Selasa, 01 Juni 2010

War in Heaven


Suatu ketika, pada Permulaan Penciptaan, terjadilah suatu Pertempuran Besar
di Surga.

Beginilah kisahnya:
Tuhan menciptakan Surga dan Bumi dan semua malaikat dan para pemimpin
malaikat yang disebut Malaikat Agung. Para Malaikat Agung adalah sahabat
Tuhan. Mereka Bercahaya dan Gagah serta Perkasa. Termasuk di antara para
malaikat agung adalah Gabriel, Rafael dan Mikhael. Selain mereka ada juga
Lucifer. Lucifer sangatlah elok hingga para malaikat menyebutnya Putera
Fajar.

Para malaikat berbahagia karena mereka bersama-sama dengan Allah dan mereka
semua mengasihi-Nya. Kemudian, pada suatu hari Lucifer berkata kepada
dirinya sendiri: "Mengapa harus Tuhan yang paling berkuasa di Surga? Mengapa
bukan aku? Aku bisa terbang dan berubah wujud, aku elok serta gagah perkasa.
Sesungguhnya aku ini sama pentingnya dengan Tuhan. Mulai sekarang aku tidak
lagi akan melakukan perintah-Nya. Aku akan melawan-Nya dan Surga akan
menjadi milikku!"

Maka, Lucifer pergi berkeliling Surga dan ia mengumpulkan banyak malaikat
yang juga tidak suka dianggap kurang penting dibanding Tuhan hingga
terbentuklah suatu pasukan yang besar. Pasukan para malaikat itu menuju
Tahta Allah dan berkata dengan sombongnya: "Kami ini sama pentingnya dengan
Engkau. Mengapa harus Engkau yang menjadi Raja atas Surga dan atas kami?
Kami ini Gagah perkasa dan Elok dan penuh Kebanggaan diri. Kami akan
bertempur melawan Engkau untuk merebut Kerajaan Surga."

Tuhan memandang mereka, dan kemudian Ia berkata: "Lucifer, Aku menganggapmu
sebagai seorang sahabat, dan Aku percaya kepadamu. Bertindaklah bijaksana,
coba pikirkan apa yang hendak engkau lakukan ini."

"Aku sudah memikirkannya," kata Lucifer, "dan lebih baik aku tidak tinggal
di surga sama sekali daripada Engkau harus menjadi Rajaku, demikian juga
pendapat para malaikat yang lain!"

Dan di belakangnya seluruh para malaikat yang memberontak berseru dengan
suara lantang: "Kami berpihak pada Lucifer! Hidup Lucifer! Biarlah ia yang
memerintah atas kami di Surga! KAMI TIDAK MENGHENDAKI TUHAN!"

"Baiklah," kata Tuhan, "jika kalian tidak menghendaki Aku. Tetapi, jika
kalian hendak menguasai Surga, kalian boleh mencobanya jika kalian mau."
Kemudian, Tuhan memanggil Malaikat Agung Mikhael dan memerintahkannya untuk
membentuk Pasukan Balatentara Surgawi yang berada di pihak Tuhan.

Maka terjadilah Pertempuran Besar di Surga antara Mikhael dan para
malaikatnya melawan Lucifer. Lucifer berperang, dan para malaikatnya juga
berperang, tetapi mereka TIDAK DAPAT menang. Mikhael menghalau Lucifer dari
Surga dan Lucifer jatuh ke bawah dan ke bawah dan ke bawah hingga ke neraka.
Semua malaikat pengikutnya dihalau juga bersama dengan Lucifer. Pintu Surga
kemudian ditutup. Sorak-sorai terdengar membahana dari pihak Balatentara
Surgawi yang dipimpin oleh Mikhael: "Surga telah menang! Bersoraklah dan
bergiranglah, hai seluruh malaikat Allah! Allah yang Maha Baik selalu
menang!"

Jadi, sekarang kalian tahu mengapa kita mengatakan dalam doa kita, "Malaikat
Agung St. Mikhael, lindungilah kami dalam peperangan," karena ia adalah
Panglima Perang Balatentara Surgawi.

