juga bijaksana ini setelah melihat apa yang ada dalam gua tersebut serentak menyingsingkan sarung pertapaannya dan mengambil langkah seribu, berlari sekuat tenaga meninggalkan gua yang penuh harta karun tersebut. Namun di tengah jalan ia berpapasan dengan tiga serdadu yang nampak keheranan menyaksikan sang pertapa tua yang sedang ketakutan tersebut. Ketiga serdadu tersebut menghentikannya dan menanyakan alasan yang membuatnya kelihatan tersebut.

"Saya melarikan diri dari kejaran segerombolan setan." Jawab sang perpata.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang amat mendalam, ketiga serdadu itu mendesak, "Tunjukan hal itu kepada kami."

Sambil memberontak dan protes keras, sang pertapa tua membawa ketiga serdadu itu menuju gua harta karun yang baru saja ditemukannya.

"Lihatlah!" kata sang pertapa, "Inilah setan, sang kematian yang sedang mengejar diriku."

Ketiga serdadu itu saling memandang dan merasa bahwa sang pertapa tua itu adalah seorang yang amat bodoh dan sedang dirasuki setan. Karena itu mereka melepaskannya untuk meneruskan perjalanannya. Kini mereka bersorak atas apa yang baru saja mereka temukan, dan memutuskan bahwa salah satu di antara mereka harus kembali ke kota untuk membeli bahan makanan yang cukup serta membawa alat-alat untuk menggali dan menumpulkan harta karun tersebut, sedangkan dua yang lain akan menunggu dan menjaga dalam gua sehingga harta karun tersebut tidak jatuh ke tangan orang lain.

Salah satu di antara mereka menawarkan diri untuk menuju kota. Dalam perjalanannya ke kota ia mulai merancang suatu aksi yang akan dibuatnya agar harta karun dalam gua itu sepenuhnya menjadi miliknya. Apa yang akan dibuatnya? Ia akan meracuni makanan yang akan diberikan kepada kedua temannya. Bila keduanya mati keracunan maka harta karun itu akan menjadi miliknya tanpa harus dibagi-bagi.

Pada saat yang sama kedua serdadu yang menanti dalam gua juga sedang berembuk mencari jalan agar harta karun yang ada hanya dibagikan di antara mereka berdua. Keputusan mereka telah bulat, teman yang kini menuju kota itu harus dibunuh saat ia tiba kembali ke dalam hutan ini.

Maka terjadilah!!! Ketika sang teman datang membawa makanan serta beberapa alat yang dibelinya dari kota, ia dengan segera dibunuh oleh dua teman lain yang menunggu di dalam gua. Setelah itu keduanya duduk berpesta pora menikmati makanan yang baru dibawa itu. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Pesta pora kini berubah kelabu. Keduanyapun mati keracunan, dan harta karun yang ada dalam gua tersebut ditinggalkan sebagaimana adanya sejak sedia kala.

Sang pertapa ternyata benar. Harta karun dalam gua tersebut ternyata telah berubah menjadi seumpama singa lapar yang siap menerkam dan membunuh. Ketamakan ternyata adalah suatu kekuatan yang bisa menghancurkan dan mematikan.

------------
Dan sang guru berkata; "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12:15).

Selasa, 23 November 2010

Puzzle

Seorang anak kecil, diberikan puzzle oleh Ibunya. Ibunya berkata kepada anaknya: “Nak kalau kamu merangkainya dengan benar kamu akan mendapatkan gambar anak panda kesenanganmu. “ Sang anak mulai merangkainya sedikit demi sedikit dan sang ibu melihat disampingnya. Sang Ibu memberikan nasihat-nasihat kepada anaknya tentang bagaimana merangkai puzzle yang benar. Tetapi dasar sang anak yang bandel, ia seenaknya sendiri menaruh potongan puzzle itu tidak pada tempatnya. Sedikit demi sedikit potongan itu dirangkai dengan seenaknya sendiri. Akhirnya puzzle itu jadi, tetapi terangkai berantakan. Sang anak tidak melihat sedikitpun gambar anak panda pada rangkaian puzzlenya itu........ Sang anak pun mulai marah kepada ibunya. Ia berkata dengan kasar: “Ibu bohong, aku sudah lama merangkai puzzle ini yang katanya dapat menjadi gambar anak panda kesayanganku tetapi lihatlah gambar apa ini??” Sang ibu kemudian membongkar semua potongan puzzle yang dirangkai salah oleh anaknya itu. Saat itu sang anak pun tambah marah kepada ibunya : “Ibu jahat, Mengapa ibu menyia-yiakan hasil karyaku .” Ia kemudian membanting semua potongan puzzle itu ke lantai. Ibunya sangat sedih melihat hal itu. Tetapi ia kemudian mulai membujuk anaknya lagi dengan lembut. “Nak mari ibu bantu menyusun yang benar.” Sang anak pun sedikit demi sedikit menuruti ibunya. Memang kadang beberapa potongan dibongkar oleh ibunya dan sang anakpun mulai ngambek.tetapi karena ia mendengarkan nasihat ibunya maka ia pun mulai terhibur dan menyusun potongan-potongan itu sesuai dengan nasihat ibunya. Akhirnya jadilah puzzle itu. Sang anak melihat betapa indahnya gambar anak panda yang diberikan oleh ibunya yang terbentuk saat potongan puzzle terakhir diletakkan. Akhirnya sang anak memeluk ibunya dan berkata “Terima kasih mama, Aku mencintaimu mama.........................”