Tetapi, apa yang kemudian terjadi pada Lucifer dan para malaikat yang
memberontak? Lucifer amat marah dan berang atas kekalahannya dalam
Pertempuran melawan Tuhan. Tidak akan pernah ia melupakannya. Lucifer tidak
pernah lagi diperkenankan masuk ke dalam Surga untuk selama-lamanya. Jadi,
karena Dendam yang mendalam, ia melakukan apa saja untuk membalas Tuhan.

Yang paling mengerikan dari Lucifer adalah rasa IRI-nya. Siapa yang
menurutmu ia cemburui? Kita! Mengapa? Karena ketika Tuhan Yesus disalibkan,
Ia membuka Kerajaan Surga bagi kita agar kita dapat masuk ke dalamnya! Jadi
Lucifer, yang nama lainnya ialah Setan, atau Iblis, amat murka karena kita
yang hanyalah Orang Biasa diperkenankan masuk ke dalam Surga, sedangkan ia,
seorang malaikat Agung, tidak. Jadi, ia dan para malaikatnya (para iblis)
selalu dan selalu berusaha untuk mencegah kita masuk ke dalam Surga. Para
iblis merayu kita dengan pikiran-pikiran jahat, membujuk kita melakukan
perbuatan-perbuatan dosa, semuanya untuk melukai hati Tuhan.

Jadi, kapan saja kalian berniat untuk melakukan atau mengatakan sesuatu yang
jahat, ingatlah akan Pertempuran besar di Surga. Ingatlah bahwa Lucifer
sedang berusaha menghasut kalian untuk berada di pihaknya. Jika kamu
membatalkan niat jahatmu itu, kalian telah menang dan berada di pihak Tuhan.

sumeber :
http://www.gsn-soeki.com/wouw/?koleksi-artikel-utk-semua

MANGKOK TANPA ALAS



Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.

Sang raja menyapa pengemis ini, "Apa yang engkau inginkan dariku?" Si pengemis itu tersenyum dan berkata, "Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba."
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, "Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!"

Maka menjawablah sang pengemis,"Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa."
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis.
Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh
dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat
dari seorang pengemis. "Sudah aku katakan, aku dapat
memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja
yang paling berkuasa dan kaya-raya."
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis
itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah,"Tuanku
dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku
inginkan."

Bukan main! Raja menjadi geram mendengar 'tantangan'
pengemis dihadapannya.
Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut
dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang
ajar ini dengan emas!
Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi
besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang
pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu
tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang
raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk
itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh
perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna
mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu.
Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh
di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, "Sebelum berlalu dari
tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari
apakah mangkuk sedekah ini?"

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, "Mangkuk itu
terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas.
Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut
dalam hidupnya". Ada kegembiraan, gairah memuncak di
hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau
menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah
mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau
dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu.
Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk
dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan,
gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya
tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan..
Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang
keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia
selalu merasa kekurangan." Anak cucumu kelak mengatakan : power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.

Raja itu bertanya lagi, "Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?"
"Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika
engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat
padamu," Ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan
kemudian menghilang.

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT

Based on True Story.
- - -
 
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ketiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak...bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".
Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.
"Anak2ku .... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah....tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian….sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang,kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno.
Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatnokenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..
disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio. kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak Suyatno bercerita.
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"

LILIN


Ada 4 lilin yang menyala.
Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata:
“Aku adalah Damai.”
“Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata:
“Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi.”
“Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:
“Aku adalah Cinta”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.”
“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata:
“Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut,
Janganlah menangis,
selama aku masih ada dan menyala,
kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga
Lilin lainnya:
“Akulah H A R A P A N.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN.
yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

Kesaksian -- Tiga Kali Anne Bertemu Tuhan


Mengenang Anne Satya Adhika

Saat ini Anne Satya Adhika (12)
mungkin sudah bisa melihat wajah Tuhan. Ia sudah memperoleh apa
yang pernah dijanjikan oleh Tuhan
Yesus yang datang dua kali dalam mimpinya. Dalam mimpi itu Tuhan
Yesus berkata akan mengambil dua
benda dari tubuhnya, namun Ia akan mengganti dengan sesuatu yang
paling baik buat Anne. Yang paling
baik bagi puteri pasangan Antonius Yosef Sri Kahono (43) dan
Yohana Fransisca Emy Kusindriati (38)
tiada lain adalah surga! Karena Anne dipanggil Tuhan pada 26
September 2007, setelah melewati
pergulatan panjang dari operasi tumor 3 April 2007 berikut
rangkaian enam kali kemoterapi.
Anne Satya Adhika, terlahir 7 Juni 1995 dengan badan sehat dan
gemuk. Anne yang penurut dan lugu,
menurut ayahandanya adalah anak yang pendiam, namun anehnya Anne
punya banyak teman. Walaupun
terkesan pendiam, Anne pandai merangkai doa bahkan memimpin doa
dengan rangkaian kata-kata yang
dibuatnya sendiri. Kecintaan Anne untuk berdoa juga terbukti
dengan rajinnya Anne ikut ibadat, doa
rosario atau pun misa baik di paroki, maupun di rumah. Di kamar
Anne yang bernuansa pink, tertempel
doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris, menunjukkan kecintaan Anne
pada Tuhan dan keinginannya untuk
belajar bahasa Inggris.

Tingginya semangat belajar Anne dan keinginannya untuk mengetahui sudah terbukti dari prestasi belajar yang ia dapatkan dari
sekolahnya di SD Kanisius Demangan Baru. Beberapa kali Anne
mendapatkan ranking di sekolahnya,
terutama ketika Anne belajar di kelas 1 sampai dengan 3. Di
kelas 6, seperti anak-anak lain yang juga
ingin mempersiapkan ujian, maka Anne mengikuti les-les supaya
memperoleh nilai bagus dalam ujian dan
bisa melanjutkan ke sekolah favorit. "Menjelang ujian, tanpa ada
gejala sakit sebelumnya tubuh Anne
tampak mengurus namun perutnya agak besar. Setelah dicek di RS
Panti Rapih ternyata ada tumor di
bagian perut," terang Bapak Kahono. Kemudian waktu itu dokter
menganjurkan supaya segera dilakukan
operasi. Vonis tersebut membuat pak Kahono dan istri merasa
panik dan stress. Disaat-saat suasana
hati yang tidak enak, orangtua Anne mohon bantuan doa kepada
sanak saudara dan tettangga, maka
malamnya dirumah pak Kahono diadakan doa lintas agama untuk
kekuatan dan kesembuhan Anne, pukul 18.00
doa dari beberapa warga yang beragama Islam, dan pukul 19.00
dilanjutkan doa dari warga yang beragama
Katolik. Ada keinginan untuk mengikuti pengobatan alternatif.
Namun, menurut dokter hal ini hanya
akan memperparah kondisi pasien.
Itu sebabnya tanpa memikirkan masalah biaya, mereka menyetujui
operasi pengangkatan tumor Anne. "Kami
hanya ingin Anne sembuh. Namun, ternyata Tuhan mempunyai rencana
lain untuk Anne dan kami
sekeluarga." jelas Ibu Emy tabah. Ibunda Anne dan Gisela Sotya
Gracia Diwyacita (3,5) ini ternyata
masih harus berjuang untuk membujuk putri sulungnya agar mau
dioperasi.
Namun, ternyata hanya Tuhan Yesus sendiri yang bisa membujuk
Anne. "Malam sebelum dioperasi Anne
bermimpi bertemu Tuhan. Katanya, dia melihat Tuhan Yesus
menungguinya di ruang operasi dan memegangi
tangan kanannya. Jadi, setelah mimpi itu dia pasrah saja
dioperasi." ujar Ibu Emy.
Mimpi itu adalah kali pertama Anne bertemu Tuhan Yesus.
Sebelumnya, Anne belum pernah menceritakan
perjumpaan dengan Tuhan. Namun, Anne sangat suka berdoa. Ia
gemar berdoa rosario dan memimpin doa
spontan. Bahkan setelah ia meninggal orang tuanya menemukan
diari doa Anne yang dibuatnya sejak ia
duduk di kelas 3 SD. "Kami tidak tahu kalau Anne menulis
berbagai doa mulai doa di hari ibu, hari
pahlawan, sampai hari kelahiran Gisela. Dan baru menjelang
saat-saat terakhirnya ia menulis doa untuk
dirinya sendiri," tutur Bapak Kahono. Dalam doanya yang
terakhir, Anne juga sempat memohon berkat
agar kedua orang tuanya sehat dan mempunyai cukup rejeki untuk
membiayai pengobatan di rumah sakit.
Padahal saat itu tidak seorang pun yang memberitahu bahwa kedua
orang tuanya kesulitan menutup biaya
yang tidak sedikit. Dan untunglah sebagian biaya dibantu oleh
perusahaan tempat Pak Kahono bekerja.
Bantuan juga datang dari sanak saudara, juga dari teman-teman di
milis yang bersimpati dengan Pak
Kahono. Namun bantuan itupun belum bisa menutup seluruh biaya
pengobatan yang luar biasa mahalnya.
Maka atas kebaikan perusahaan tempat Pak Kahono bekerja
meminjami uang untuk menutup biaya tersebut,
sedangkan untuk pengembaliannya Pak Kahono harus rela dipotong
gajinya setiap bulan, yang jumlahnya
cukup besar. "Saya tidak tahu berapa tahun potongan gaji itu
akan selesai." kata Pak Kahono. Maka untuk menutup kebutuhan setiap bulannya yang selalu minus pak kahono harus berjuang mencari kerja dimalam
hari diluar perusahaannya. Perjumpaan Anne dengan Tuhan Yesus dalam mimpi ternyata membawa mukjijat bagi kondisi fisik dan
mentalnya. Secara mengejutkan, rekam jantung dan berbagai
pemeriksaan sebelum operasi memungkinkan
bagi terlaksananya operasi. Padahal dua hari sebelumnya, rekam
jantung Anne sangat jelek.