Teman teman terkasih..... Perjalanan hidup kita itu ibarat kita sedang menyusun sebuah puzzle.. Terkadang kita merasa Tuhan membongkar semua rencana kita. Tuhan mengabaikan doa-doa permohonan kita atau kita menemukan diri kita patah hati, sedih, bangkrut, sakit, cacat, dll walaupun kita telah berdoa kepadanya terus... Tetapi percayalah teman, Tuhan akan membongkar semua jalan yang kita buat jika jalan itu akan membinasakan kita. Ia ingin kita selamat dan bersamanya di Surga. Percayalah bahwa Tuhan akan mebantu kita menyusun gambar yang terbaik dalam hidup kita.....kita hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa, dengarkanlah Dia yang membimbingmu selalu....

Ora Et Labora

Pengakuan

(Mengetahui diri bersalah tetapi tak mengakui kesalahan diri, merupakan kesalahan yang paling salah.)

Di sebuah penjara terkurunglah beberapa anak muda dengan tuntutan pidana yang berat. Di sana tak ada televisi. Seminggu sekali mereka akan memperoleh satu copi harian minggu yang harus dibaca secara bergilir.

Suatu hari minggu seperti biasanya, mereka duduk bersama menanti giliran membaca koran. Orang pertama melihat iklan permata di koran tersebut, lalu berkata seakan mendengung: 'Kalau seandainya ibuku memakai kalung permata yang indah ini di lehernya, pasti ia akan sangat berbahagia.'

Seorang lagi setelah melihat kolom reklame penjualan rumah, berkata kepada dirinya sendiri: 'Alangkah baiknya bila ibuku memiliki sebuah rumah yang walaupun tidak mewah, tapi bagus dan layak seperti ini.'
Seorang lagi setelah melihat reklame mobil berkata: 'Kalau ibuku memiliki
sebuah mobil sederhana seperti ini, pasti setiap hari ia akan datang ke
penjara ini untuk mengunjungi aku.'

Koran mingguan itu akhirnya tiba di tangan anak terakhir. Ia memegang surat kabar itu cukup lama tanpa berkata sepatah katapun. Lalu, secara tak sadar air mata bergulir jatuh di pipinya. Secara perlahan ia bergumam: 'Ibuku pasti akan sangat berbahagia bila ia memiliki seorang anak yang baik.'

-------
Kebesaran cinta Tuhan melampaui dosa yang dibuat manusia, betapapun berat dan besarnya. Bila seseorang mengetahui bahwa ia bersalah dan bersedia engakuinya, tangan Tuhan yang maharahim akan kembali merangkulnya.

Suara Tuhan

Pernah seorang pemberani berbicara kepada Tuhan. Bakarlah semak itu seperti Engkau lakukan bagi Musa, Tuhan. Maka aku akan mengikuti-Mu.

Robohkanlah dinding-dinding itu seperti Engkau lakukan untuk Yosua, Tuhan. Maka aku akan bertarung. Teduhkanlah gelombag Danau Galilea, Tuhan. Maka aku akan mendengar.

Lalu orang itu pergi duduk dekat semak, tidak jauh dari dinding, dekat laut dan menunggu sampai Tuhan berbicara.

Dan Tuhan mendengar orang itu, maka Ia menjawab. Ia mengirim api, bukan untuk semak tetapi untuk sebuah gereja. Ia merobohkan dinding, bukan dari batu tetapi dari dosa-dosa. Ia menenangkan badai, bukan di laut tetapi dalam jiwa.

Dan Tuhan menunggu sampai orang itu menanggapi. Dan Ia menunggu... Dan Ia menunggu... Dan menunggu...

Tetapi, karena orang itu menatapi semak-semak, bukan hati; batu bata, bukan hidup orang-orang, lautan, bukan jiwa-jiwa, maka ia menyimpulkan bahwa Tuhan tidak berbuat apa-apa.

Akhirnya ia memandang kepada Tuhan lalu bertanya, Engkau sudah kehilangan kuasa-Mu?

Dan Tuhan memandangnya dan berkata, Engkau sudah kehilangan pendengaranmu?