Begitu senangnya Anne berjumpa Tuhan sampai dia bisa menghibur sang
ibu. "Sebelum masuk kamar operasi, Anne
sempat bilang pada saya: Ibu, wajahnya jangan begitu. Senyum
to....da...da. ..." kenang Ibu Emy.
Operasi yang menyita waktu 3 jam 45 menit itupun seperti
mukjizat, karena sebelumnya dokter sempat
memberitahukan bahwa setelah operasi Anne pasti membutuhkan
perawatan di ICU, namun hal ini tidak
terjadi. Tuhan seakan menjawab doa Anne dan keinginan Anne.
Sebelum operasi Anne sempat bilang kepada
Ibunya, "Ibu setelah operasi saya maunya kembali ke kamar ini."
Dan memang benar, setelah operasi,
Anne tidak memerlukan perawatan di ICU. Anne dikembalikan ke
kamar perawatan semula dan dia kelihatan
tegar, tidak merasa sakit.
Pasca operasi dengan semangat hidup yang luar biasa, Anne ngotot
ikut ujian kelulusan sekolah dasar.
"Waktu itu Anne tidak pernah belajar karena sakit dan masuk
rumah sakit. Tapi, syukurlah Anne bisa
lulus ujian kelulusan sekolah dasar dan diterima di SMP Pangudi
Luhur 1 Yogyakarta," kata Bapak
Kahono. Anne pun tetap rajin menyalin pelajaran guna mengejar
ketertinggalannya selama dia harus
mengikuti kemoterapi.
Saat-saat mendampingi kemoterapi Anne, Bapak Kahono dan Ibu Emy
merasakan beban yang sangat berat.
"Setiap bulan, kurang lebih 4 sampai 5 hari kami harus
mendampingi Anne yang pasti merasakan sakit, pusing berat, mual, muntah, dan menggigil sampai tempat tidurnya bergoyang hebat.

Setelah itu, di rumah kadang-kadang Anne susah minum obat." Kata
kedua orangtua Anne. Disaat-saat
Anne menggigil karena efek dari kemoterapi ia selalu bilang pada
ibunya, "Bu...dingin banget, doakan
Anne ya bu...." Kenang ibu Emy sambil menangis. "ia anak yang
tabah, semangat dan selalu ingat pada
Tuhan, saya bisa merasakannya betapa sakitnya orang menjalani
kemoterapi, tetapi saya harus tabah dan
kuat selama mendampingi anak saya".
Di tengah beratnya pendampingan itu, keduanya tidak putus asa.
Meski doa mereka agar sang anak tidak
kesakitan paska kemoterapi tidak dikabulkan Tuhan, mereka terus
berdoa agar Anne disembuhkan. Dengan
kepercayaan penuh mereka membimbing Anne agar terus berpasrah
dan berdoa. Bahkan Pak Kahono juga
rajin berpuasa agar Anne segera sembuh dan Pak Kahono bisa sabar
melayani Anne.
Dari kemoterapi pertama sampai keempat, kondisi fisik Anne
sangat bagus. Meski harus kesakitan
setelah kemoterapi, ia bisa kembali beraktifitas dengan ceria.
Bahkan setelah menjalani kemoterapi ia
antusias untuk masuk sekolah, ia dengan semangat dan senang hati
selalu ingin bersekolah berjumpa dan
belajar bersama-sama dengan teman-temannya. Kali ini tantangan
besar menanti keluarga Kahono karena
kerontokan rambut Anne tidak bisa dicegah. Anne pun mengalami
stres berat. Berbagai cara dilakukan
oleh keluarganya agar rasa percaya diri Anne kembali. Mulai dari
membeli wig sampai jalan-jalan untuk
sekadar makan atau membeli pensil pun dilakoni keluarga ini agar
Anne bisa merasa senang. "Syukur
kepada Allah karena dengan cepat Anne bisa menerima kenyataan
ini, dia sempat stress selama 4 hari,
selalu marah karena hampir setiap hari rambutnya lepas satu per
satu. Kami hanya bisa berdoa kepada
Tuhan agar kami diberi kesabaran dan ketabahan, maka disaat-saat
selesai doa malam atau disaat-saat
kami makan bersama diluar secara pelan-pelan kami mencoba
menjelaskan kepada Anne mengenai kerontokan
rambutnya" kata pak Kahono. "Dan syukur kepada Allah sekali lagi
Anne akhirnya mau mendengarkan dan
mau menerima kenyataan ini".
Setelah kemoterapi ketiga, Anne bermimpi ketemu Tuhan Yesus
lagi. Pada sang ibu, Anne bercerita,"
Ibu, Tuhan datang lagi. Tuhan bilang Dia telah ambil salah satu
organ tubuhku sebanyak dua buah.
Tuhan bilang agar aku tidak khawatir, suatu saat akan diganti
yang lebih baik, tetapi tidak dalam
waktu dekat. Kemudian Tuhan bilang dengan bahasa lain yang tidak
pernah aku mengerti. Tapi aku paham
dengan apa maksud perkataan Tuhan padaku. Bu kira-kira apa ya
organ yang diambil itu?"
Lewat pertemuan kedua ini, akhirnya Tuhan Yesus sendiri yang
menunjukkan pada Anne apa yang terjadi
dalam operasi itu. Mengingat tumor seberat 3,2 kg itu menempel
pada kedua indung telurnya, dokter
memutuskan untuk mengangkat indung telur Anne sekaligus.
Pengangkatan kedua indung telur ini tidak
disampaikan oleh keluarga pada Anne agar dia tidak stress.
Rencananya baru akan disampaikan setelah
dia dewasa karena dia tidak akan bisa punya anak. Namun, justru
Tuhan sendiri yang memberitahukannya
langsung pada Anne.

Perjumpaan Anne yang kedua dengan Tuhan Yesus ini juga menimbulkan perubahan drastis pada dirinya. Menurut cerita keluarga dan para tetangga, setelah kemoterapi ketiga Anne tidak seperti dirinya lagi. Pada seorang anggota keluarganya dia berkata, "Mbak, Anne minta maaf ya kalau ada salah."
Sementara itu, pada kedua orang tuanya ia
sering minta supaya para kerabat diundang makan-makan. Dengan
undangan ini dia seakan berpamitan.
Ketika itu Anne juga ingin sekali bertemu dengan emak Inge dan
oma Maria, mereka berdua adalah
sahabat orangtua Anne yang begitu baik memperhatikan Anne. Namun
sayang keinginan itu tidak bisa
terlaksana, Anne sangat senang sekali dengan pemberian boneka
dari emak Inge dan emak Nancy juga
rosario dari oma Maria, maka Anne sering memeluk boneka dan
memakai rosario disaat-saat Anne opname
di rumah sakit. Dia juga berkesan dengan para suster yang selalu
menjenguknya, suster Gratia, suster
Theresia. Juga romo Agus dan ibu guru Erna yang selalu setia
menemani dan mendampingi Anne sejak
operasi bulan April.