Rabu, 17 November 2010

Kau Melihat Dunia Hanya Sebatas Pandanganmu

[color=indigo][/color]
Ingatkah engkau ketika engkau mulai belajar berjalan?
Ketika engkau mulai melangkahkan kaki setapak demi setapak?
Ingatkah engkau, ketika engkau pertama kali memandang segala sesuatu dari kakimu yang mungil?
Segala sesuatunya terasa begitu jauh dan tak terjangkau oleh tangan-tangan mungilmu.
Kaki kursi maupun kaki bangku seakan-akan tongkat untuk menahanmu berdiri.

Dibawah meja makan merupakan tempat favoritmu, meja makan cukup untuk menudungi kepalamu.
Kau menengadah ketas dan melihat lampu-lampu indah, kau takjub dan kagum melihatnya, lalu kau mengulurkan tanganmu untuk menjangkaunya.
Tapi kau tak sanggup!!
Segala sesuatu nampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi tangan dan kaki mungilmu yang berusaha untuk menggapainya.

Lalu kau mendengar sebuah suara memanggilmu.
Kau mencari berkeliling dengan tertatih-tatih, tapi kau tidak menemukannya.
Suara itu memanggilmu lagi..
Kau semakin penasaran dan menjejakkan kakimu ke lantai cepat-cepat untuk mencari sumber suara itu. Tangan dan kaki kecilmu berusaha menjaga keseimbangan ketika kau berlari untuk menemukan siapa yang memanggilmu.

Suara yang begitu lembut, suara yang kau tahu berasal dari orang yang mengasihimu. Suara yang sama terdengar memangilmu lagi, kau memandang sekelilingmu sekali lagi..tapi kau tetap tidak menemukan suara itu. Yang kau lihat disekelilingmu hanyalah mainan mobil-mobilanmu yang berserakan, 4 buah kaki kursi, sebuah balon, beberapa buah, krayon dan tempat favoritmu, dibawah meja makan.

Kau berlari dan melongok ke bawah meja, kalau-kalau sumber suara itu berasal dari sana. Dan kau mendengar suara itu sekali lagi, disertai dengan tawa lembut.
"Kemana kau mencari anakku? Lihat aku diatasmu."

Kau pun mendongakkan kepalamu dan melihat sumber suara itu. Ibumu berdiri di hadapanmu dan tersenyum melihatmu. Kau pun tersenyum dan berpikir, "Hei lihat..aku dapat menemukanmu."

Lalu kau mengulurkan tangan mungilmu dan mencoba menggapainya. Mencoba menciumnya, mencoba memegang tangannya. Namun, aduh..tanganmu tak dapat menggapainya.
Tiba-tiba ibumu terasa begitu jauh darimu. Ia menjulang tinggi dan tak dapat kau raih. Kau merasa kecewa dan menangis. Kau menginginkan ibumu, tapi kau tak dapat mencapainya..Ibu terasa begitu jauh.

Dan tiba-tiba, kau merasa tubuhmu terangkat. Ada sepasang tangan yang memegang pinggang kecilmu. Kau melihat ibumu tersenyum dan berkata, "Nah, aku bisa menemukanmu." Kau menggapai dengan tanganmu dan, Hei lihat..sorakmu..Kau bisa memegang pipinya. Ia tertawa ketika tangan-tanganmu memegang pipinya. Bahkan ketika salah satu tanganmu menarik rambutnya. Ia tertawa dan menarik kau mendekat padanya dan mencium pipimu. Akhirnya kau bisa meraih ibumu. Oh..salah.. Akhirnya Ibumu bisa meraihmu dan mendekapmu.

Betapa sering kita merasa Tuhan jauh dan tidak terjangkau bagi tangan-tangan kita. Atau mungkin kita ingin sekali menjangkauNya tapi upss..tanganmu kurang panjang. Kaki-kakimu kurang tinggi untuk dapt menyentuhNya.

Pernahkah kita merasa Tuhan jauh dari kita, kita berpikir dan membayangkan diri kita seperti anak kecil dengan pandangan yang serba terbatas sehingga kita tidak bisa melihat bahwa sesungguhnya kita berada dibawah kakiNya. Bahkan kita ada kurang dari 10cm dari hadapanNya. Pandangan kita sangat terbatas. Tidak seperti PandangnNya. PandanganNya begitu dekat kepada kita, sehingga tangan-tanganNya bisa menjangkau dan menarik kita mendekat kepadaNya.

BagiNya kita begitu dekat, sehingga bunyi nafas kita sekalipun terdengar di telingaNya. Ketika Ia menundukkan kepalaNya, ada kita di dekat kakiNya. Ia tersenyum dan tertawa ketika melihatmu mencari-cariNya, padahal kau ada di dekat kakiNya. Dan akhirnya, ia mengangkat pinggangmu, membawamu naik untuk dapat menciummu. Untuk membiarkanmu memegang pipiNya, untuk membiarkanmu menarik rambutNya. Ia ada dekat sekali denganmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah menengadahkan kepalamu, dan Ia akan mengangkatmu ke atas. Ia akan membungkuk dan mengulurkan tanganNya.

Jadi, jika kau merasa begitu jauh dariNya..Ingat kau ada di dekat kakiNya...