Menjelang kemoterapi ke-6 Anne sebenarnya sudah menolak, bahkan
sempat kirim sms kepada ibunya
"Bu..aku tidak mau dikemo lagi, aku tahu bapak ibu ingin
menyembuhkanku, tapi aku sudah tidak kuat
lagi.." begitu isi dari sms yang ia kirimkan kepada ibunya.
Bahkan Anne sempat kirim sms juga kepada
ibu gurunya "bu tolong aku, aku tidak mau dikemo lagi, kalau ibu
gak mau menolong aku maka kita tidak
akan berjumpa lagi". Dan bagi Kahono hal itu pun sangat
dilematis. Menurut dokter kemoterapi harus
dijalani, "Pak ini kemo terakhir, sayang kalau tidak dijalani,
biar tuntas" begitu kata dokter.
Bahkan ketika ibu Anne menanyakan soal kemoterapi yang ke-6
kepada dokter, maka dokter hanya menjawab
"memang begitu skedulenya bu, harus dijalani". Padahal kondisi
Anne saat itu sangat stress dan bahkan
hasil lab sangat tidak baik, lekosit dan trombosit tutun
drastis.

Namun Anne seakan ingin memakai waktu-waktu terakhirnya untuk menyenangkan semua orang. Ia tidak mau orang tuanya sedih, "Bapak jangan gitu, Bapak jangan sedih ya," ucapnya setiap kali sang ayah nyaris menitikkan air mata. Anne juga sempat membelikan kado ulang tahun bagi temannya di sela kesakitan paska kemoterapi keempat.
Menjelang kemoterapi terakhir, ia sempat momong Gisela bermain di sebuah mall di Yogyakarta. Waktu itu Anne punya keinginan yang tidak bisa ditolak, ia ingin
mengajak adiknya untuk bermain disebuah mall. Ia juga berjuang menyiapkan sepucuk doa "Malaikat Tuhan" yang ditulis rapi untuk kedua orang tuanya. Doa itu belum sempat diajarkan pada orang tuanya karena Tuhan sudah menemuinya untuk yang
ketiga kali.

Hari Selasa sore 25 september pukul 14.20 WIB, Tuhan Yesus
menjumpai Anne yang sedang mengalami masa
kritis. Saat itu Anne selalu meminta bapak dan ibunya untuk
memeluknya. Tiba-tiba Anne minta duduk,
lalu memandang ke arah sudut ruangan. Seperti ketakutan ia
menunjuk ke sudut ruangan dan berkata
dengan nada yang terpatah-patah, "Ibuuu... ka..ta Tuu..han
Yesusss, o..rang yang ma...mau
me...ning..gal itu su..su..lit bernafas.... .bapaaaak. ....ibuuu,
aku ta..kutt.." Anne lalu meminta
agar kedua tangannya dipegang dengan erat oleh kedua
orangtuanya. Ketika itu Anne juga menanyakan
saudara-saudaranya kepada ibunya, "Bu...mana budhe dan pak dhe,
mana mbak vita, mbak Nuke....kok sepi
to" Kenang ibu Emy. Bahkan ketika itu Anne juga menanyakan
adiknya dan keponakannya, katanya "...mana
Marsa, mana Gisela...Gisela mbak Anne mau meninggal... " kenang
pak kahono sambil menitikkan air mata.
Kata-kata Anne seperti itu membuat perasaan orangtua Anne
menjadi tidak karuan. Maka pak Kahono
segera menelepon seluruh sanak saudara untuk datang ke rumah
sakit, dan juga menelepon Romo Agus.
Sore itu juga pada pukul 18.00, Anne menerima sakramen minyak
suci. Ketika upacara pemberkatan minyak
suci berlangsung Anne bisa mengikutinya dengan khidmat, dan
setelah selesai kepada Romo ia masih
berucap, "Terima kasih Romo. Doakan saya ya Romo." Lalu setelah
itu dilanjutkan dengan doa roasio
oleh warga lingkungan dan Anne pun juga bisa mengikuti dengan
tenang.

Mulai jam 21.00 - 03.30 Anne tidak bisa tidur, sesekali minta
minum karena haus sekali, tetapi ketika
diberi minum selalu dikeluarkan lagi. Orangtua anne sehari tidak
tidur menunggui Anne.
Keesokan paginya, hari Rabu, dokter yang memeriksa Anne bilang
bahwa Anne membutuhkan cuci darah
karena kondisinya semakin menurun. Namun kata dokter melihat
kondisi seperti ini cuci darah tidak
berani. Pukul 9 pagi, Anne mengalami masa kritis lagi. Meski
ketakutan akan berpisah dengan
orang-orang terkasih dan terutama adik yang dinantinya tujuh
tahun lamanya Anne manut saja mengikuti
bimbingan doa dari sang ayah. Pada saat itu, pak Kahono
membimbing Anne untuk berdoa Bapa Kami yang
diikuti Anne dengan pelan-pelan. Anne minta air karena merasa
haus sekali. Tapi Anne sudah tidak bisa
menelan lagi. Anne hanya minta dipeluk kedua orangtuanya sambil
sesekali memanggil orangtuanya dengan
nada pelan "bapaaaak... ....ibuuuuu. ....." tangan Anne begitu
kuat memegang tangan kedua orangtuanya,
tangan kanan memegang tangan ibunya, sedang tangan kiri minta
dipegang bapaknya. Pada saat itu, Papa
Anne membimbing Anne untuk berdoa. Sekali lagi pak Kahono
membimbing Anne untuk berdoa dan Anne pun
bisa mngikuti doa walaupun dengan suara yang pelan dan
terpatah-patah. "Ya Tu...han, Ampuni hamba-Mu
Anne. Pe....ganglah tangan Anne ke dalam pangkuan-Mu. ..
tuntunlah hamba-Mu kedalam surga" Dan pada
waktu itu, kedua orangtuanya sempat minta maaf juga. "Anne,
bapak ibu minta maaf ya, bapak dan ibu
banyak dosa dan salah pada Anne." Anne pun menjawab, "Aku ituuu
sudah me..maaf..kan. " Saat itu juga
Anne sempat minta maaf kepada bapak dan ibunya. "Anne juga ya bu
minta maaf.." Kahono sambil menangis
menjawab, "Anne gak punya salah. Bapak dan ibu sudah memaafkan".
Setelah itu Anne memanggil Bapak Ibu-nya sekali lagi dan
memegang dengan kuat tangan orangtua itu.
Bapak Kahono pun berdoa untuk yang terakhir pada Tuhan, "Tuhan
yang Maha Kasih, Tuhan yang Maha
Agung, seandainya Anne harus Kau panggil, maka tuntunlah dan
peganglah Anne ke dalam pangkuan-Mu di
surga. Tapi apabila Engkau menghendaki mukjizat, kami siap untuk
membimbingnya kembali." Sekali lagi
Anne berkata "Ba..paaak.. ibuuuu" Perlahan pegangan Anne terasa
semakin mengendur dan akhirnya Anne
pergi memenuhi panggilan Tuhannya. Saat itu kedua orangtua Anne
terasa lemas sekali, mau bicarapun
tidak bisa, hanya cucuran airmata yang ada. Para suster berusaha
untuk memompa paru-paru Anne tetapi
nampaknya sia-sia karena Anne memang sudah tiada......orangtua
anne menangis habis-habisan sambil
berdoa memohon ampun kepada Sang Maha Suci...
"Rasa menyesal, rasa kecewa, dan marah pada dokter berbaur
menjadi satu saat itu." ujar pak Kahono.
Ketika para sahabat pada datang dan bertanya "Anne sakit apa,
kok meninggal, kemarin khan masih
sehat" . Dengan nada kesal pak Kahono pun menjawab "Anne
meninggal karena di kemoterapi". Rasa kesal
dan kecewa masih terlihat diwajah pak Kahono saat itu, untunglah
banyak sahabat, saudara dan juga
romo mencoba menenangkan hati pak Kahono.
"Selamat jalan anakku, selamat jalan Anne.....banyak kenangan
indah bersamamu yang tidak akan aku
lupakan selamanya, engkau begitu baik, bersemangat dan bahkan
mau maaf memaafkan menjelang engkau
pergi. Sekali lagi maafkan segala kesalahan bapak ibu
nak....damai dan bahagia di Surga Amin" begitu
kata pak Kahono
Begitulah Anne Satya Adhika menyelesaikan peziarahannya di bumi
dalam doa.


Kisah dan percakapan tersebut diatas adalah kisah nyata yang sebenarnya, tanpa mengurangi dan menambahi sedikitpun. Pak Kahono bercerita apa adanya, ia memang ingin berbagi pengalaman iman kepada kita semua. "Saya ingin sharing
pengalaman pribadi dan iman kepada semua sahabat tanpa kecuali,
bahwa mendampingi seseorang yang
sedang sakit terlebih orang yang mau meninggal dunia itu
sangat-sangat penting" kata pak Kahono.


"Sekali lagi, mudah-mudahan sharing ini berguna..." lanjutnya.
Catatan:
Kisah ini ditulis dari hasil wawancara orangtua Anne dengan
seorang teman wartawan pada tanggak 29
September 2007 (tiga hari setelah Anne tiada) dan dilanjutkan
pada awal bulan Nopember setelah 40
hari peringatan Anne. Artikel ini telah dimuat di dua media,
yaitu majalah Utusan terbit bulan
Desember 2007, media Pondok Renungan, dan Sabda serta salah satu
media di jakarta yang terbit Januari
2008.

Kisah Alergi Hidup


Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya : “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apa pun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”.
Sang Guru tersenyum : “Oh, kamu sakit”.
“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati”.
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan :
“Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama “Alergi Hidup”. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ?
Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita”.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku”, kata sang Guru.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi”, pria itu menolak tawaran sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?”, tanya Guru.
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, jawab pria itu lagi.
“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini… Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang”.

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis.
Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu”
Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi.
Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata : “Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku sayang”.
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?”
Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran,
bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu”.
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami”.
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi.
Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh.
Apabila kau hidup dalam kekinian,
Apabila kau hidup dengan kesadaran
bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja,
maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan.

Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.

Jadilah lembut, selembut air.
Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan.

Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan.
Kau akan merasa hidup.

Itulah rahasia kehidupan.
Itulah kunci kebahagiaan.
Itulah jalan menuju ketenangan”.
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !

LETAK KEKUATAN



Ada kekuatan di dalam kasih,
dan orang yang sanggup mengasihi adalah orang yang kuat
karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan diri sendiri.

Ada kekuatan dalam sukacita,
dan orang yang bersukacita adalah orang yang kuat
karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.

Ada kekuatan di dalam damai sejahtera,
dan orang yang dirinya penuh damai sejahtera adalah orang yang kuat
karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak mudah diombang-ambingkan.

Ada kekuatan di dalam kesabaran,
dan orang yang sabar adalah orang yang kuat
karena ia sanggup menanggung segala sesuatu
dan ia tidak pernah merasa disakiti.

Ada kekuatan di dalam kemurahan,
dan orang yang murah hati adalah orang yang kuat
karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya
untuk melakukan yang baik bagi sesamanya.

Ada kekuatan di dalam kebaikan,
dan orang yang baik adalah orang yang kuat
karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.

Ada kekuatan di dalam kesetiaan,
dan orang yang setia adalah orang yang kuat
karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi
dengan kesetiaannya kepada Allah dan sesama.

Ada kekuatan di dalam kelemahlembutan,
dan orang yang lemah lembut adalah orang yang kuat
karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.

Ada kekuatan di dalam penguasaan diri,
dan orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang kuat
karena ia bisa mengendalikan segala nafsu keduniawian.

Disitulah semua letak-letak dimana kekuatan sejati berada.
Dan sadarlah bahwa kita juga memiliki cukup kekuatan
untuk mengatasi segala masalah kita.
Di manapun juga, seberat dan serumit apapun juga.

" Tetapi buah Roh ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5 : 22-23)